Karma Prosecutor

Karma Prosecutor
Andra


__ADS_3

Awal tahun ajaran baru ini dimulai dengan beberapa acara untuk menyambut ulang tahun sekolah. Sekolah Menengah Denpa sedang memasuki usia ke 54. Para guru antusias menyiapkan beberapa perlombaan dan secara langsung artinya kegiatan belajar mengajar tidak akan berlangsung normal. Kami menunggu buku-buku yang akan menunjang pembelajaran kami ditambah mempersiapkan nama-nama peserta lomba. Lomba yang akan dilaksanakan adalah tarik tambang, menyanyi berpasangan, dan menghias kelas. Puncak acara ini adalah jalan santai dan konser musik.


Pengurus kelas mulai gusar mencari ide termasuk Namira. Andra dan Maheswari memilih untuk menentukan ide menghias kelas terlebih dahulu disusul dengan lomba-lomba lainnya. Mengingat bahwa menghias kelas tidak dapat dilakukan hanya semalam, maka mulai hari ini prosesnya harus dicicil.


"Aku berharap kita bisa memasukkan pantai ke kelas." Ucap Maheswari girang.


"Maksudnya?" Andra masih kurang paham dengan ide Maheswari.


"Di depan papan tulis kita taburkan pasir pantai. Kalau perlu satu kelas kita isi pasir pantai dan kerang." Lanjutnya masih bersemangat.


Namira terkesan tidak tertarik dan Andra menangkap itu dari wajahnya.


"Kamu ada ide lain Namira?" tanyanya.

__ADS_1


Namira hanya menggeleng. Ia tidak mau ambil pusing pada perlombaan sekolah. Ia hanya tidak habis pikir bagaimana cara membersihkan kelas nantinya dan bagaimana mengangkut pasir pantai ke kelasnya.


"Oke kalau tidak ada ide lain, kita tanya teman-teman di kelas. Teman-teman, minta waktunya sebentar. Bagaimana menurut


kalian kalau kelas kita dihias seperti pantai?" ucap Andra lantang.


Sontak teman-teman setuju karena itu artinya mereka akan beramai-ramai ke pantai untuk mencari pasir. Ada alasan untuk ijin keluar sekolah dan pergi ke pantai mengingat kelas lain pun menjadikan menghias ini sebagai alasan ijin keluar.


"Aku jaga kelas aja. Atau aku menata kelas saja. Jadi begitu kalian semua kembali kalian tinggal meletakkan pasir-pasir itu di tempat yang sudah disiapkan seperti di depan papan tulis dan di sela-sela meja." Tolak Namira.


Andra menatap Namira heran. Sebenarnya tidak ada alasan khusus baginya saat menolak ajakan Andra. Namira hanya sedang malas dan ia tidak suka berjemur di pantai apalagi untuk mengumpulkan pasir. Andra pun akhirnya berangkat dengan Maheswari disusul dengan teman-teman lain yang berboncengan.


Namira melihat ponselnya dan menemukan pesan dari Andra. Entah sejak kapan Andra mengetahui nomor ponselnya.

__ADS_1


Namira, kami di pantai sambil membahas peserta lomba menyanyi pasangan dan tarik tambang. Kami sepakat kamu dan Mika yang akan mengikuti lomba bernyanyi.


Namira cukup kaget hingga bingung harus menjawab apa. Ia pun masih dengan wajah tanpa ekspresinya memasukkan ponsel ke saku seragam sekolahnya.


Sekembalinya teman-teman dari pantai, mereka mulai menghias kelas. Andra masih menatap Namira yang juga menatapnya tanpa ekspresi.


"Kenapa?" tanya Namira.


"Kamu sudah baca pesanku?" Andra berbalik bertanya.


Namira mengangguk. Ia pun berkata pada Andra bahwa ia akan mulai berlatih dengan Mika. Andra tersenyum penuh makna. Andra mulai berpikir bahwa Namira adalah wanita yang unik karena tidak berekspresi terhadap apapun. Ia berjalan tanpa menyadari bahwa Rosi sedang menatapnya dan Namira bergantian. Ada sesuatu dibalik tatapannya dan itu hanya diketahui oleh Rosi.


__ADS_1


__ADS_2