Karma Prosecutor

Karma Prosecutor
Yana dan Namira


__ADS_3

Hari demi hari masih berlalu seperti biasa. Ujian akhir semester dimulai. Yana selalu mengajak Namira membahas soal ujian di penghujung waktu sekolah. Sebagai seorang suku Astral, ia tidak pernah menunjukkan kemampuannya berkomunikasi dengan tumbuhan dan hewan selama bersama Namira. Ia tau betul bagaimana harus bersikap saat bersama Namira.


"Yana, kenapa sih kamu tidak membeli ponsel? Tidak repot komunikasi dengan teman?" Kinan membawa beberapa camilan ke meja Yana diikuti oleh Namira.


"Aku tidak punya teman. Setiap hari bertemu di sekolah. Ada telepon rumah juga. Apa yabg mau dibahas di ponsel?" Jawabnya sambil tersenyum kaku.


"Kalau tiba-tiba ada hal mendesak yang kamu tidak paham bagaimana?" tanya Kinan lagi.


Yana tersenyum dan dengan entengnya menjawab, "Telepon saja dengan telepon rumah."


Kinan menghembuskan napas.


"Kamu belum pernah pacaran ya?" Tiba-tiba pertanyaan aneh itu terlontar dari Kinan.


Namira meliriknya berharap Kinan meralat ucapannya.


"Pacaran belum, naksir pernah. Apa hubungannya dengan ponsel?" Yana kembali tertawa.


"Kamu polos banget." Jawab Kinan sambil mencomot makanannya. Namira justru.penasaran dengan orang yang ditaksir Yana.


"Siapa cewek yang kamu taksir?" Namira berusaha bersikap santai saat menanyakannya. Ia mengambil camilan milik Kinan dan mulai memakannya.


"Dia temanku di sekolah menengah awal. Sekarang ada di kelas 1-8." Senyum Yana memudar.


"Hm.. Siapa ya?" Namira nampak berpikir.


"Namanya Purnama." Yana menjawab cuek.


Kinan memandang Namira. Seolah mereka memiliki telepati, Kinan dan Namira merasa Purnama tidak terlalu cantik. Akan tetapi ia sangat murah senyum dan juga berlagak bak orang kaya. Bahkan Darma yang ditaksir oleh Namira pun kini tengah menjalin hubungan dengan Purnama.

__ADS_1


"Oke. Ternyata semua laki-laki obsesinya adalah wanita seperti Purnama." Namira membuka suara.


"Purnama itu pintar. Lelaki pintar sudah sewajarnya suka dengan dia." Ucap Yana.


Kinan dan Namira saling pandang dan menghela napas.


Begitulah hari-hari mereka. Akhirnya Rapor dibagikan. Namira di peringkat 7, Kinan peringkat pertama, dan Yana peringkat 6. Anehnya, ketika pembagian kelas diumumkan untuk memasuki kelas 2 dengan jurusan ya g diinginkan, Yana tidak sekelas dengan Namira dan Kinan. Peringkat pertama hingga lima di masing-masing kelas nantinya akan menempati kelas 2IKMH1. Namun jika memilih jurusan ilmu sosial atau komunikasi makhluk hidup, maka akan dihitung berdasarkan peminat. Aturan awal memang begitu. Tapi entah mengapa Namira di kelas 2IKMH1 sedangkan Yana di kelas 2IKMH3. Alasan guru adalah nilai Kesehatan Makhluk Hidup Namira cukup tinggi dibanding nilai-nilai subjek sosial dan komunikasi. Peringkat yang diberikan adalah kumulatif dari semua subjek sehingga tidak menjamin nilai untuk jurusan yang dipilih tergolong tinggi.


"Aku ke ruang guru dulu ya. Aku mau protes." Yana berdiri dan hendak menuju ke ruang guru. Baru kali ini ia nampak geram.


"Kalo protes besok aja setelah libur semester. Kasian guru-gurunya." Cegah Namira.


Yana mengangguk.


"Pulang sekolah bisa tunggu aku di depan ruang guru? Ada yang mau aku bicarakan. Sebelumnya selamat atas peringkat 7 mu." Ucap Yana menegang.


"Sama-sama. Selamat juga untuk peringkat 6 mu. Selamat untuk yang terpintar, Kinan kita!" Namira memeluk Kinan dan menatap Yana sambil tersenyum. Sekalipun Namira merasa sedikit sesak atas peringkatnya yang tak sesuai harapan, ia masih berusaha menutupi kekecewaannya. Pasti ayahdan mamanya akan kecewa juga apalagi selama ini Namira selalu masuk di 3 besar. Mungkin bersekolah di sekolah campuran tidak semudah sebelum-sebelumnya.


"Aku yang traktir saja." Celetuk Kinan. Keduanya memesan mie instan goreng dengan telur. Tibalah Yana yang ragu-ragu menduduki meja kantin.


"Mau pesen apa? aku yang bayar." Celetuk Kinan di tengah-tengah makannya.


"Aku minum aja." Jawab Yana datar.


"Kamu kenapa sih nggak pernah jajan? diet? lagi nabung buat beli mainan?" Kinan masih menanyakan hal yang sama bertubi-tubi pada Yana. Yana nampak risi melihat cara Kinan menyantap makanannya. Ia bagaikan tidak makan berminggu-minggu.


"Aku tidak makam daging-dagingan." Jawab Yana santai sambil menyeruput teh hangat nya.


"Oke, pesen saja sayur-sayuran dengan bumbu kacang." Jawab Kinan santai.

__ADS_1


"Aku harus tanya dulu dengan lingkungan sekitarku. Mereka keberatan tidak kalau aku memakan itu? Makhluk Astral juga perlu dibagi kan?" Yana menatap Kinan serius.


Kinan langsung menghentikan makannya.


"Mau makan aja ribet ya? Oke aku sisihkan sedikit makananku."


"Memang seharusnya seperti itu. Kasian kam mereka hanya bisa menatap sedangkan mereka juga menjaga kita. Kalau kamu baik dengan mereka, mereka pun demikian." Jelas Yana. Namira menatap tidak percaya dengan apa yang mereka bicarakan.


"Kamu lanjut makan saja. Ini hanya masalah kepercayaan." Yana melempar senyum pada Namira.


"Aku jadi kurang berselera. Bagaimana kalau kita membahas ponsel? Apa kamu sudah punya ponsel?" tanya Namira.


"Iya. Ini yang mau aku bicarakan. Aku sudah ada ponsel. Uang tabunganku berkurang lima ratus ribu gara-gara benda ini. Ayo masukkan nomor kalian. Ah, belum lagi mengisi pulsanya ya. Aduh, akan sulit menabung nih." Gerutu Yana. Kinan dan Namira menggelengkan kepala dan langsung memberikan nomor mereka masing-masing.


Libur hari pertama. Aktivitas di rumah masing-masing berlangsung normal.


"Namira, lagi apa? Temani makan yuk diluar? Kutraktir deh." Kinan menelpon Namira yang tengah bosan di ruang tengah.


"Sore ya. Aku ada janji sama Yana." Balas Namira.


"Kalian mau kemana nggak ajak aku?" Tanya Kinan curiga.


"Ah entah. Dia berkali-kali kirim pesan mau ajak aku ngobrol di museum. Memang ada taman sih disana. Habis dari sana aku ke rumahmu deh." Sahut Namira.


"Kalau dia ngajak jadian kamu mau? Kayaknya dia baik. Terima saja." Kinan masih dengan pemikirannya yang belum terbukti.


"Sesuai keinginanmu deh. Dia memang anak baik. Bagus untuk masa depan walaupun beda suku, ya kan?" Canda Namira.


"Betul. Kabari aku ya kalau terjadi sesuatu." Balas Kinan lagi.

__ADS_1


Mereka pun mengakhiri percakapan mereka. Namira kini bersiap-siap. Ia mengenakan baju yang ringkas seolah memang tidak menyadari apapun yang spesial yang akan terjadi.


"Ma, Namira pergi dulu ya!" Namira berpamitan.Ia hendak mengajak tetangganya Ria, akan tetapi karena nanti hendak langsung ke rumah Kinan, ia memutuskan pergi sendiri. Saat itu cuaca sangat cerah. Museum dan tamannya memberi aura yang menyenangkan. Semilir angin membuat suasana siang itu menjadi sejuk. Yana sudah berdiri di pintu masuk museum dan membeli tiket. Di sinilah semua bermula.


__ADS_2