Karma Prosecutor

Karma Prosecutor
Karma Prosecutor


__ADS_3

Selesai ujian percobaan pertama, Namira menghela napas dan berterima kasih pada Andra.


"Tenang, ini baru ujian percobaan. Aku memang tidak sepintar kamu. Tapi yakinlah kunci jawaban yang kuberi paling tidak 70 persennya benar." Andra tersenyum jahil dan membuat Namira tersenyum. Pemandangan yang terjadi di depan kelas membuat beberapa pasang mata melihat kejadian itu.


"Wah Namira! Hati-hati ada yang marah tuh!" ucap Aldi sambil menunjuk ke arah atas dimana Bani sedang berdiri mengamatinya. Pandangan Namira dan pria itu bertemu. Setelah sadar bahwa mereka berpandangan cukup lama, Namira lantas menjawab pernyataan Aldi.


"Menjijikkan sekali! Dia mau marah atau tidak bukan urusanku!" ucapnya sinis. Mungkin Bani tidak mendengar ucapan itu akan tetapi tinggkah laku Namira sangat menunjukkan ketidaksukaannya. Ia pun kembali ke kelas meninggalkan Andra dan Aldi. Andra dengan senang hati memarahi Aldi sekaligus menjelaskan yang terjadi.


Ujian selanjutnya adalah praktikum Ilmu Kesehatan Makhluk Hidup. Semua berjalan lancar bagi Namira walaupun pikirannya sedang kacau. Nasib berkata lain. Ia harus lagi-lagi berhadapan dengan Bani dan gerombolannya ketika hendak bersantai di kantin.


"Jadi kamu putus?" Ucap seorang pria dengan postur berisi.


Nampak Bani hanya mengangguk. Sepertinya mereka tidak sadar bahwa Namira dan Kinan duduk di sebrang mereka.


"Lebih tepatnya diputusin." Jawab Riyan.Mereka tertawa-tawa.


"Yasudah kan sudah ada Meila. Lebih baik kamu kembalikan cincinnya. Sudah belum?" tanya pria bertubuh berisi itu lagi.


Bani menggeleng.

__ADS_1


"Hah? belum dikembalikan? mau kamu jual?" tanya Riyan dengan sangat ekspresif.


Bani tidak menanggapi.


"Kamu masih suka?" Riyan kembali bertanya.


Lagi-lagi tidak ada tanggapan.


"Dua tahun kan. Kamu masih ada banyak waktu untuk memanfaatkan cintamu yang berbunga-bunga itu." Riyan tertawa terbahak-bahak.


"Dua tahun apanya?" tanya pria bertubuh berisi itu.


"Ini gara-gara Maesti." Bani buka suara.


"Dia mantanmu kan?" tanya Riyan.


Bani mengangguk.


"Jadi bagaimana?" Riyan bertanya kembali.

__ADS_1


"Kita lihat saja dua tahun ini." Bani menjawab santai.


Di sisi lain Namira memberanikan diri beranjak dari kursinya. Ia bahkan belum sempat meminum pesanannya. Kinan melirik tajam ke arah Bani dan gerombolannya. Ia tetap santai menikmati makanannya. Pasti Bani akan mendapat hukuman dari kebocoran ini. Begitulah isi pikiran Kinan.


Sementara itu di kelas, Namira mencoba mencerna segalanya. Ia berbicara pada Andra mengenai apa yang ia dengar.


"Di sekolah kita ada yang disebut Karma Prosecutor disingkat KP. Mereka memiliki nomor masing-masing. Aku tidak tahu mereka manusia atau bukan. Yang jelas mereka diminta memberi tuntutan terhadap orang-orang yang diajukan kliennya. Ya begitulah." Jelas Andra.


"Kamu tau darimana?" Namira menatap Andra.


"Aku menyelidiki semua ini bersama Kinan. Kliping-kliping serta surat kabar dari tahun-tahun sejak sekolah ini berdiri kami kumpulkan. Kesimpulannya adalah itu." Terang Andra kembali.


"Aduh tidak masuk akal. Aku masih bisa mentoleransi ketika suku Astral dapat bicara dengan hewan dan tumbuhan. Aku juga berusaha memahami akal sehatku dengan adanya makhluk astral. Dan sekarang? Aku harus mempercayai makhluk tidak jelas entah dia setan atau ruh gentayangan bak malaikat tapi jahat? Keadilan macam apa yang mereka pelajari?" Namira berkata dengan sinis.


"Aku tau ini tidak masuk akal. Makanya aku ragu menceritakan ini." Andra menunduk takut salah bicara.


"Maaf Andra, siapa yang mengadukan aku?" Namira jelas-jelas sangat penasaran.


"Yana. Dia yang mengadukan kamu." Andra menepuk pundak Namira berusaha meredam emosinya yang mungkin akan muncul setelah mengetahui ini semua.

__ADS_1


__ADS_2