
Namira merasa semua ini sudah jelas. Kini saatnya menata hati dan pikirannya. Ujian percobaan selesai hari ini. Suku Ismi berkumpul di depan Aula dan di sana berdirilah sosok Bani. Namira berlalu begitu saja dan mengacuhkannya. Ia menemui teman-teman yang seangkatan dengannya.
"Namira, bagaimana kabarmu? Sudah sanggup melupakannya?" tanya Dayat yang terkesan sengaja mengeraskan suaranya agar Bani mendengar jawabannya.
"Tentu saja. Pacarku sekarang sangat hebat. Dia sudah masuk Universitas terkemuka." Jawabnya tak kalah keras. Bani melirik ke arahnya dan Namira membuang muka. Dayat cukup terkejut dengan jawaban Namira walaupun sebenarnya wanita itu juga penasaran dengan ekspresi Bani.
"Namira! kamu di sini! teman-teman ingin pergi ke rumah pak Awan sekarang. Kita akan membahas ujian percobaan seminggu ini dan apa yang akan diujikan saat ujian praktek minggu depan." Andra menepuk pundaknya.
"Kak!" Bani menghampirinya.
"Siapa yang kamu panggil kakak? Apa aku kakakmu?" tanya Andra acuh.
"Ternyata setelah putus denganku pun dia tidak akan denganmu. Percuma saja kamu bersikukuh mencari tau soal aku." Bisik Bani.
Andra mengepalkan tangannya.
"Ayo pergi Andra! Aku merasa mendengar bisikan anak buah iblis. Sayangnya aku tidak bisa melihatnya. Andai bisa, sudah kukoyak badannya." Ucap Namira berusaha tegar. Ia menggandeng Andra.
"Ini tidak benar!" Geram Bani. Ia kemudian menemui Yana.
"Kamu menghancurkan masa hukumannya!" Tegur Bani.
"Kamu menyalahkan aku? Jelas-jelas kamulah yang bodoh! Aku ingin dia sakit hati seperti aku! Seumur hidupnya!" Bentak Yana.
"Apa kamu tau umur hidupmu berapa lama? Apa kamu rela seumur hidupmu hanya menyesali Namira?" Bani kembali bertanya.
"Aku mungkin tidak bisa menyukai orang lain lagi." Ucapnya.
__ADS_1
"Aku pastikan aku akan menjadi yang tak terlupakan bagi dia. Dengan begitu apakah semua selesai?" tanya Bani.
"Dia harus menderita!" pinta Yana.
"Apa dengan begitu kamu senang? artinya kamu tidak sepenuhnya menyukainya." Balas Bani.
"Sekali lagi kamu berkomentar, aku akan menuntut kamu untuk dihancurkan." Tegas Yana mengancam.
"Jaga mulutmu! Namira memiliki banyak pelindung. Sepertinya memang sejak awal kamulah yang terlalu menaruh harapan tinggi." Bani pun pergi.
"Tidak ada yang boleh memiliki dia!" teriak Yana menggila.
Di rumah pak Awan, ketika pembahasan serius telah usai, Namira duduk di balkon seorang diri dengan pikiran-pikirannya. Rosi menghampirinya.
"Seru sekali hidupmu akhir-akhir ini." Ucapnya tersenyum dengan matanya yang bulat.
"Mungkin di tengah keputus asaan mu saat ini akan ada sosok baru yang muncul. Sebaiknya kamu tidak gegabah. Ketika memberi harapan lagi dan memulai kisah lagi, karmamu berjalan lagi." Terangnya.
"Apa itu berlaku untuk suku Ismi?" tanya Namira.
"Entah." Jawab Rosi sambil tersenyum dan pergi.
Namira sudah hafal benar dengan karakter wanita itu yang asal bicara lalu pergi.
"Hei! kenapa bengong?" tanya Andra.
"Tadi Dayat bertanya soal Bani dan aku berkata kalau sudah punya pacar." Jawab Namira tanpa menatap Andra. Pria itu kaget mendengar jawaban Namira.
__ADS_1
"Memangnya benar-benar ada pacar baru?" tanya Andra hati-hati.
"Tidak. Haha! Aku berbohong. Tapi apa tidak masalah jika suatu saat ketahuan?" Namira menjadi bingung sendiri.
"Aku rasa sebaiknya selesaikan masa hukumanmu dulu." Tawar Andra tanpa tau harus berbuat apa.
"Apa berlaku jika aku mencari pacar bohongan dari suku Ismi? asal kami sepakat tidak saling suka bukankah semua tidak masalah? Pada acara kelulusan nanti aku bisa memamerkannya." Namira berusaha menjelaskan semua pada Andra.
"Hentikan. Sudah cukup. Tidak ada yang bisa mengatur hati manusia. Bagaiman jika nyatanya dia menyukaimu?" Andra memberikan nada tegasnya dengan intonasi yang santun. Pria ini memang sangat jarang membentak.
"Seharusnya tidak begitu." Namira menjawab dengan sekenanya.
"Sudahlah. Berhentilah membalas dendam. Itu hanya membuatmu semakin capek."
"Tapi aku tidak terima diperlakukan seperti ini Andra. Yana bahkan sampai memanggilku perempuan brengsek. Aku harus menunjukkan hidupku baik-baik saja." Namira menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Sudahlah. Semua tergantung orangnya. Carilah orang yang tidak akan membuat peraduan walaupun ia sakit hati denganmu." Andra memeluk Namira dengan lembut.
***
Ujian praktek dimulai. Tidak banyak waktu yang harus dihabiskan dengan belajar. Sore hari menjadi longgar dan itulah sebabnya acara reuni sekolah lama diadakan. Saat itu ia bertemu dengan cinta pertamanya yang bernama Juna.
"Hei Juna! Bagaimana kabarmu?" tanya Namira berusaha menyembunyikan rasa kagumnya. Tidak hanya cerdas, Juna juga tampan dan satu suku dengan Namira. Di usia mereka yang sama, Juna memiliki level pendidikan dua tingkat di atas teman-temannya. Ia mengikuti akselerasi sebanyak dua kali di sekolah menengah dan atas. Ini adalah reuni sekolah dasar. Oleh sebab itulah mereka seumuran.
"Hei Namira!" Juna membalas dengan senyuman. Ia juga melihat kakak Maesti. Namira pun teringat dengan perseteruannya dengan Maesti.
"Namira! Hahaha! Akhirnya bisa bertemu! Aku dengar dari adikku kamu rebutan cowok dengan adikku! Asal kamu tau, dia mantan adikku dan orangnya aneh." Jelas pria itu. Sontak anak-anak yang lain ikut menertawakan Namira.
__ADS_1
Nasi sudah menjadi bubur. Di tengah tawa mereka, hanya Juna yang tidak peduli. Ia mengajak Namira mengobrol berdua. Mereka bertukar nomor ponsel dan Juna memberikan gambaran mengenai Universitas. Ia melanjutkan studinya di jurusan Jaringan Dunia di salah satu Universitas terkemuka di pulau Je. Tiba-tiba Namira teringat dengan kebohongannya kepada Dayat. Apakah Juna bisa diajak berkompromi? Ia bertanya-tanya dalam hati.