Karma Prosecutor

Karma Prosecutor
Rosi


__ADS_3

Tidak ada yang janggal dengan rumah Ulan menurut Namira. Hanya saja ketika pulang di senja hari, ia harus menatap kuburan dengan pohon beringinnya yang besar. Begitu besar hingga membuat suasana di sekitarnya gelap dan suram. Untungnya Namira sejalan dengan Andra. Mereka beriringan menaiki motor masing-masing saat pulang. Bertempat tinggal di pusat kota setidaknya sangat menguntungkan. Bahkan ketika hari mulai gelap, hiruk pikuk aktivitas setiap orang terasa tidak pernah padam. Namira tiba di rumah dan langsung mandi. Hari yang sangat melelahkan. Besok olahraga dan jam olahraga biasanya dimulai jam 6 pagi. Setelah itu para siswa pulang ke rumah masing-masing dan kembali ke sekolah pada jam 9 pagi. Namira bergegas menyelesaikan makan malamnya dan berharap bisa tidur cepat. Tidak banyak hal yang ia bincangkan dengan ayah dan ibunya. Ia hanya ingin mengisi tenaga untuk besok.


drrrttt


sebuah pesan masuk tanpa nama.


Namira, besok selesai olahraga boleh aku ke rumahmu? aku sedang malas di rumah. 😄


Namira bertanya-tanya siapakah pengirim pesan tersebut. Namun alangkah tidak sopannya jika nanti ia dianggap tidak mengenal teman sekelasnya sendiri.


Iya, boleh


Jawaban Namira begitu singkat dengan mempertimbangkan jenis kelamin si pengirim pesan. Akhirnya ia menanyakan nomor pengirim pesan tersebut kepada Kinan. Akhirnya misteri terpecahkan. Itu adalah nomor Rosi. Membayangkannya saja Namira sudah sedikit ketakutan. Apa tujuan Rosi kemari? Apa yang harus dilakukan jika Rosi dirasuki lagi? Namira malah semakin tidak bisa tertidur nyenyak. Ia keluar dari kamarnya dan menuju ruang keluarga dimana ayah dan ibunya sedang asik menonton televisi.


"Ma, besok tolong bangunin Namira ya? Jam 5 pagi atau setengah 6 pagi." pinta Namira.


"Mama kira kamu sudah tidur." ucap ibu Namira.

__ADS_1


Namira tidak membahasnya dan kembali ke kamar.


***


Jam menunjukkan setengah 6 pagi. Namira bergegas berganti baju, memakan sepotong roti, dan tanpa mandi ia mulai menghidupkan motornya. Ibunya biasanya pergi ke pasar dan ia pun memilih pergi tanpa pamit karena ayahnya pasti masih tertidur. Langit sudah sedikit terang dan inilah waktu yang tepat memulai perjalanan ke sekolah.


Namira dan Rosi tidaklah dekat walaupun mereka duduk di meja yang dekat. Rosi sibuk dengan dunianya begitupun dengan Namira.


"Nanti tunggu aku ya? aku menyusulmu dari belakang." ucap Rosi. Namira hanya mengangguk. Mereka pulang beriringan. Setibanya di rumah Namira, Rosi memandang sekeliling seorang mencari sesuatu. Namira mengajaknya ke lantai dua. Di lantai satu hanyalah ruang tamu dan sebuah kamar tamu. Ruang keluarga, dapur, dan kamar semua berada di lantai dua. Aktifitas keluarga Namira terpusat di lantai dua. Ibu sudah menyiapkan sarapan dan menuju lantai bawah untuk mengurus bisnis konveksinya. Ayah Namira sudah pasti tidak di rumah. Adiknya juga pergi sekolah. Namira mempersilahkan Rosi mandi dan sarapan terlebih dahulu. Rosi malah menyuruh Namira melakukannya terlebih dahulu. Ia masih melihat sekeliling rumah Namira.


Tanpa berpikir panjang dan demi menghemat waktu yang sudah menunjukkan jam 7 pagi, Namira bergegas mandi.


Berhubung Namira memang tidak terlalu akrab dengan Rosi, ia hanya mengiyakan saja. Mereka sarapan bersama namun Rosi mengeluarkan piring plastik dan gelas yang dibawanya sendiri.


"Maaf Namira, bukannya tidak menghargai, tapi aku tidak bisa memakai barang bekas. Kamu paham kan? setiap benda ada roh nya tersendiri." Jelasnya.


Namira sebenarnya tidak paham tapi ia pasrah dan mengangguk.

__ADS_1


"Namira, penghuni rumahmu ini banyak ya. Senang sekali mereka di sini. Suku mereka bermacam-macam dan membentuk keluarga di sinim" terang Rosi. Sontak bulu kuduk Namira merinding. Rosi dengan matanya yang lebar memandang arah sudut tangga.


"Dia kalau dikasi permen pasti suka. Nenek kakek yang disitu paling suka duduk di teras depan kamarmu. Itu sebabnya lampu teras kamarmu selalu mati berapa kalipun kamu mengganti lampunya. Waw dan di lantai satu, istana mereka megah sekali di sana. Bagian kamar mandi lantai satu." Rosi masih melanjutkan penjelasannya.


Ia mengeluarkan kertas gambarnya dan mulai menggambar.


"Kamu suka menggambar?" tanya Namira memperhatikan apa yang digambar Rosi.


"Iya, aku juga suka baca komik." Rosi membalas sambil tetap menggambar. Awalnya Rosi menggambar anak-anak dan orang dewasa sekalipun baru sebatas siluet. Lama kelamaan gambar itu mulai tidak jelas. Ada yang salah satu matanya hilang, ada yang tanpa wajah, dan bentuk-bentuk lainnya. Namira tak ingin melanjutkan untuk melihat. Ia menatap jam dan sudah jam 8.


"Kita berangkat saja ya. Takut macet." Alasan Namira hanya agar Rosi berhenti mengulik isi rumahnya.


Rosi pun setuju dan mulai membagi permen ke sudut rumah Namira. Ia juga tersenyum ramah dan berpesan untuk baik-baik menjaga rumah Namira. Sungguh hal ini membuat Namira seakan kehilangan akal sehatnya. Apalagi ibunya saat ini hanya sendirian di rumah.


"Kamu tau tidak kenapa aku tidak mau ke rumah Ulan?" tanya Rosi tiba-tiba. Namira hanya terdiam karena tidak ingin membahasnya.


"Apa yang ada disana bisa menyerap energimu. Mereka mempengaruhi jiwamu. Makanya Ulan selalu nampak sakit-sakitan tidak berenergi. Memang dia juga terlalu cuek. Tapi selain alasan itu, aku rasa aku tidak perlu bimbingan master untuk bisa memperdalam materi belajar. Kenalanku banyak yang membantuku. Kamu paham maksudku kan?" Rosi tersenyum sinis.

__ADS_1


Namira berusaha mencerna ucapan Rosi. Apakah selama ini soal ujian pun bisa bocor dengan bantuan makhluk-makhluk itu? Menyeramkan.



__ADS_2