Karma Prosecutor

Karma Prosecutor
Kisah Baru


__ADS_3

Setelah perdebatan panjang dengan hatinya sendiri, Namira memilih mengalah sekali lagi pada Bani. Ia pun menikmati kue dan minuman yang ia buat bersama adiknya dan Ria temannya. Dalam hal ini, Ria sudah mulai curiga dan jengah akan hubungan Bani dan Namira.


"Sudahlah, aku rasa sebaiknya kalian putus." Ucap Ria.


"Bisa saja memang ada urusan mendesak kan?" bela Namira.


"Kamu sudah cinta mati sama dia? Dia bukan manusia normal kah? Menurutku dia tidak normal." Ujar Ria lagi. Namira memilih diam. Beberapa hari lagi masuk sekolah. Mungkin ia bisa memulai kisah baru bersama Bani dengan lebih baik terutama dengan mengenalnya lebih jauh.


Ria saat ini sudah memasuki bangku pendidikan yang lebih tinggi. Ia menyewa sebuah flat di perbatasan kota. Tempat itu dekat dengan pantai. Ia kembali ke rumah orang tuanya setiap akhir pekan atau liburan. Menempuh waktu kurang lebih satu jam untuk kembali. Namira ingin mengunjungi flat Ria tapi pasti orang tuanya tidak mengijinkan. Akhirnya mereka hanya bisa berbincang ketika Ria pulang ke rumah orang tuanya.


Libur telah usai. Namira bersemangat berangkat dengan membawa cincin yang ia beli di rumah neneknya. Setibanya di sekolah, tak hentinya Namira mencari sosok Bani.


"Hei Namira! bagaimana kabarmu? Senang liburannya? mulai sekarang tidak ada lagi liburan. Kita harus belajar lebih keras." Sapa Andra dengan senyum termanisnya.


"Iya. Sebentar lagi ujian semester. Lanjut lagi semester baru dan kelulusan." Timpal Namira. Mereka pun berbincang-bincang sesaat. Tanpa Namira sadari, Bani sedang menatapnya dari teras kelasnya di pantai atas.


"Ehem!" Tiba-tiba Riyan lewat di hadapan Namira dan Andra sambil berdeham kencang.


"Hai. Bagaimana kabarmu?" sapa Namira.


"Aku baik. Tapi sepertinya orang di atas sana sedang tidak baik." Jawab Riyan sambil menunjuk ke arah Bani.


Namira cukup terkejut dan tersenyum canggung sedangkan Bani hanya menatapnya tajam.


Selama pelajaran berlangsung, Namira terus berharap dapat segera bertemu Bani. Sayangnya bahkan saat istirahat pun, ia belum menemukan sosok Bani dan lelaki itu juga tidak berniat mencari Namira. Bel pulang sekolah berbunyi. Andra yang memahami bahwa sejak Namira mempunyai pacar mereka tidak lagi bisa sedekat dulu. Ada sesuatu yang mengganjal tapi Andra urungkan untuk mengungkapkan. Ia takut jika Namira salah paham dan malah memusuhinya.


"Aku duluan ya. Hati-hati di kelas sendirian. Mending tunggu pacarmu di luar." Ucap Andra. Namira pun hanya mengangguk.

__ADS_1


Di luar kelas, ia duduk di sebuah kursi panjang menunggu kemunculan Bani. Orang yang ditunggu akhirnya muncul dengan wajah ditekuk.


"Kenapa masih di sini? kok tidak ikut pacar gantengmu pulang?" tanyanya dengan nada sinis.


"Kamu lagi ngomongin siapa? Andra? Kamu marah kenapa sih?" Goda Namira.


"Habis liburan bukan cariin aku malah asik ngobrol sama dia." Timpal Bani.


"Lho, kenapa tidak kamu yang cari aku duluan?" Namira tak mau kalah.


"Aku tidak tau kamu sudah datang. Tau-tau keluar kelas dengan laki-laki itu." Bani mulai cemberut.


"Sudah, sudah! Aku ada hadiah sekaligus oleh-oleh." Sela Namira menyudahi perdebatan itu.


Ia pun mengeluarkan cincin pasangan.


"Wah. Seharusnya aku yang memberikan benda-benda pasangan." Bani kembali cemberut.


"Yasudah. Siapa saja tidak masalah. Yang penting niatnya baik." Jawab Namira. Bani berterima kasih dan malah menyukai cincin tanpa inisial itu.


"Kenapa kamu justru suka cincin tanpa inisial? Kamu takut semua orang tau kalau kamu punya pacar?" tanya Namira kesal.


"Bukan. Jangan salah paham. Aku khawatir orang tuaku menemukannya. Mereka menentang aku pacaran." Jawab Bani.


Namira akhirnya mulai memahami kondisi Bani sedikit demi sedikit.


"Kenapa tidak boleh?" tanya Namira penuh penasaran.

__ADS_1


"Karna kami aaaliieeen" Goda Bani sambil tertawa. Namira menghela napas. Namun ia tidak melanjutkan pertanyaannya.


"Aku minta maaf karena kita tidak jadi piknik. Ada tugas mendadak. Dan aku boleh tanya satu hal?" Bani menatap Namira serius dengan mata hitam pekatnya itu.


"Silahkan!" balas Namira.


"Apa Andra ada mengatakan sesuatu? Sejak kapan sebenarnya kamu dekat dengan Andra?" tanyanya bertubi-tubi.


"Mengatakan apa? Aku kan setiap hari ngobrol dengannya. Jelaslah dia mengatakan banyak hal." Ucap Namira asal.


"Bukan itu maksudku. Tentang OSIS." terang Bani.


"Tidak ada." Jawab Namira setenang mungkin karena ia yakin ada yang tidak beres. Ia berharap dapat segera menanyakan perihal ini pada Andra.


"Pertanyaanku ada yang masih belum kamu jawab." Sambung Bani.


"Oke. Aku dekat dengan Andra sejak lomba bernyanyi ulang tahun sekolah. Kami berpasangan. Semua memuji penghayatan kami. Ya dari situ lah." Jelas Namira sambil menghela napas.


Bani menundukkan kepalanya.


"Kalau aku ada disitu, aku akan teriak. Ayo lanjutkan! teruskan saja seperti itu! Sambil melempar sepatu ke arah kalian." Ucap Bani sambil memperagakan maksudnya.


Namira hanya tertawa. Ia cukup terhibur sekaligus lega karena menurutnya Bani cemburu.


"Yasudah. Ayo pulang! aku lapar." Namira beranjak dari kursi.


"Aku bahkan bukan pacar yang baik yang bisa mentraktirmu makan." Ujar Bani lagi. Namira hanya menepuk-nepuk pundak Bani. Terlalu banyak teka-teki. Sebenarnya wajar-wajar saja jika mereka makan di kantin berdua. Apalagi hampir semua anak sudah mengetahui hubungan mereka. Atau mungkin uang saku Bani terbatas? bukankah ia anak orang kaya? atau justru anak tidak mampu? entahlah.

__ADS_1


__ADS_2