Karma Prosecutor

Karma Prosecutor
Yana


__ADS_3

Kelas 1-8. Lelaki tinggi tegap hitam manis dengan lesung pipinya berjalan memasuki kelas. Ia adalah anggota persatuan baris berbaris, dan juga anggota silat. Sudah bisa dibayangkan bagaimana postur badannya. Ia manis, sayangnya kurang percaya diri. Cukup pandai hanya saja tidak mau menunjukkan kepandaiannya. Oleh sebab itu guru-guru tidak banyak yang memberikannya nilai tambah karena ketika sesi tanya jawab ia memilih diam. Lingkungannya mungkin hanya sekitar aktivitasnya sehari-hari. Tidak ada teman, dan tidak heran jika ia tidak memiliki ponsel. Dapat dikatakan hanya dialah yang tidak punua ponsel. Anehnya, jika dikatakan culun, ia sebenarnya tidak culun. Tampang berkacamata yang identik dengan anak pintar juga tidak dimilikinya. Kebaikannya bak malaikat karena selalu beramah tamah dengan tanaman dan tumbuhan di sekolah. Ia gemar berbagi makanan dengan mereka. Lelaki itu bernama Yana. Ia adalah seorang suku astral. Tumbuh sebagai anak tunggal, entah apa yang membuatnya berhati-hati dalam menjalani hidup. Aktivitasnya di kelas biasa saja karena tidak nampak menonjol. Kelompok-kelompok dalam studi kasus pun tidak membuatnya bersosialisasi. Ia memilih menjadi pengetik atau bahkan bekerja sendiri namun tetap memasukkan nama teman-teman satu kelompoknya. Semua menyenangi kebaikannya. Bahkan Kinan, yang saat itu menjadi teman sebangku Namira pun juga merasa iba pada Yana.


Berhubung Kinan dan Namira akrab, ia mengajak Namira untuk berteman dengan Yana. Pertemanan itu lama-lama membuktikan bahwa Yana tidak sependiam kelihatannya. Berbeda dengan Kinan yang blak-blakan soal apa yang ia suka dan tidak dari Yana, Namira cenderung diam dan menghargai Yana. Istilah pertemanan antara pria dan wanita masih berlaku bagi mereka. Lama kelamaan Kinan sibuk dengan dunia Jurnalismenya yang merupakan ekstra kurikuler yang ia ikuti. Namira dan Yana lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Tentu saja Namira juga masih memiliki teman-teman yang lain, namun untuk hal-hal berbau komputer, ia akan mencari Yana sebagai teman diskusi.


"Tugas mengetik bagian ini bagaimana cara membuatnya ya?" Namira menanyakan itu pada Yana.


"Ke rumahku gimana? Nanti sore aku ajari." Ia bersemangat. Namira pun mau-mau saja karena ia memang sedang membutuhkan ilmu itu agar tugas dari guru komputer segera selesai.


"Boleh. Pulang sekolah saja langsung bagaimana? Tapi aku agak risi kesana sendiri. Aku ajak Kinan ya? Dia juga pasti belum membuat tugas ini." Jawab Namira.


"Oke. Terserah saja. Memangnya kenapa kalau kamu sendirian? Kita kan teman. Baru sekali ini ada teman perempuan ke rumahku." Jawabnya.

__ADS_1


Berhubung Yana mendesaknya, akhirnya ia menyetujuinya. Pulang sekolah ia mengikuti Yana dari belakang. Sampailah ia di bangunan dengan pagar tinggi.


"Ayo masuk!" ajak Yana. Pemandangan di sekitar rumah Yana adalah sawah. Rumah itu terang benderang dengan pencahayaan matahari. Keadaan dalam rumah sepi, membuat Namira batal melangkah.


"Ayo masuk! ayah ibuku kerja. Ada kakekku di rumah." Ucap Yana dan ia segera menuju lantai dua sambil mengajak Namira. Rumahnya cukup rapi. Sudah bisa dipastikan Yana menyukai kebersihan. Kamarnya pun rapi. Namun untungnya ruang komputer berada di luar kamarnya.


"Kamu hidupin dulu komputernya. Aku siapin makanan dan minuman." Ia tersenyum. Namira mengangguk. Ketika komputer sudah hidup, wallpaper tokoh kartun kegemaran Namira pun muncul. Sungguh senang rasanya melihat tokoh tersebut dengan penampilan yang berbeda dari di film nya. Ketika Yana datang membawa makanan dan minuman, Namira langsung memburunya dengan berbagai pertanyaan.


"Eh, tugasnya." Celetuk Namira.


"Jadi mau dibuat sekarang atau bagaimana?" tanya Yana lagi.

__ADS_1


"Bisa tolong ajari langkah-langkahnya saja? aku harus cepat pulang."


Yana kemudian dengan sigap mengajari dan Namira mulai mencatat.


"Kalau nanti tidak bisa, biar aku saja yang buatkan tugasmu." Ujar Yana.


"Wah jangan dong. Nanti aku tidak pintar-pintar." Cegah Namira.


"Kamu buat saja dulu, kalau tidak sempurna biar aku yang sempurnakan." Celoteh Yana lagi. Namira akhirnya mengangguk.


"Oiya, kalau mau gambar kartun tadi aku kasi besok ya file nya." Lanjut Yana seolah terus-terusan melarang Namira pulang. Pada akhirnya Namira pamit.

__ADS_1


Keesokan harinya Yana mulai lebih bersemangat. Hari demi hari dilaluinya dengan gembira. Entah bagaimana ceritanya. ia dan Namira menjadi semakin akrab. Bertukar cerita, isi buku harian, hingga berceloteh mengenai kemungkinan akhir dari kartun yang mereka sukai. Tidak ada satu pun yang mengira mereka akan menjadi lebih dari seorang teman. Perlahan teman-teman di kelas mulai membuka diri dengan Yana dan merasa ia anak yang menyenangkan. Namira juga tidak segan mengungkapkan jika ia menyukai Darma pada Yana. Sebagai teman yang baik, Yana pun kemudian hanya mengangguk setuju karena Darma memang pria yang tampan. Tak hanya itu, Darma juga terbilang kaya dan populer. Akhir semester hampir tiba. Setelah hampir satu semester Yana dekat dengan Namira, kini ia harus siap menghadapi kenyataan bahwa kemungkinan di kelas 2 nanti mereka tak akan sekelas lagi. Tiba-tiba pikirannya mulai panik. Perasaan apakah ini? Kenapa ia merasa tidak rela berjauhan dengan Namira atau membayangkan kehidupan baru Namira di kelas lain? ia bahkan tidak akan bisa memantau pergerakan Namira lagi. Kepanikan ini membuatnya mengambil sebuah keputusan.


__ADS_2