Karma Prosecutor

Karma Prosecutor
KP 2591


__ADS_3

Andra menuju ke ruang OSIS sehari sebelum libur hari tenang. Ia tidak peduli dengan reaksi anggota OSIS lainnya. Langkahnya tertahan saat Kinan mencegahnya.


"Jangan gegabah! Akan ada celah untuk tau semuanya!" tegas Kinan. Andra yang tadinya tersulut emosi tiba-tiba mengalihkan pandangan kepada seseorang dari kelas 3IKMH3. Ia mengambil langkah cepat menuju ketempat pria itu berdiri.


"Kamu!" Andra langsung meninju pria itu. Ia tidak ambruk dan hanya bergeser sedikit dari tempatnya berdiri. Badannya yang tegap sekalipun kalah tinggi dari Andra ternyata cukup kuat untuk membalas tinju Andra.


"Apa urusanmu memukulku?" tanyanya penuh emosi.


"Apa yang kamu harapkan dari tuntutanmu?" Tanya Andra sambil mencengkram kerah pria itu. Saat itu adalah jam pulang sekolah. Beberapa anak melihat pemandangan itu dan Namira juga ikut mendengar keributan.


Andra berkelahi dengan Yana.


Yana berbisik di telinga Andra,


"Sudah terjadi. Kamu bisa apa?"


Andra langsung melepas cengkramannya di kerah Yana.


"Aku muak melihat orang yang tidak mau introspeksi diri. Seenaknya menyalahkan orang lain. Dasar iblis!" ucap Andra.


"Aku iblis? Siapa yang membuat aku jadi iblis? bahkan semesta tau aku orang yang berhati malaikat. Jika tidak, bagaimana mungkin tuntutanku terkabul?" Yana berkata dengan nada merendahkan.


"Tidak. Semesta pasti mendapat imbalan darimu. Tidak semua orang tau caranya berbuat seperti yang kamu lakukan saat ini. Terlebih siapa itu penanggung jawab? mungkin mereka iblis." balas Andra.


Yana melihat Namira yang nampak bingung di depan pintu kelasnya. Ia tidak mengerti apa yang sedang diributkan keduanya.


Tiba-tiba Yana menundukkan kepala dan menenggelamkannya di dinding. Ia menangis. Andra meninggalkannya sendiri. Entah apa yang terjadi pada pria itu hingga menangis.


"Ah dia nangis lagi!" ucap Indi yang tiba-tiba muncul di sebelah Namira.


"Kenapa kamu mengatakan Lagi?" tanya Namira.


"Hei, aku satu bimbingan belajar sama dia. Kamu pun sama kan?" tanya Indi.


"Iya tapi kan kita tidak sekelas dengan dia." Sahut Namira.


"Hei, dia sering datang sebelum kelasnya mulai. Saat memperhatikanmu, dia pasti menangis seperti itu." Jawab Indi.


"Aku?" Namira menunjuk dirinya.


"Iya. Aku sering memperhatikan. Kadang aku bilang sama dia untuk bicara sama kamu daripada menangis. Dia jawab katanya kamu pasti membenci dia. Gitu." Indi menaikkan kedua bahunya. Gadis ini sepertinya menunjukkan ketidakpahamannya.


"Kenapa kamu tidak cerita ke aku?" tanya Namira dengan nada kesal.


"Ah ngapain cerita. Aku tidak mau kamu berpikir dia psikopat yang membuntuti kamu. Nanti malah tidak konsen belajar." Jelas Indi. Namira terdiam. Kenapa Yana bisa berpikir bahwa ia membencinya?

__ADS_1


***


Namira beralih mencari Bani. Ia tidak peduli dengan pertengkaran itu. Ini hari terakhir sebelum libur tenang. Ia harus menghabiskan waktu yang tersisa dengan baik.


"Bani!" Sapa Namira. Pria itu hanya tersenyum dan kembali menatap ponselnya.


"Kamu lagi banyak pulsa? Tumben kirim pesan berkali-kali." Selidik Namira.


"Ini temanku dulu sewaktu di sekolah menengah." Jawabnya datar.


Namira hanya mengiyakan. Tiba-tiba Andra datang dan menarik tangan Namira.


"Aku ada perlu dengan pacarmu. Pergilah dulu dengan Kinan."


Hal ini membuat Namira kaget. Ada apa dengan Andra? barusan saja berkelahi dengan Yana dan sekarang mengincar Bani? Tapi melihat Andra yang seperti ini membuat nyali Namira ciut. Ia menurut dan menyusul Kinan yang sedari tadi mencari jejak Arman di dekat tangga lantai 2.


Jauh dari Namira, Andra berdiri tegak menghadap Bani yang masih serius dengan ponselnya.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanyanya.


Bani menghela nafas dan menatap Andra kesal.


"Dari sekian banyak orang, baru kali ini ada yang bertanya siapa aku."


"Tidak usah berputar-putar. Siapa kamu dan apa tugasmu di OSIS?" Andra masih menatap Bani tajam dengan pertanyaannya.


"Aku tanya SIAPA KAMU!" bentak Andra.


"Aku Bani." Ia masih menjawab santai.


"Sepertinya kamu bukan manusia. Kamu bermain-main dengan Namira." Andra menimpali tanggapan Bani.


"Terserah. Apakah Namira tidak pernah bermain-main dengan orang lain termasuk denganmu? Apakah kamu juga tidak pernah mempermainkan orang? munafik." Tegas Bani. Ia beranjak pergi namun ditahan oleh Andra.


"Hentikan ini semua. Kamu dan antek-antekmu bukan sebuah pengadilan yang adil." Pinta Andra.


"Lalu kamu pikir Namira akan memilihmu? Cari dia 2 tahun kemudian. Mungkin saat itu dia memilihmu." Ejek Bani.


"Baik. Akhirnya kamu terpancing. Kamulah KP 20591." Andra tertawa. Bani tidak memperdulikannya.


"Aku sudah ada klien baru. Sangat sibuk sekali. Aku pamit dulu. Selamat ujian." Ujar Bani. Andra terdiam dan duduk di tempat Bani terduduk tadi. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sebenarnya ini bukan tentang Namira saja tapi nasib semua orang termasuk dirinya. Ia tidak percaya di dunia ini terdapat hal seperti ini. Bahkan berdampingan dengan makhluk astral tidak semenyeramkan ini.


Namira muncul bersama Kinan.


"Dimana Bani?" tanyanya. Andra tidak menjawab.

__ADS_1


"Andra, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Namira lagi.


"Apa kamu benar-benar tidak curiga pada Bani?" Andra mendongakkan kepalanya menatap Namira yang berdiri.


"Sejak dia mengatakan terpaksa, aku memang merasa dia aneh. Ah entahlah. Aku tidak tau apakah aku masih suka atau tidak dengannya." Jawab Namira.


Kinan dipanggil oleh Arman. Ia pun menyusul pacarnya tersebut sekaligus mencari tau arti KP seperti yang diutarakan Andra kemarin. Kini hanya tinggal Namira dan Andra. Tiba-tiba Andra menepuk pundak Namira.


"Fokuslah pada ujian." Ucapnya.


Gadis itu mengangguk. Andra tiba-tiba menggenggam tangannya tanpa berkata apa-apa dan bahkan tidak memandang ke arahnya.


***


Beberapa hari di masa libur tenang ini Bani kembali berulah dengan mengabaikan pesan-pesan Namira. Gadis ini sungguh telah lelah memikirkan sikap Bani yang tidak jelas. Dengan segala kegalauannya, ia mencoba bermain media sosial. Ia mencari nama Bani dan ternyata menemukannya dengan nama lain. Terhubung denga Riyan dan Arman, ia dengan mudah dapat ditemukan oleh Namira dengan nama 2591.


**2591 ke Maesti


Hai. Lama tidak jumpa. Bagaimana kabarmu?


Maesti ke 2591


Baik. Maaf yang dulu. Kita mulai dari awal.


2591 ke Maesti


Oh nanti aku dihantui temanku.


Maesti ke 2591


Salah dia karena memaksakan**.


Semua komunikasi ini terjadi sejak beberapa hari lalu. Inikah alasan Bani tidak peduli dengan Namira?


Namira sangat kesal. Ia mengingat ingat kembali jika foto wanita itu tidak ada di dompet Bani. Ia mulai menelusuri kejadian mencurigakan yang dilakukan Bani. Nomor ponsel seseorang yang menarik perhatian Bani saat menjenguk rekannya. Ia mencoba mengirim pesan.


Namira : Apakah ini Maesti?


Maesti: iya, ini siapa?


Namira: Salam kenal aku pacar Bani


Maesti: Ada apa?


Namira: tolong untuk memahami posisiku sebagai pacar. Tolong setidaknya tidak menghubunginya secara intens.

__ADS_1


Maesti: Kalau pacarmu lebih nyaman dengan orang lain, artinya kamu tidak memberinya kenyamanan.


Balasan Maesti tersebut sontak membuatnya marah.


__ADS_2