Karma Prosecutor

Karma Prosecutor
Ada apa dengan Bani?


__ADS_3

Hari yang ditunggu tiba. Jam menunjukkan jam setengah sepuluh. Namira bersiap dan tiba di sekolah kurang 10 menit dari waktu yang dijanjikan. Ia melihat sekeliling dan menemukan Kinan di salah satu pendopo. Gadis itu sibuk dengan kliping dan liputan yang hendak dipajang di majalah dinding sekolah bersama rekan-rekan satu timnya.


Sudah jam 10. Tanda-tanda kemunculan Bani masih tidak ada. Namira mulai mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan menanyakan lokasi Bani saat ini. Pesan itu tidak sampai. Namira mencoba sabar. Mungkin ini gangguan sinyal. Sudah lewat setengah jam. Namira masih bertahan menunggu Bani di pendopo tempat Kinan bersama tim nya. Ia sebenarnya sedang mencari penghiburan saja untuk menepis rasa gelisahnya. Ia mulai menghubungi Bani. Ponsel Bani tidak aktif. Hal ini semakin membuat Namira ketar ketir. Apakah pria itu baik-baik saja?


Jam 11. Kinan dan teman-teman satu tim nya hendak menyelesaikan pertemuan mereka. Beberapa anak nampak pulang, namun Kinan masih disana menemani Namira.


"Kalau sampai jam 12 dia tidak muncul, kamu harus pulang!" tegas Kinan. Tanpa Namira sadari, Andra baru saja tiba dan menuju lantai atas ruang OSIS.


Satu jam sudah Kinan menemani Namira dan kini gadis itu sudah menyerah dan menyuruh temannya itu untuk pulang. Dengan wajah kecewa, Namira melangkahkan kaki menuju motornya. Saat itu juga Bani tiba. Wajahnya tanpa ekspresi.


"Ya ampun Bani! kamu darimana? kamu baik-baik saja kan?" tanya Namira cemas.


"Aku ketiduran. Ayo berangkat. Ini sudah siang." Ucapnya.


Namira kebingungan begitu pun dengan Kinan. Bukankah seharusnya Namira yang marah? Gadis ini masih diam dan menurut dengan menaiki motor Bani. Tanpa sempat berpamitan pada Kinan yang masih menatap mereka, Bani melajukan motornya. Sepanjang perjalanaan Namira hanya terdiam. Ia e


benar-benar tidak bisa lagi mentolerir kejadian hari ini. Apakah Bani terlalu senang untuk pergi dengannya sehingga tidak tidur semalaman? atau justru karena sangat menyepelekan acara ini ia jadi memilih tidur? apa sebenarnya isi kepala Bani? Bahkan ponselnya pun tidak aktif. Bukankah ini keterlaluan?


Hampir jam 1 siang mereka tiba di pantai. Panas sangat terik ditambah perut yang sudah keroncongan membuat Namira berteduh di bawah pohon. Jangankan ajakan untuk minum dan makan, bicara sepatah kata pun tidak. Mereka hanya duduk berdampingan dan saling diam.


"Aku rasa aku tidak bisa meneruskan ini semua." Bani angkat bicara.

__ADS_1


Namira masih merasa bingung. Ada apa lagi ini?


"Maksudmu?" Namira benar-benar bingung.


Bani melepaskan cincin pemberian Namira dan memberikannya pada Namira.


"Aku benar-benar lelah." Bani mulai menangis.


Bagaikan tersengat lebah, Namira merasa sangat kesakitan. Ia yang kelaparan dan kehausan ditambah mendengar kata-kata tidak masuk akal ini membuat nafasnya berat. Ia juga tidak bisa berpikir jernih. Ia butuh kejelasan yang lebih.


"Kamu lelah? lelah kenapa? bagian mana yang lelah? bukankah harusnya aku yang lelah?" Namira berusaha tenang dan tidak terpancing untuk menerima cincin dari Bani.


"Kamu nangis? bukankah seharusnya aku yang menangis? Siapa sebenarnya kamu?" Namira bertanya dengan geram dan tegar. Ia bahkan tidak meneteskan satu tetes air mata pun. Ia sudah terlalu muak dengan segala alasan Bani saat ini. Ia harus menyelamatkan harga dirinya yang sudah jelas diinjak-injak oleh laki-laki itu.


"Aku terpaksa denganmu." Lagi-lagi ia menangis. Namira semakin bingung. Apa dia mabuk? Kenapa ucapannya tidak bisa dicerna?


"Terpaksa? Apa lagi ini? Siapa yang memaksa kamu? Jelas-jelas kamu mengutarakan perasaanmu dengan sadar." Namira makin kesal. Ia menghadap ke arah pantai.


Bani masih memegang cincin itu dan menenggelamkan wajahnya di lututnya.


"Aku minta maaf." Ucap Bani.

__ADS_1


"Kamu mau menganggap kita putus itu terserah. Kamu mau mencari pacar lagi itu terserah. Aku tidak mau diputusin. Titik." Namira meradang. Wajahnya memerah.


"Kamu pacaran saja lagi silahkan! Aku pacar kesekianmu juga silahkan. Tapi aku tidak terima diputusin. Paham?" Namira kini berdiri hendak meninggalkan Bani.


"Kamu mau kemana?" cegah Bani memegang tangan Namira.


"Aku mau pulang dengan kendaraan umum." tegasnya.


"Tidak bisa! kamu berangkat denganku artinya pulang juga denganku!" Terang Bani. Demi menghindari percekcokan yang tidak jelas, sebaiknya Namira menurut saja. Ia hanya ingin segera pergi dari sana. Mungkin aura pantai yang tidak nyaman membuat pikiran Bani sakit.


Sepanjang perjalanan ia yang daritadi menahan tangis kini pecah. Ia menangis dalam diam.


**


Setibanya di sekolah, suasana sangat sepi. Namira melihat motor Kinan masih terparkir. Artinya sahabatnya itu masih di sana.


"Namira, apakah hubungan kita bisa baik-baik saja setelah apa yang aku ucapkan tadi?" Bani bertanya dengan penuh kehati-hatian.


"Iya tentu saja bisa!" Jawab Namira tegas. Ia hanya tidak mau diputuskan. Harga dirinya tidak boleh terus diinjak-injak. Namira lah yanh seharusnya memcampakkan pria brengsek seperti Bani.


Pria itu tertunduk lesu. Ia berpamitan dengan Namira dan memintanya menghubungi pria itu setibanya di rumah. Gadis itu tidak menanggapi. Ia langsung pergi mencari keberadaan Kinan.

__ADS_1


__ADS_2