Karma Prosecutor

Karma Prosecutor
Gusar


__ADS_3

Beberapa hari Bani tidak membalas pesan. Ditelpon pun tidak aktif. Hal ini jelas saja membuat Namira panik dan cemas. Ia bingung, ada apakah dengan Bani? ia mencoba menghubungi Dayat menanyakan keberadaan Bani tapi sia-sia. Ia justru mendapat info tidak enak dari Dayat.


Apa akhirnya kalian berakhir? dulu dia menyukai sesama anggota OSIS namanya Tari.


Membaca pesan dari Dayat membuat Namira semakin kesal. Akhirnya ia hanya bisa pasrah. Sudah lima hari ia di sini. Dua hari lagi ia akan pulang. Saat malam semakin larut tiba-tiba sebuah pesan masuk.


Namira, maaf! Aku baik-baik saja. Jangan khawatir ya? Ponselku jatuh ke kolong kasur dalam keadaan silent. Berhari-hari aku mencarinya tidak ketemu. Baterainya habis dan saat ibuku berkemas karena kami akan pulang besok pagi, beliau melihatnya di kolong kasur. Maaf!


Namira membulatkan matanya dan menghirup napas panjang. Antara lega dan kesal, ia tidak berniat membalas pesan dari Bani. Perasaannya campur aduk. Ia memilih tidur. Paginya Bani masih mengiriminya pesan.


Aku baca pesan-pesanmu, tapi yang paling berkesan adalah soal cincin itu. Kenapa kamu repot-repot membelinya? Harusnya bicara padaku nanti aku belikan. Kalau kamu suka sesuatu yang berpasang-pasang begitu, nanti aku carikan.


Namira masih tidak mau membalasnya.

__ADS_1


Namira, kamu marah ya? aku juga mendapat pesan dari Dayat katanya kamu mencariku. Dayat bilang apa sama kamu? Apa dia bicara yang bukan-bukan? coba nanti aku tanyakan dia ya. Aku kangen kamu.


Dan masih belum juga dibalas oleh Namira.


"Rasakan!" batinnya.


Ia memang masih sangat kesal dengan Bani. Mengapa pria itu tidak mencoba meminjam ponsel orang lain? atau dia tidak hafal nomor ponsel Namira? benar-benar keterlaluan.


Akhirnya besok Namira dan keluarganya pulang. Saatnya berkemas. Mereka akan berangkat jam 3 dini hari. Namira terbangun jam 2 pagi dan hendak ke kamar kecil. Di dapur ada tante Key dan mama nya yang sedang menyiapkan oleh-oleh. Sosok tak kasat mata muncul dari ventilasi toilet. Namira yang tidak mampu melihatnya, entah mengapa kali ini sanggup. Ia terpaku tidak bisa bergerak. Ketika makhluk otu menertawainya dengan kepala bersimbah darah, Namira berharap ini mimpi hingga mamanya memanggilnya.


"Ada apa Namira?" tanya mamanya. Namira hanya terus berjalan tanpa peduli.


Mereka berpamitan pada tante Key dan menuju rumah nenek untuk berpamitan. Setelah agak jauh, mama Namira membuka suara.

__ADS_1


"Yah, rumah itu sebaiknya dijual saja."


"Kenapa? seram? kita kan tidak berbuat jahat. Biarkan saja." balas ayah. Seisi mobil pun terdiam. Namira masih saja mengacuhkan pesan Bani. Pria itu mengabarkan bahwa ia sudah tiba di Pulau Dewa.


Namira, kita ketemu yuk! di taman kota bagaimana?


sebuah pesan masuk dari Bani beberapa hari setelah Namira tiba di rumahnya. Tentu saja hal ini membuatnya senang. Ia bersiap-siap sejak pagi dan bahkan membuat kue coklat. Pikirnya ia akan piknik bersama Bani di taman kota.


Baik. Kita bertemu di taman kota. Jam berapa?


Namira mengirimkan pesan. Sambil menunggu balasan Bani, ia melanjutkan membuat kue, minuman, dan bersiap-siap. Begitu lama tanpa balasan, bahkan hampir tengah hari, Bani belum juga membalas. Sontak hal ini membuat Namira menjadi geram dan menghubungi ponsel Bani berkali-kali. Setelah lewat jam makan siang, sebuah pesan masuk.


Aku mendadak tidak bisa karena sebuah keperluan. Maaf. Aku akan bayar lain waktu.

__ADS_1


Pesan itu dikirim oleh Bani. Sungguh menyebalkan dan membuat Namira enggan melakukan apapun. Ia merasa bingung dengan kelakuan Bani. Apakah semua alasannya itu nyata? mulai dari ponsel yang terjatuh di kolong tempat tidurnya, hingga alasan tidak jelas apalagi yang akan dibuatnya sekarang.


__ADS_2