
"Wah hebat. Sekali ini Karma Prosecutor kalah dengan manusia. Aku mungkin akan dibinasakan." Ucap Bani pada Dayat.
Perbincangan itu didengar oleh Andra.
"Aku tidak seyakin itu dengan Namira. Kalau misalnya dia mengulang karma seperti pada Yana, apa akan berganti prosecutor?" Dayat nampak berpikir.
"Sepertinya tidak jika itu suku Ismi." Timpal Bani.
"Tenang, kamu tidak akan dibinasakan. Masih ada harapan." Dayat menepuk pundak Bani.
Andra yang mendengar itu menjadi geram. Ia langsung mencari Namira.
Pria itu menemukan Namira sedang merenung.
"Kamu benar-benar tidak kapok! Hukumanmu bahkan belum berakhir. Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi setelah ini." Andra nampak sangat marah.
"Sakit hati soal Bani? Aku sudah tidak sakit hati." Jawabnya enteng.
"Bagaimana kalau Bani hanya perpanjangan tangan hukumanmu?" Andra masih menahan kekesalannya.
"Aku bingung, kamu kenapa sih?" Namira balik bertanya.
"Kamu memainkan perasaan orang lagi kan? kamu pacaran?"
"Iya. Aku dan dia sepakat tidak saling suka sampai waktu kelulusan tiba. Ini hanya untuk pengalihanku saja dan aku ingin menyakiti Bani." Terang Namira.
__ADS_1
"Lantas apa kesepakatan itu masih?" Andra bertanya penuh selidik.
Namira hanya diam saja.
"Terserah sudah Namira. Padahal seharusnya Bani bisa dibinasakan beserta teman-temannya." Terang Andra. Ia lantas pergi.
Namira menghubungi Juna.
"Maaf, aku rasa semua harus berakhir. Ini sudah menyimpang dari kesepakatan kita." Jelasnya.
"Hei, tidak bisa begitu dong. Kita bahkan belum bertemu. Kamu belum bisa meyakinkan perasaanmu sebelum bertemu aku." Sanggah Juna.
"Harusnya dari awal kamu bilang kalau sudah menyukaiku. Pokoknya sebelum perasaanmu terlalu dalam, kita selesai." Tegas Namira. Ia dengan secepat kilat mematikan ponselnya. Pikirannya kacau. Ia benar-benar teringat ucapan Andra agar menikmati masa hukumannya dan membinasakan Bani. Tiba-tiba ingatannya bersama Bani muncul.
Apa benar pria itu sama sekali tidak ada perasaan? Apa makhluk seperti dia benar-benar tidak bisa menyukai seseorang?
***
Ujian akhir tiba. Dengan begini, 6 bulan sudah Namira menjalani masa hukuman. Masih ada 1,5 tahun lagi. Ia berpapasan dengan Bani dan pria itu memandangnya sendu.
Apa arti tatapanmu itu?
Hubungannya dengan Andra pun sedikit merenggang. Kini Namira benar-benar sendiri.
Ujian berjalan lancar. Hingga tiba saatnya ujian kelulusan. Teman yang dapat dipercayai saat ini adalah Rezta.
__ADS_1
Ia menyuruh Rezta mengirim pesan pada Bani yang intinya ia menunggu Bani untuk semua penjelasan.
Saat itu jam 12 siang dimana pengumuman kelulusan telah membuktikan bahwa semua anak lulus. Tak hanya itu, foto-foto pun telah dilakukan. Ini memang bukan hari terakhir ke sekolah. Selanjutnya akan ada pengambilan ijazah namun belum tentu setiap anak dapat bertemu dengan anak yang lain. Namira mengirimkan pesan pada Bani. Sebagai anggota OSIS sudah jelas ia sibuk mengurusi upacara kelulusan ini. Setidaknya Namira ingin agar semua menjadi jelas. Siapakah Bani, bagaimana perasaannya dan semua hal terkait dirinya. Sayang seribu sayang hingga jam 1 siang Bani tidak juga muncul. Namira menahan tangis karena esok ia harus pergi ke pulau Je mencari perguruan tinggi yang mau menerimanya. Hal itu dikarenakan ia tidak lulus ujian perguruan tinggi di kota Denpa. Agak aneh memang apalagi jika dibandingkan dengan anak-anak lain yang tidak sepandai Namira. Mereka lulus ujian perguruan tinggi kota Denpa sedangkan dirinya tidak.
Andra memeluknya dari belakang yang sontak membuat Namira terkejut. Aroma tubuh lelaki itu yang khas membuatnya sadar dan hafal bahwa itu Andra. Dia merindukannya.
"Andra, sudah selesai marahnya?" tanya Namira.
"Aku bukan benar-benar marah. Aku hanya kesal kamu tidak menurut sama sekali." Ia masih memeluk Namira.
Gadis itu membalikkan badannya dan menangis.
"Namira, aku minta maaf. Dan aku turut sedih karena kamu tidak lulus ujian perguruan tinggi di kota Denpa. Bukan karena kamu tidak pandai, tapi hanya kurang beruntung." Ucap Andra.
Tentu saja ini sangat menyedihkan hingga membuat Namira akhirnya menangis.
"Ayo berpamitan pada Kinan, Rossi, Ulan, Arini, dan teman-teman lain. Rossi akan ke pulau Je juga kan? Arini ke pulau El. Tidak hanya kamu yang pergi." Hibur Andra. Pemandangan ini ternyata diamati oleh Bani dari ruangan OSIS. Ia menahan perasaan aneh yang muncul pada dirinya.
Kenapa aku tidak bisa muncul dan bicara pada dia? Kenapa tidak aku kembalikan cincin itu?
Bani terus memikirkan sikapnya.
"Hubungi aku jika butuh teman bicara." Rezta menepuk pundak Namira.
"Beri kabar jika kamu pulang di sela-sela libur semester." Ucap Kinan.
__ADS_1
Andra juga hanya menepuk pundaknya tak bisa berkata-kata.
Inilah karma yang sebenarnya yang akan terjadi di hari-hari Namira satu setengah tahun kemudian.