
Demi reputasinya, Namira mencoba menghubungi Juna terlebih dahulu.
"Juna, kira-kira ujian akhir akan seperti apa ya? jurusan apa yang cocok untukku di universitas?" Namira mencoba menelpon Juna. Pria itu sangat senang. Walaupun ia telah kembali ke Pulau Je untuk memulai aktifitasnya, ia merasa masih di pulau Dewa. Juna tinggal sendirian disana. Ia sangat senang ketika beberapa temannya menghubunginya.
"Wah Namira! Menurutku ujian akhir lebih mudah dari ujian percobaan. Tenang saja!" Jawab Juna. Semua obrolan mereka menyenangkan dan sangat jelas Juna menjadi lebih dewasa. Dapat diartikan ia dipaksa dewasa. Tak heran mereka berbincang seputar kejadian sewaktu sekolah dasar.
"Kamu yang paling pintar ya." Kenang Namira.
"Ah, kamu juga pintar." Sela Juna.
"Eh tapi ada Dita dan Trina yang paling pintar." Sambung Namira.
"Haha. Aku jadi ingin reuni lagi. Kemarin banyak teman-teman kita yang ternyata berpacaran ya. Kira-kira mereka bertemu dimana ya setelah lulus?" Juna menerka.
"Entahlah. Kamu berharap bertemu Trina?" pancing Namira.
"Kenapa bisa Trina?" tanya Juna heran.
"Mana ada laki-laki yang tidak naksir Trina?" Namira masih memancing Juna.
"Kamu sendiri apa tidak punya pacar?" tanyanya.
"Hm.. aku baru putus. Kamu punya pacar?" Namira kembali memancing perasaan Juna.
"Tidak. Belum ada yang cocok di pulau ini. Aku malah ingin sekali segera lulus dan pulang." Jawabnya.
"Aku baru-baru ini berhadapan dengan Karma Prosecutor. Dia tampan, pintar, sangat baik dalam pikiranku." Namira mengenang saat-saat pertama kalinya mengenal Bani.
"Apa sih Karma Prosecutor? Dulu sepertinya mantan pacarku pernah menyebut-nyebut itu." Terang Juna.
"Mantan pacarmu suku astral ya?"
__ADS_1
"Benar. Memangnya itu apa?"
"Entahlah apa. Aku ingin balas dendam. Apa hukumanku benar-benar dua tahun padahal sekarang saja aku sudah muak dengan dia?"
"Yasudah balas saja."
"Aku sedang berpikir. Aku juga penasaran apakah dia benar-benar makhluk tanpa perasaan? Oh ya ampun!"
"Yasudah kamu tes saja. Coba berpura-pura pacaran."
"Sudah. Aku tanpa pikir panjang menyebutkan kalau pacarku sekarang adalah anak universitas. Tapi belum ketemu siapa yang mau mengikuti sandiwara ini."
"Yasudah sama aku saja. Gimana? Satu bulan dulu. Kalau cocok kita hentikan dan jadi serius. Hehe. Satu bulan lagi aku pulang. Kita tentukan keputusan akhirnya." Usul Juna.
Namira pun mau tak mau mengiyakan toh itu semua hanya sebatas status.
Kini Namira semakin percaya diri. Di setiap perkumpulan suku Ismi ia membangga-banggakan Juna. Di bimbingan brlelajar pun demikian. Akhirnya hanya butuh waktu seminggu untuk meyakinkan publik bahwa ia sudah baik-baik saja.
sebuah pesan masuk.
Sudah Juna. Kamu lagi ngapain?
Mereka sangat totalitas dalam memainkan peran mereka. Bani pun menjadi geram melihat ekspresi Namira sehari-hari yang menjadi ceria. Tak heran inipun mengusik Andra.
"Kamu sedang berbuat apa sekarang?" Andra nampak sedikit geram.
"Aku? Ada apa memangnya? aku menceriakan hidupku dengan caraku." Jawabnya datar.
"Apa gunanya aku membantumu kemarin-kemarin kalau ujung-ujungnya kamu mengulangi kebodohan yang sama?"
"Andra... kebodohan apa maksudmu? Justru aku mencari orang yang bisa kuajak kerja sama, membantuku belajar menghadapi ujian akhir, dan bisa aku banggakan."
__ADS_1
"Terserahmu. Aku tidak peduli lagi."
"Maksudmu apa? bukannya tidak masalah asal dia bukan suku astral?" Namira mulai tersulut emosi.
"Sebaiknya selesaikan dulu perasaanmu terhadap Bani. Sampai sini paham maksudku?" Bentak Andra.
Namira merasa bersalah. Tapi mau tidak mau ia harus menunjukkan ia baik-baik saja dan mencari pelampiasan lain agar berhenti memikirkan Bani.
"Halo Namira. Hari ini melelahkan sekali. Bagaimana harimu? Aku tidak sabar segera pulang dan bertemu kamu. Pasti menyenangkan." Juna menelpon Namira dengan nada bicara tak seperti biasanya. Gadis itu mulai curiga jika Juna sudah terhanyut atau lupa dengan status sandiwaranya.
"Hari-hariku baik. Aku semakin senang karena mantanku mulai terlihat geram. Mungkin dengan begini jasa Karma prosecutor sudah tidak laku karena tidak berhasil membuatku sakit hati dalam jangka waktu yang ditetapkan."
"Bisakah kamu berhenti membahas dia?"
"Ada apa memangnya? bukannya ini tujuan rencana kita dan ketika kamu pulang aku akan memamerkanmu di sekolahku?"
"Iya. Tapi aku harap ini bisa lebih dari sebulan. Aku seakan mendapatkan mood booster beberapa pekan ini."
pernyataan Juna sontak membuat Namira kaget.
"Juna, aku akan memberikan nomor Triani. Aku tau kamu suka dia sejak sekolah dasar. Mungkin kamu dapat mewujudkan cita-citamu yang dulu sekarang." tawar Namira.
"Siapa bilang aku suka Triani?"
"Dulu kalian kerap dijodoh-jodohkan bukan?"
"Aku menyukai kamu. Jangan terlalu insecure. Kenyataannya aku menyukai kamu sejak dulu. Sampai sini bisakah kamu berhenti memikirkan aku dan Triani?"
Namira tak percaya. Bagaimana bisa orang sesempurna Juna menyukainya? haruskah ia senang atau kecewa karena sandiwara ini gagal?
"Aku harus berpikir." Ucapnya lalu mematikan telepon.
__ADS_1
Aku harus menceritakan semua pada Andra. Ini sulit. Aku tidak mau kalah dari Bani tapi aku juga tidak bisa mendapat masalah lagi.