Karma Prosecutor

Karma Prosecutor
Karma Baru


__ADS_3

Setelah tiba di pula Je, Namira memulai aktifitasnya menuju ke perguruan tinggi yang diminati. Ia lantas mengisi formulir dan memilih jurusan yang diminati. Hasilnya adalah gagal. Namira memang diterima di perguruan tinggi tersebut tapi untuk jurusan, ia harus mencari yang mau menampungnya. Hingga akhirnya ia mendapatkan jurusan pengobatan makhluk hidup. Itupun setelah Namira mencoba beberapa kali. Di pulau ini tidak ada yang mempedulikan kecantikannya. Satu pun tidak ada yang bersimpati dan membantunya. Ditambah lagi dengan Juna yang masih terus menyebar kebencian kepada teman-temannya. Namira tidak menganggap pusing hal-hal seperti itu. Perkuliahan dimulai satu bulan lagi dan ia memutuskan kembali ke pulau Dewa.


Tak seperti biasanya, bulan baru kali ini terasa sedikit hampa. Tahun lalu Namira masih sibuk dengan perlombaan, libur semester yang tak hentinya memikirkan Bani, dan semua hal yang indah. Kali ini ia benar-benar sendiri. Ia pergi ke tempat ritual dan tanpa sengaja melihat Bani. Ya, pria itu masih baik-baik saja. Mereka saling bertatapan, terkejut, dan pura-pura tidak saling kenal. Seperti itulah pertemuan mereka.


Keesokan hari di tempat ritual, Namira bertemu Juna. Pria itu bersikap baik walaupun sudah memiliki pacar baru. Ia juga mengajak gadis itu menghadiri reuni dan memberikan tumpangan.


"Pacarku yang sekarang terlalu penurut. Tidak ada gregetnya seperti kamu." Ucap Juna tiba-tiba. Namira cukup kaget dengan pernyataan Juna. Baginya sekarang pria itu sudah banyak berubah. Ia bukan lagi pria kharismatik melainkan hanya bedebah. Gadis itu tak khawatir lagi dengan karma yang mungkin muncul.


Setibanya di tempat reuni, tak hanya satu dua orang yang mencurigai Namira dan Juna. Namun tak sedikit pula dari teman-teman yang menasihati gadis itu perihal pria yang berangkat bersamanya.


"Dia buaya darat. Serius deh jangan sampai kemakan omongannya." Nasihat Ita.


Namira tetap pulang bersama Juna karena tidak satupun tumpangan yang longgar. Bahkan teman-temannya itu kebanyakan memiliki pasangan yang sama-sama teman Sekolah Dasar.


Ah, akhirnya semua teka teki terjawab. Namira tidak perlu khawatir dengan Juna. Ia hanya perlu melewati satu tahun lagi masa hukumannya. Ketika mengambil ijazah, ia tidak bertemu Andra ataupun Kinan. Ia juga tidak mendapatkan pesan dari teman-temannya kecuali Rezta. Begitulah Namira menghadapi hari-harinya. Di Pulau Je ketika perkuliahan dimulai, tak satupun orang yang menggubrisnya. Kendati ia menyukai seorang pria, tidak ada timbal balik yang ia terima. Pembalasan itu ternyata seperti ini membuatnya tak terlihat. Namira yang dulu adalah sebuah bunga yang mewangi, kini hanya menjadi sampah.


Sudah hampir satu tahun, sebentar lagi masa hukumannya habis. Seseorang mengirimkan pesan ke surelnya.


Hai Namira! Aku Amora! apa kabarmu?


Apakah kamu kenal Bani? dia anak bosku. Saat itu dia pernah membahasmu dengan seorang guru di sekolah ayahnya. Aku langsung berpikir menghubungimu karena aku menyukainya. Apa kamu bisa membantuku memberi tahu sejauh mana kamu mengenalnya?


Namira terdiam. Susah melupakan Bani tapi ternyata diingatkan kembali oleh orang lain.

__ADS_1


Hai Amora temanku sewaktu di sekolah menengah


Apa kabarmu? aku mantan pacar Bani dan sampai sekarang ia tidak memberi penjelasan satu kata pun padaku. Apakah itu sudah cukup membuatmu paham pria seperti apakah dia?


Tanpa disangka-sangka, Amora malah membalasnya dengan memberikan nomor ponsel Bani.


Cepat selesaikan urusan kalian. Ini nomor ponselnya. Mungkin berbeda dengan yang dulu.


Namira pun mencoba menghubungi namun tidak diangkat. Ia akhirnya mengirim pesan.


Bagaimana kabarmu? ini Namira.


Sepertinya Bani sudah mengetahui tujuan Namira mengirimkan pesan.


Sebuah pertanyaan dengan nada tidak suka.


Kenapa kamu begitu gampangnya menyetujui keputusanku untuk putus?


ini terakhir kalinya aku menjawab. Aku minta maaf. Aku tidak pernah menyukaimu.


Mendapatkan balasan demikian membuat Namira menangis sejadinya. Apalagi Amora turut mengiriminya pesan yang intinya adalah Bani hanya bermain-main padanya karena belun dewasa. Namira memeriksa kalendernya. Ini sudah tepat masa akhir hukumannya. Ia berhenti menangis karena berharap hari esok akan jauh lebih baik.


Libur semester setengah tahun kemudian ia pulang. Adiknya yaitu Firda mengajaknya ikut makan-makan bersama guru bimbingannya dan teman-temannya yang lain. Gadis itu menyetujuinya. Sesampainya di sebuah restoran pizza, ia melihat sosok pria yang tak asing sedang menatap ke jendela tembus pandang. Lelaki itu menatap Namira. Dipikirnya ia berhalusinasi tapi ternyata itu adalah nyata. Sosok pria yang ia coba benci. Bani tersenyum padanya tanpa dosa.

__ADS_1


Mereka makan bersama saat guru dari Firda memperkenalkan Namira dengan Bani. Gadis itu kikuk namun tidak dengan Bani.


"Saya sudah kenal. Bahkan sangat kenal." Ucap Bani.


"Wah, kok bisa?" tanya guru Firda.


"Kami satu sekolah." Jawab Namira cepat tanpa mau menoleh ke arah Bani. Seluruh tubuhnya gemetar seolah melihat hantu.


"Saya bahkan pernah mengantarnya pulang sekolah." Celetuk Bani.


"Oh, kalian pernah sedekat itu. Silahkan berbincang-bincang, saya akan memesankan makanan." Ucap Guru Firda.


Mereka saling menatap cukup lama hingga Namira memalingkan wajahnya.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Bani tersenyum.


"Aku baik." Namira menjawab singkat.


"Belok kesana adalah rumahmu. Aku masih ingat bagaimana ketakutannya aku saat ayahmu berada di depan pagar." Ucapnya sambil menatap ke arah jalan raya. Namira hanya diam. Ia tidak mau lagi berurusan dengan Bani. Pria itu tak lebih dari makhluk tanpa perasaan.


"Aku bukan Karma Prosecutor lagi. Aku manusia." Ia menatap Namira. Gadis itu tetap menunduk sambil menyembunyikan tubuhnya yang bergetar.


"Aku tidak akan minta maaf padamu. Dulu itu adalah tugasku. Tapi sekarang, kita baru kenal sebagai sesama manusia." Terangnya.

__ADS_1


Apapun yang terjadi, perasaan Namira sudah berubah. Kata-kata kasar menyakitkan dari Bani tak akan semudah itu ia lupakan.


__ADS_2