
Maheswari bungkam tak tau harus menjawab apa. Namira pun semakin yakin jika ia memang sudah bosan dengan pacar lamanya.
"Jadi? kamu mau lanjut cerita atau tidak?" desak Namira.
"Haha. Intinya mungkin memang aku sudah lelah atau terbawa nafsu dengan yang baru." Jawabnya dengan senyum terpaksa.
"Jadi kalau kamu diselingkuhi, menurutku karena kamu juga selingkuh." Timpal Namira.
"Tidak semua karma seperti itu. Mungkin kalau yang bersangkutan dengan mudah merelakan, karma tidak akan menjadi terlalu buruk. Tapi ntahlah, aku tidak paham karma." Balas Maheswari. Ia mulai membuka buku pelajarannya.
Senangnya karena besok hari libur. Namira ingin bersantai dari segala kegiatan sekolah dan hal-hal unik di dalamnya. Ia memutuskan menemani mama nya berbelanja di sore hari. Berhubung ini masih bulan baru, maka pusat perbelanjaan cenderung sepi di sore hingga malam hari. Para suku Ismi memilih menghabiskan waktu untuk berdoa dan berkumpul bersama keluarga. Sekalipun tidak sespesial suku Astral perihal doa dan hasil yang didapatkan, suku Ismi tetap memiliki kesempatab untuk menyatakan cita-cita dan harapannya di bulan Baru. Hanya saja hanya sedikit yang akan tercapai.
Hai Namira. Apa kabar?
seseorang mengirim pesan ke ponsel Namira. Nama yang tertera pada ponsel tersebut adalah Yana. Namira cukup kaget karena manusia yang satu itu mengiriminya pesan. Alasan Namira kaget adalah karena Yana sangat membencinya akibat peristiwa di masa lalu. Ada kelegaan di hati Namira, dan kemudian ia segera membalas pesan tersebut.
Kabarku baik. Bagaimana denganmu Yana?
Pesan terkirim.
Namira kemudian melanjutkan acara belanjanya dengan mamanya ke sebuah koleksi baju. Ia dan mamanya memang hobi berlama-lama di pusat perbelanjaan. Sebulan sekali mereka belum tentu dapat menikmati waktu bersama.
Kabarku baik juga. Oiya selamat atas jadianmu ya.
__ADS_1
Yana membalas pesan Namira. Ketika menerima pesan tersebut, ia nampak sangat kaget. Bagaimana Yana bisa mengetahui hal ini? Dengan cepat Namira membalas pesan tersebut dan kembali memilih atasan yang cocok untuknya.
kamu kok bisa tau? punya gebetan adik kelas juga ya?
Rasa senang memenuhi perasaan Namira. Ia berpikir bahwa berpacaran dengan Bani memberikan banyak keuntungan baginya. Setelah mencoba atasan yang dirasa cocok, ia menemui mamanya. Mereka kini sepakat menemukan kosmetik yang tepat dan berpencar. Nantinya mereka akan janjian bertemu setengah jam lagi di foodcourt.
Ting!
tanda pesan masuk berbunyi.
Tentu saja tau. Aku kenal Bani. Kami pernah kemah bersama. Dia satu tenda dengan Anggun.
Reflek setelah membaca isi pesan tersebut Namira menjadi emosi. Ia pun menghentikan langkahnya di sudut kasir dan menelpon Bani.
"Ayo angkat! Kenapa tidak diangkat-angkat sih?" gerutu Namira.
Setelah menelpon ke lima kalinya, barulah pemilik telpon menjawabnya di sebrang.
"Halo. Ada apa Namira?"
"Bani, kamu kenal Anggun? Siapa Anggun?" tanya Namira jengkel.
"Anggun siapa sih? Aku tidak kenal." Jawabnya bingung.
__ADS_1
"Katanya kamu pernah satu tenda sama dia. Kamu ngapain aja sama dia? Acara apa sih itu?" Namira terus mengintrogasi.
"Anggun? tenda? oooo.. Angguna Wirajaya! Dia teman OSIS ku. Aku satu tenda waktu pelantikan. Ngapain aja aku sama dia ya banyak yang kulakuin. Hahaha!" Bani tertawa terpingkal-pingkal.
"Oh, yasudah. Maaf sudah salah sangka."
"Kamu nelpon berkali-kali cuma karna Angguna? Kupikir kangen sama aku atau ada hal mendesak. Memangnya tidak bisa dibahas besok?" Ia masih tertawa.
Namira terdiam. Ia merasa sangat gegabah dan bodoh. Ini seakan bukan dia yang biasanya bisa bersikap tenang. Bahkan saat menghadapi Andra pun ia bisa dengan sangat tenang menunda untuk membahas sesuatu. Ya mungkin inilah yang dimakan cinta mati dan cemburu buta.
"Kok diem? Kamu sempat-sempatnya nelpon sedang tidak berdoa ya?" Tanya Bani.
"Aku menemani mamaku. Yasudah ya." Lanjut Namira yang masih malu dengan perbuatannya.
"Bentar, kamu tau darimana soal Angguna? Apa kamu sekarang sedang bertemu seseorang?" Bani menyelidik.
"Tidak. Yana, temanku di 3IKMH 3 mengirimku pesan. Dia mengucapkan selamat untuk kita. Ya sudah ya." Namira kembali ingin mengakhiri telepon karena selain salah menilai, ia juga tertangkap basah tidak berdoa.
"Oke. Kita lanjutkan besok." Ucap Bani.
Namira bernapas lega. Mana mungkin Bani bukan anak baik, ya kan? Itulah yang terlintas di pikirannya.
***
__ADS_1
Di tempat lain, sosok laki-laki sedang membaca buku hariannya. Ia juga mengamati ponselnya. Ia membaca pesan-pesan lampau yang tidak dihapusnya walaupun itu nyaris dua tahun lalu. Semua tersusun rapi termasuk pernak pernik kecil yang ditempel di dinding kamarnya. Ia mengingat bagaimana waktu tiga bulan yang penuh warna. Satu-satunya wanita yang mau mengajaknya bicara, mengajarinya tersenyum dan melihat dunia ternyata tidak benar-benar serius menjalin hubungan dengannya. Kenapa harus memulai sesuatu jika tidak tau caranya mengakhiri dengan bahagia? Begitulah yang selalu ia pikirkan. Bahkan setelah hampir dua tahun ini ia tidak bisa melupakannya. Setiap melihat wanita itu di sekolah ataupun di lembaga pendidikan tambahan, hatinya sesak dan tak bisa menahan tangis. Mungkin wanita tersebut juga berpikir bahwa ia cengeng. Tapi sungguh setelah wanita itu tidak lagi menjadi bagian hidupnya, ia kehilangan arah. Apa sebenarnya kekurangannya? Ia bertekad jika ia tidak bisa memilikinya, maka orang lain pun tidak boleh. Ia telah mengajukan peraduan setelah terus mencoba berbuat baik pada saksi-saksi yang dapat mendukung peraduannya. Lelaki ini cerdas sehingga bisa dengan mudah memenangkan peraduan dan peradilan. Masa lalu memang sudah berlalu. Namun pikiran kita adalah seperti mesin waktu yang mampu dengan cepat membawa kembali masa lalu termasuk rasa yang terjadi. Mengingat hal menyenangkan di masa lalu membuat perasaan saat ini menjadi menyenangkan. Bagi lelaki yang satu ini, tak ada yang bisa disembuhkan. Ia geram. Berharap prosecutor yang ditunjuk menyelesaikan kasusnya dapat menjalani tugas dengan baik. Menuntut tersangka dan memberinya hukuman yang setimpal pada wanita itu hingga ia terseok-seok meminta maaf atau akan lebih baik jika kembali bersamanya.