
Seminggu sudah libur sekolah berlangsung. Kini saatnya menapaki kelas baru dengan semangat baru. Hubungan Namira dan Yana juga berjalan lancar. Mereka tidak pergi berkencan dan hanya menghabiskan waktu dengan ponsel. Yana sepertinya baru menemukan keasikan bermain ponsel.
Awal memasuki kelas baru, ada rasa canggung dan rendah diri di hati Namira. Ia mempelajari karakter teman-teman sekelasnya. Semua merupakan perwakilan terbaik di kelas mereka terdahulu. Keadaan kelas sunyi. Semua sibuk mempersiapkan materi yang akan mereka pelajari di tahun ajaran ini. Tak sedikit yang mulai mempelajari soal-soal dan benar saja jika laki-laki di kelas itu hanya 10 orang dari total 40 siswa. Satu yang paling diingat adalah Rezta yang merupakan murid baru.
Yana nampak gelisah dan bolak balik memperhatikan keadaan Namira di kelas baru nya. Ia pun mengirim pesan lewat ponsel berharap keduanya bisa bertemu sepulang sekolah. Ketika mereka bertemu, Yana masih saja membahas soal perbedaan kelas. Ia akan terus ngotot agar bisa sekelas. Namira mulai menyadari betapa kerasnya sifat Yana.
"Memangnya ada apa? Kamu cemburu atau bagaimana?" tanya Namira kesal.
"Di kelasmu laki-lakinya pintar-pintar. Bukannya aku cemburu tapi aku khawatir tidak bisa menjadi yang paling kamu andalkan lagi." Ucap Yana emosi. Namira menghela napas. Ia tak habis pikir dengan pola pikir Yana.
"Sudahlah. Kita jalan-jalan saja yuk?" Ajak Namira. Mereka pun menuju pantai. Sayangnya di tengah perjalanan Yana mengajak putar balik dan kembali. Mereka harus membatalkan rencana mereka ke pantai.
"Ah, bensin ku rasanya tidak cukup sampai ke pantai. Tempat mengisi bensin juga cukup jauh. Selain itu tumbuhan di sekitar kita melarang pergi ke pantai. Makhluk penunggu disitu tidak suka melihat pasangan ke pantai. Mereka akan memprovokasi agar bertengkar dan putus. Aku tidak mau itu." Yana menjelaskan dari atas sepeda motornya.
Namira mengangguk namun juga dongkol. Yana orang yang sangat detail. Ini memang karakter yang baik terutama untuk dipertahankan di masa depan. Namira hanya harus bersikap lebih sabar dan terbiasa.
"Permisi, Namira ada?" tanya Yana di depan pintu kelas Namira.
Beberapa teman-teman menatap Namira seolah tidak percaya bahwa ia akrab dengan pria itu. Benar saja, mereka berbisik-bisik karena merasa canggung dengan Yana. Bukan karena ia lelaki yang tampan, melainkan karena ia tegas, santun, dan pendiam. Lagi-lagi di jam istirahat Yana meminta waktu Namira untuk mereka habiskan bersama. Dunia seakan milik mereka. Tugas sekolahpun harus dikerjakan berdua seolah kelompok-kelompok belajar yang dibuat para guru tidak berarti. Namira harus selalu dalam pengawasan Yana.
"Namira, ini seakan sudah keterlaluan." Kinan memperingati.
Tidak heran jika Namira tidak memiliki teman lain selain Kinan di kelasnya. Hal itu karena ia sibuk menghabiskan dunianya dengan Yana. Kinan yang sebangku dengan Namira nyatanya sudah bisa akrab dengan teman-teman baru di kelas ini.
Kinan menghampiri Yana yang nampak hendak mengajak Namira menghabiskan waktu istirahat bersama.
"Yana! Namira itu punya kehidupan yang lain. Sekali-kali biarkan dia berbaur dengan teman-teman." Kinan mulai emosi dan hal itu memancing emosi Yana.
__ADS_1
"Urusanmu apa? Dia pacarku! Aku langitnya! Namira mengeluh apa ke kamu? Nanti aku introgasi dia!" Yans menyingkirkan badan Kinan dan beranjak ke meja Namira.
"Ayo ikut aku!"
Namira mengangkat kepalanya dan diam. Banyak mata memandang mereka. Tidak pernah ada kontak fisik selama mereka pacaran walaupun hanya bergandengan tangan. Namun kali ini Yana menarik tangannya.
"Kamu tidak boleh terprovokasi siapapun sampai akhirnya kita nikah." Yana menatap Namira tajam.
"Maksudmu? Gimana dengan kelanjutan studi kita? Jurusan apa yang akan kamu ambil? Haruskah kita satu sekolah lagi?" Namira berusaha menjernihkan pikiran Yana.
"Tentu. Kamu mau jurusan apa? kedokteran? pengobatan? kalkulus? Aku akan selalu di sampingmu. Sampai bekerja pun kita harus satu tempat." Ucapnya tersenyum sambil menerawang membayangkan indahnya masa depan.
Namira jengah. Ia merasa sesak.
"Kita masuk kelas dulu, sebentar lagi bel berbunyi. Mengenai masa depan, sebaiknya tidak membahasnya sekarang. Aku belum berpikir sejauh itu." Terang Namira.
"Hei!!! kelas 2IKMH 1, pacarnya Yana!! Cepat tenangkan Yana!" Seseorang berteriak dari depan kelas. Hal itu membuat teman-teman menatap Namira. Ia merasa malu dan akhirnya bersama Kinan menuju kelas 2IKMH3.
"Yana, kamu kenapa?" tanya Namira.
"Kamu asik dengan duniamu sendiri ya?" Ia menoleh dengan tatapan garang.
"Kalau kamu bersikap seperti ini terus, kita putus!" Tegas Namira.
Yana terkejut dengan pernyataan Namira.
"Aku tidak mau putus!" Nada bicaranya semakin meninggi. Ini hal memalukan seumur hidup Namira.
__ADS_1
"Pasti Kinan yang memprovokasimu kan? Awas dia nanti!" Yana mengepalkan tangannya.
Namira bingung. Ia merasa ini sudah keterlaluan. Ia kembali ke kelas sedangkan Kinan merasa ia baik-baik saja. Namira tidak perlu mengkhawatirkannya.
Kalau tidak mau putus, tolong bersikaplah lebih baik.
Namira mengirim pesan kepada Yana namun tidak dibalas. Kali ini Yana mengikuti kelas bimbingan di jam yang sama dengan Namira. Hal ini membuat Namira jengah.
"Di sekolah aku memberimu kebebasan. Di sini tidak." Ucapnya tegas.
"Kamu kenapa? Apa yang kamu takutkan?"
"Aku harus memastikan istriku baik-baik saja."
Namira merasa risih dengan perkataan Yana.
"Kita bahkan belum lulus. Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi. Selama tiga bulan ini aku cukup sabar. Tapi kali ini aku tidak bisa." Ucapnya.
Yana masih bingung dengan maksud Namira. Berhubung besok hari libur, Yana mengajak Namira kencan sekaligus berusaha membujuknya agar tidak marah. Kata-kata dan tatapan Namira seolah berbeda dan seakan nasib hubungan mereka di ujung tanduk. Itulah sebabnya Yana mengajaknya kencan.
Ini kesempatan bagus untuk mengakhiri semuanya. Gumam Namira.
Mereka bertemu di taman depan museum, tempat dimana Yana mengutarakan perasaanya.
"Kita berjalan-jalan memutari taman sambil ngobrol yuk!" Ajak Yana. Namira hanya mengangguk.
"Besok setelah lulus kamu mau di jurusan apa? Kita bisa membuat bisnis bersama." Yana membuka pembicaraan dengan topik yang tidak disukai Namira. Ia semakin membual dengan pernikahan dan berharap selalu bisa memasak masakan yang Namira suka. Ia juga akan menerima jika Namira tidak bisa memasak karena ia hanya memakan sayur-sayuran.
__ADS_1
"Berhenti! Aku tidak suka membahas itu. Tujuanku kesini adalah untuk mengakhiri hubungan kita." Ucapnya dingin.