Karma Prosecutor

Karma Prosecutor
Namira dan Bani


__ADS_3

Hari-hari dilalui Bani dan Namira dengan indah. Liburan Bulan baru besok akan dimulai. Bani akan pergi menemui neneknya di pulau Je sedangkan Namira juga akan menemui neneknya di pulau Te. Sebelum berangkat, mereka bertukar pesan.


Bani, hati-hati di jalan.


pesan dikirim oleh Namira.


Siap. Kamu hati-hati juga ya.


Balas Bani


Perjalanan cukup panjang karena arus lalu lintas yang padat. Bahkan untuk mengantri kapal laut menuju Pulau Je sebelum akhirnya tiba di pulau Te ternyata berlangsung hingga 3 jam.


Bani, aku masih di pelabuhan. Sedang antri kapal laut. Aku dan keluargaku di sini sudah satu jam. (Namira mengirim pesan)


Oh ya? aku juga di pelabuhan. Mobil keluargamu di sebelah mana? ayo kita bertemu. (Bani membalas)


Namira pun keluar dari mobil tapi ia tidak berani melangkah jauh. Tersesat jika nyatanya mobil orang tuanya telah memasuki kapal tentu akan membuat masalah baru.


Mobil kami sebentar lagi akan memasuki kapal. Ya karena kami di sini sudah satu jam lebih. (balas Namira)


Oh, mobil keluargaku masih di antrian belakang. Kami tiba sekitar 30 menit lalu. (balas Bani).


Akhirnya Namira menaiki kapal dan tiba di Pulau Je. Ia tidak mengabari Bani. Perjalanannya masih berlanjut satu hari untuk menuju ke pelabuhan lainnya sebelum menuju pulau Te.


Malam harinya, ayah Namira memilih tidak menginap. Ia terus saja menyetir dan mencari santapan malam. Tepat saat itu sebuah mobil mengalami kecelakaan hingga terbakar. Namira teringat pada Bani. Jam 10 malam. Ia dan Bani belum bertukar pesan lagi.


Bani, apakah kamu sudah sampai? Aku melihat kecelakaan. Semoga kita semua selamat sampai tujuan maupun kembali ke tujuan.


Tidak lama kemudian Bani membalas.


Namira, kamu belum tidur? aku sudah di pulau Je. Jangan berpikir aneh-aneh ya. Selamat liburan!


Namira tersenyum membaca pesan Bani. Syukurlah jika lelaki yang ia sukai itu baik-baik saja. Liburan ke pulau Te kali ini sangat menyenangkan. Sekalipun ia tidak terlalu menyukai lingkungan tempat tinggal neneknya, kini ia memiliki kegiatan lain yang dapat membuatnya senang yaitu menghubungi Bani.


Hari berganti. Namira masih di perjalanan. Pesan muncul dari ponselnya.


Namira, sudah sampai dimana? (Bani mengirim pesan)

__ADS_1


Aku masih di jalan. Rasanya lelah sekali.


Balas Namira.


Bani pun membalas.


Iya, jauh sekali ya pulau Te itu. Pantat bisa berakar.


Namira hanya tertawa membaca pesan Bani. Ia tidak membalas lagi karena mengetik di mobil membuatnya pusing.


Sore hari barulah Namira tiba di pulau Te. Ia disambut cukup hangat di sana. Seharian itu ia tidak lagi berkirim pesan dengan Bani. Saking lelahnya, ia tertidur.


tring.. tring...


ponsel Namira berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Bani.


Namira, apa kamu sudah tiba? aku tidak mengirim pesan lagi kemarin karena sangat capek. Aku pergi ke rumah-rumah saudaraku.


Namira tersenyum membacanya. Ia pun membalas pesan Bani dan bersiap sarapan. Di sana sudah banyak saudara-saudaranya yang menunggu. Satu hal yang membuatnya malas adalah berbincang-bincang. Bagaimana tidak? Mereka selalu menanyakan materi berupa benda-benda mahal.


"Ayo tante. Boleh saja." Jawab Namira santai.


"Tapi tante minta jam tangan yang kamu pakai ya? itu pasti mahal. Tante ajak kamu jalan-jalan. Upahnya jam tangan."


Namira memutar bola matanya. Sudah ia duga akan seperti ini. Baiklah, daripada ia bosan di sini, sebaiknya ia terima saja tawaran tantenya. Lagipula jam tangan yang ia gunakan tidak sampai seratus ribu. Maklum, di pulau Te masih sangat primitif.


Mereka pun berjalan-jalan dengan angkutan umum.


"Hah? kayak gini mall gede?" batin Namira.


Tempat itu lebih mirip pasar dengan berbagai toko di dalamnya ditambah satu supermarket yang menjual bermacam-macam kebutuhan. Hanya supermarket itu yang memiliki AC.


"Namira mengajak tantenya ke tempat ber AC. Ia tidak tahan dengan lingkungan mirip pasar yang panas. Sesampainya di sana, ada penjual cincin perak. Cincin itu ada sepasang. Ada ukiran di permukaannya dan sebenarnya dapat diukir nama di dalamnya. Sayangnya jika ingin diukir harus menunggu keesokan hari.


"Tante, tunggu sebentar ya? Namira mau melihat-lihat cincin". Ucap Namira.


"Buat pacar? Ngapain kamu yang beli? Dia dong harusnya yang beli." Ujar tante Key.

__ADS_1


Namira tidak peduli. Ia tetap membeli sepasang cincin perak yang ringan walaupun ia tidak tau ukuran jari Bani. Dengan senang hati ia melangkah pulang. Ayah Namira mengajak Mama dan Namira tidur di rumah Ayahnya, bukan di rumah nenek. Memang ayah Namira telah membangun sebuah rumah di dekat tante Key. Setiap hari tante Key lah yang membersihkan. Sore itu angin bertiup kencang. Adik Namira bernama Firda sedang bermain bersama sepupunya, Iko. Mereka tiba-tiba terjatuh dan menangis. Tante Iko berlari, "Cepat masuk rumah! Makhluk itu .mengamuk!" Ujar tante Key. Sayangnya rumah Ayah memiliki kamar mandi dan dapur terpisah. Jadi ketika hendak ke toilet mereka harus keluar rumah dan melihat hutan rimbun di seberang sungai belakang rumah.


"Tante, ada apa ini?" tanya Namira.


"Jaman dulu ada orang dari pulau lain kemari. Suku Astral namanya. Mereka bertengkar dengan penduduk di sini dan terjadi pembunuhan. Tante sering melihat mereka tanpa kepala berjalan-jalan di sini. Mereka juga meminta hewan-hewan ternak untuk makan." Ucap tante Key ketakutan.


"Tante, kenapa tante bisa melihat mereka? Siapa tante sebenarnya?" tanya Namira.


"Tante Key dulu adalah suku Astral seperti mama. Namun mama sudah memudar kemampuannya untuk melihat makhluk Astral ataupun mendengar percakapan hewan dan tumbuhan. Tapi tante Key masih memiliki kemampuannya." Jelas mama Namira.


"Pokoknya kalau malam jangan ke toilet. Jangan keluar rumah!" ujar tante Key.


"Kalau dia bicara ya dengarkan saja. Kadang saya masih bisa mendengarkan." sambung mama Namira.


"Jangan mbak! bahaya! lebih baik tidak berurusan dengan mereka!" Cegah tante Key. Namira pun merinding. Ia teringat Bani.


Bani, disini ada sesuatu yang menyeramkan.


Namira mengirim pesan. Hingga malam tiba, Bani tidak juga membalasnya. Malam hari mati listrik. Hal ini benar-benar membuat ketakutan. Firda menangis sementara mama dan ayah menenangkannya.


Bani, aku ingin pulang! Ucap Namira dalam hati. Ia benar-benar ketakutan.


"Ayah, besok kita tidur di rumah nenek saja." Tawar Namira.


"Disana terlalu berisik. Kita kan tinggal di kota selama ini. Di sini lebih nyaman, di pedalaman." Jawab Ayah.


Bani, kenapa tidak membalas pesanku?


Namira terus membatin hingga ia terlelap.


***


Bani masih belum membalas pesan Namira. Wanita ini panik dan menelponnya. Berkali-kali ia menelpon, tapi tidak ada respon.


Bani, kamu kenapa?


Namira kembali bertanya-tanya.

__ADS_1


__ADS_2