
Wanita yang tidak terlalu tinggi, berisi, dan berkulit agak gelap mengiringi langkah Namira. Ia masih saja dengan penutup telinganya dan entah mendengarkan musik aliran apa. Wanita ini bernama Agustina dan dia kerap bergaul dengan sosialita sekolah. Tak heran jika apapun yang ia kenakan mengandung merk terkenal ditambah lagi gaya pakaian seragamnya yang tentunya dimodifikasi sedemikian rupa. Berjalan bersama Agustina sebenarnya membuat Namira tidak nyaman. Namun daripada harus berjalan sendiri di tengah hiruk pikuk adik kelas yang sama sekali tidak ia kenal, berjalan bersama terasa cukup baik.
"Aduh, males banget sih. Kenapa sih mereka ngomel terus? Iya iyaa.. aku akan ambil sampah didekatmu!" tiba-tiba Agustina berteriak. Namira cukup terkejut dengan itu. Akhirnya Agustina memungut sampah di pinggir sebuah pohon besar.
"Sudah kan?" ucapnya sambil memelototi pohon itu. Namira hanya menatapnya tanpa berkata-kata.
"Itulah aku selalu membawa benda ini kemana-kemana." celetuk Agustina sambil menyentuh headset nya.
Namira baru menyadari bahwa Agustina adalah suku Astral. Wanita ini selalu mencoba nampak normal selayaknya suku Ismi. Entahlah, mungkin di pulau-pulau lain sesuatu seperti di pulau ini tidak pernah terjadi.
"Males rasanya mendengar mereka protes ini dan itu. Tumbuhan memerlukan manusia juga kan? Bukan hanya kita yang memerlukan mereka. Hewan pun begitu. Kadang semakin kita memanjakannya, mereka melunjak." terang Agustina.
Namira tidak menanggapi apapun karena ia tidak berhak berkomentar soal ini.
"Lihat yang bening-bening saja yuk. Namira, kamu punya pacar?" tanya Agustina lagi.
Namira menggeleng tanpa ekspresi.
"Aku carikan pacar ya. Hm.. gimana kalau yang itu? yang juga menggunakan penutup telinga?" usulnya girang.
Pandangan Namira terpaku pada sosok pria tinggi dengan tubuh agak kurus yang terpaku pada ponselnya sambil menggunakan headset. Tampan, cuek, dan sepertinya sempurna. Walaupun postur tubuhnya tidak setegap Andra, pria ini memiliki kharismanya tersendiri. Tanpa sadar Namira menganggukkan kepalanya pada Agustina.
__ADS_1
"Hei.. kamu... kamu yang pake headset! siapa namamu?" Agustina mulai berteriak-teriak membuat banyak orang meliriknya.
"Saya kak?" ucap seorang pria di sebelah pria tampan tadi. Ia bertubuh kecil dan lebih pendek dari pria yang dimaksud Namira. Ia memiliki rambut landak yang berdiri di beberapa sisi.
"Iya kamu. Temenku mau kenalan nih. Namamu siapa?" Agustina kembali bertanya.
"Saya Rian kak." ucapnya malu-malu.
Namira terlalu malu untuk menghampiri mereka. Apalagi pria tampan yang dimaksud sedang menatap Namira. Dengan cepat akhirnya ia menyusul Agustina dan menarik lengannya.
"Bukan dia. Sebelahnya." ucap Namira.
"Bukan kamu. Teman di sebelahmu." ralatnya.
Rian menyenggol punggung tangan pria tampan itu. Namira masih penuh tanda tanya dan bertingkah seperti orang bodoh. Pria itu memilih pergi dan tidak menghiraukan senggolan temannya.
"Eh, sombong banget. Ini senior lagi ngomong!" teriak Agustina.
"Kak, maaf, dia mungkin tidak dengar. Dia menyetel musiknya dengan keras." sela Rian dan seketika ia juga memilih kabur.
Namira pun juga memilih kabur meninggalkan Agustina. Ia terlalu malu mendapatkan penolakan seperti itu. Namira berjalan dengan cepat tanpa berpikir memungut sampah lagi.
__ADS_1
"Namira? ini minum untukmu." Andra tiba-tiba muncul dari sisi kiri Namira.
"Terima kasih." Ucap Namira. Ia pun langsung meminumnya.
"Aku mencari-cari teman-teman yang belum mendapatkan minum. Kamu mau bantu aku? Sebenarnya ini tugasmu kan? Ini termasuk dari anggaran kelas." Lanjut Andra sambil menoleh ke arah Namira sebanyak 45 derajat.
"Maaf. Aku tidak tau. Aku bantu ya. Kita berpencar?" tanya Namira lagi.
"Tidak usah. Aku bawa air mineralnya karena ini berat. Nanti ketika kamu lihat teman sekelas kita yang belum mendapatkan minum, kamu berlari ke arah mereka sambil membawa ini seperlunya ya." terang Andra. Namira pun mengangguk. Seperti itulah puncak acara ulang tahun sekolah berlangsung yang kemudian disusul oleh pengumuman pemenang lomba. Dari ketiga lomba, kelas Namira hanya memenangkan lomba bernyanyi berpasangan. Saat ia dan Andra menerima hadiah di atas panggung, pria tampan itu sedang di bawah panggung menatapnya. Mereka saling menatap cukup lama hingga para pemenang diminta kembali turun setelah menerima hadiah.
"Hati-hati turunnya." Ucapan Andra membuyarkan lamunan Namira.
Semua ini gara-gara Agustina yang berniat mencarikan pacar untuk Namira. Menyebalkan! gerutu Namira dalam hatinya.
agustina
suku Astral
berkulit gelap, hobi dandan dan bergaul dengan sosialita. Pecinta barang-barang bermerk mahal. Ia tidak terlalu tinggi dengan postur tubuh berisi. Terlalu blak-blakan.
__ADS_1