Karma Prosecutor

Karma Prosecutor
cincin


__ADS_3

"Kamu serius beli cincin pasangan?" Teriak Kinanti saat Namira menceritakannya.


Namira pasrah dan mengangguk. Ia tak lagi bisa menurunkan nada bicara Kinanti.


"Kamu mikir apa sih sama anak ingusan itu? Kalian jalan bareng di luar sekolah aja tidak pernah. Apa kamu tidak curiga dia punya selingkuhan makanya tidak mau membawa kamu ke luar sekolah?" Komentar Kinanti panjang lebar.


"Kayaknya tidak mungkin begitu deh. Dia hanya punya permasalahan keluarga yang rumit sepertinya." Bela Namira.


"Hah! dan kamu terlalu dibutakan. Ajak dia pergi akhir pekan. Kalau dia masih saja cari alasan, akhiri. Firasatku mengatakan dia aneh." Cecar Kinanti. Aku mengabaikannya.


Keesokan harinya saat upacara bendera berlangsung, aku meminta Kinanti yang berada di barisan depan untuk memperhatikan jari Bani. Leganya hati h


Namira ketika ia mendapati Bani menggunakan cincinnya. Namun esoknya lagi ketika ia terlambat ke sekolah, tak nampak Bani menggunakan cincin tersebut. Apapun alasannya terdengar sangat masuk akal bagi Namira. Ia pernah mengutarakan keragua nya pada Bani dan pria itu menjelaskan dengan sangat baik bahwa ia melepas cincin itu ketika tidur dan jika bangun terlambat tentu saja ia kelupaan. Alasan melepas cincin kala tidur adalah ia tidak mau mengigau dan kemudian kehilangan cincin yang berharga itu. Demi menenangkan hati Namira yang gusar, Bani mengajaknya pergi bersama di akhir pekan saat libur sekolah. Tentu saja ini menjadi sejarah penting bagi hubungan mereka karena selama 3 bulan ini mereka tidak pernah bertemu di luar sekolah. Bani menginstruksikan Namira untuk datang ke sekolah dan mereka memulai perjalanan bersama dari sekolah. Berboncengan pertama kali dengan Bani yang semula dinilai mustahil maka saat ini menjadi kenyataan.


Namira segera memberitahukan kabar ini pada Kinanti yang selalu mencurigai gelagat Bani.


"Aku juga ada urusan dengan tim Jurnalistik di sekolah pada hari itu. Aku bisa menemani kamu selama menunggu Bani di sekolah." Ujarnya. Tak lupa Kinanti memberi kode pada Andra.

__ADS_1


"Aku juga ada urusan di sekolah." Sambung Andra.


"Urusan apa?" tanya Namira bingung.


"Eh, bukan hari minggu besok." Andra meralat. Kinanti memberinya kode untuk tetap diam dan melaksanakan misi mereka.


"Andra, kamu cek ruang OSIS. Aku akan cari liputan seputar kegiatan OSIS. Saat kamu bilang ada yang tidak beres dengan OSIS, aku terus kepikiran. Kenapa namamu ada di data? Kenapa mereka mendatamu dan tertulis masa hukuman? Hukuman apa yang dimaksud?" Kinan berbisik pada Andra saat Namira sudah kembali ke tempat duduknya. Kinan dan Andra bahkan tidak dapat menjelaskan kekhawatiran mereka pada Namira.


Pak Awan memasuki kelas dan mengajak semua siswanya berpesta di rumahnya akhir pekan besok di hari Sabtu. Tentu saja semua teman-teman menyambut gembira.


"Wah, akhir pekan ini indah sekali!" Namira berteriak senang tanpa sadar. Mimik wajah pak Awan sedikit kaget melihat ekspresi Namira. Ia sadar jika muridnya yang satu ini sangat jarang menunjukkan ekspresi.


"Sama Andra?" Pak Awan melanjutkan pertanyaannya kembali. Maheswari mau tak mau angkat bicara.


"Bukan pak! Sama berondong manis!"


"Siapa? adik kelas?" Pak Awan justru bertanya pada Maheswari. Namira pun menyikut lengan Maheswari.

__ADS_1


"Oh, bapak pikir dengan Andra. Setidaknya walaupun beda suku, semua bisa berubah. Jangan tertipu dengan apa yang tampak." Pak Awan berlalu sambil membenarkan letak kacamatanya.


***


Hari Sabtu di kediaman pak Awan.


Semua anak sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Entah mengapa hari ini Kinan dan Andra sangat kompak. Mereka asik ngobrol dengan pak Awan. Entah apa yang dibicarakan. Sementara itu baik Ulan, Arini, Maheswari, dan Namira sibuk mencicipi hidangan yang disajikan. Semua sibuk dan yang tidak hadir hanyalah Rosi.


"Terima kasih kehadirannya anak-anak. Bapak terhibur sekali." Sela pak Awan. Anak-anak muridnya pun membantunya membereskan sampah-sampah di rumahnya. Semua sangat bersemangat.


"Mau pulang? Ayo bareng. Ini sudah malam dan jalanan sekitar rumah pak Awan cukup sepi." Ujar Andra.


Memang benar sekitar rumah pak Awan sepi. Rumah yang berada di antara sawah-sawah ini benar-benar dingin dan sunyi. Namira tidak menolak tawaran Andra. Sepanjang perjalanan ia teringat kata-kata Bani dan ekspresinya saat berkata 'Teruskan! Teruskan!' sambil hendak melempar sepatu. Namira pun tertawa sendiri. Tak sabar menunggu besok, maka sesampainya di rumah ia memastikan lagi pada Bani.


"Mudah-mudahan jadi." gumamnya. Bani hanya menjawab pertanyaannya dengan satu kata. jadi.


Namira berpikir mungkin Bani sibuk. Bahkan detail jam nya pun ia belum memberitahukan. Namira hendak bertanya tetapi diurungkannya. Mungkin sebaiknya menanyakan besok pagi.

__ADS_1


Besok jam 10.


Seolah bisa membaca pikiran Namira, Bani melanjutkan pesannya. Tidak ada kata-kata hangat. Namira pun bertanya pada dirinya sendiri apakah ia berbuat kesalahan?


__ADS_2