
Seharusnya Namira belajar dengan lebih giat saat ini, namun sejak munculnya wanita bernama Maesti ia menjadi susah berkonsentrasi. Namira tidak pernah merasa kesulitan bersaing dengan wanita-wanita lain mengenai kecantikan. Ia juga tidak pernah diselingkuhi karena selama ini pria-pria yang menyukainya umumnya adalah yang mengejar-ngejarnya teramat sangat. Ego gadis ini menjadi tinggi dan tidak mau kalah.
"Halo." Namira dengan penuh emosi menghubungi Maesti.
"Ya Halo. Aduh ada apa sih sampai menelpon?" tanya wanita di sana.
"Aku sudah bilang kan untuk tidak terlalu intens dengan Bani. Dia juga cukup aneh." Namira berusaha menjelaskan.
"Itu urusanku. Mungkin dia hanya aneh denganmu saja" Jawabnya ketus.
"Ya sudah!" balas Namira.
Telpon ditutup. Namira masih mengharapkan balasan dari Bani atas pesan-pesannya sejak beberapa hari lalu. Nihil.
Bani, kamu sehat kan?
tetap tidak dibalas.
Bani, apa ada orang lain yang kamu suka?
Namira memberanikan diri menanyakan hal tersebut dan tetap tidak dibalas.
Aku lelah. Mari putus saja.
Namira menggigit bibirnya. Ia tidak yakin dengan apa yang ia tulis.
Baik. Terserah kamu.
muncul balasan dari Bani yang benar-benar cepat dan diluar dugaan. Namira berusaha mengontrol emosinya.
Dari sisi kamu maunya gimana?
tanya Namira.
Terserah kamu
Namira menghela nafas panjang. Baiklah, kekhawatirannya selama ini tak berguna. Bani memang sengaja tidak membalas pesannya. Ia kecewa dan teramat kecewa. Tapi setidaknya bukan ia yang diputuskan. Tunggu dulu, bukankah memang ini yang ia harapkan? Ia pernah berkata tidak masalah Bani selingkuh asal ia tidak diputuskan kan? Kenapa rasanya sesesak ini?
Namira melampiaskan amarahnya pada Maesti.
Aku putus. Puas kamu?
Maesti menjawab.
Kasian ya kamu. Itulah akibatnya mempermainkan kakakku. Aku baru ingat nomor ponselmu ini adalah yang selalu diucapkan kakakku.
Namira terkejut. Siapa wanita ini?
Namira mengajaknya bertemu. Mereka bertemu di cafe terdekat.
__ADS_1
"Hai Namira!" sapa wanita itu dengan nada mengejek.
"Siapa sebenarnya kamu? Siapa kakakmu?"
"Galih Maestino. Kamu ingat?
Namira berpikir. Galih adalah temannya saat di sekolah dasar.
"Ya, aku ingat. Apa urusannya dengan kakakmu?"
"Sekarang dia di rumah sakit jiwa. Itu semua karena kamu."
"Aku? aku benar-benar tidak paham."
"Dia selalu menyukaimu bahkan saat kamu merusak mainannya. Dia memuja-mujamu di depan keluarga kami. Kakakku sangat menyukaimu sampai akhirnya kamu melanjutkan sekolah di luar kota tanpa pernah menghubungi kakakku. Nomor ponsel dan telpon rumahmu selalu diingat namun kamu memblokir nomor kakakku. Berkali-kali ia mengganti nomornya untuk menghubungimu tapi tetap tidak bisa."
"Tunggu, ada yang salah di sini. Pertama, kakakmu tidak pernah menyatakan suka. Kedua, dia selalu menelponku tanpa tau waktu. Aku sedang beradaptasi dengan lingkungan baruku. Dia selalu menelponku bertanya sedang apa. Hal itu diulang-ulang seperti seorang psikopat."
"Begitu? Maaf karena sudah salah paham. Tapi beginilah permainan takdir." Maesti menyilangkan kakinya dan bersedekap.
"Sekarang yang aku ingin tau adalah soal Bani. Bagaimana kamu bisa mengenalnya?" tanya Namira serius.
"Dia mantan pacarku. Dia bukan manusia. Hahaha!"
Namira merasa wanita ini stress.
"Hm.. kenapa ya? entah. Awalnya aku pacaran dengan temannya padahal aku menyukai Bani. Tapi hubungan kami tidak lama. Dia aneh dan orangtuanya sangat menentang kami tanpa alasan yang jelas. Seberapa kamu mengenal Bani?"
"Aku bahkan berpacaran dengannya belum lama." Jawab Namira.
"Mungkin kita bisa jadi teman setelah ini. Lambat laun kamu akan tau."
"Kalau memang Bani aneh kenapa sekarang kamu mendekati dia?"
"Aku ingin balas dendam sekaligus mencegah korban lain. Seharusnya kamu bukan khawatir padaku tapi pada wanita lain bernama Meila." Jelas Maesti.
Siapa pula Meila? Namira sudah tak bisa berpikir jernih. Ia bingung siapa yang harus dipercaya. Bani atau Maesti.
***
Libut hari tenang hampir usai. Hari ini Namira menginap di apartemen Ria. Menempuh waktu 45 menit untuk sampai kesana. Mereka membuka sesi curhat dan inilah kesempatan Namira mencurahkan segala isi hatinya. Ia tidak mau menumpahkannya di rumah karena khawatir dengan orang tuanya.
"Hm.. aneh. Kita harus mencari tau lebih detail. Kamu masih suka dengan dia?" tanya Ria.
"Tidak. Aku hanya penasaran saja." Jawab Namira.
Ponsel Namira berdering. Ayahnya menelponnya. Ia mengatakan jika laki-laki yang pernah mengantarnya pulang membawakan makanan untuknya. Hal ini kembali membuat Namira galau. Apa keinginan Bani sebenarnya? Namira memutuskan tidak pulang hingga libur selesai. Biarkan kedua orangtuanya saja yang memakan makanan itu.
***
__ADS_1
Jantung Namira berdebar. Ia tidak yakin untuk siap ke sekolah. Sesampainya di sekolah, semua bersiap menghadapi ujian percobaan. Peringkat yang muncul nantinya dapat menjadi gambaran hasil ujian akhir. Ia tidak melihat sosok Bani. Dengan tenang Namira menuju ke mejanya.
"Sudah siap? Ayo menunggu di depan kelas sambil menghirup udara segar." Ajak Kinan.
"Aku di kelas saja." tolak Namira. Beberapa menit kemudian bel berbunyi dan ujian pertama dimulai.
Jam istirahat. Semua teman-teman menuju kantin. Namira menolak ikut dan menunggu di kelas.
"Kamu puasa? Berpikir membutuhkan banyak energi. Makanlah dulu." Nasihat Andra.
"Aku tidak nafsu makan." Jawabnya.
"Ada masalah? Masalah itu dihadapi, bukan dihindari." Terang Andra.
"Ayo kutemani!" Ajak Andra.
Benar saja saat di kantin ia berpapasan dengan Bani dan Riyan. Mereka saling bertatapan dalam waktu yang cukup lama.
"Hentikan sinetron ini. Ayo kita makan." Ajak Andra sambil merangkul pundak Namira.
"Wah kakak hebat. Baru putus sudah ada pengganti." Celetuk Riyan. Bani pun masih menatap Namira tajam dan mengekori pergerakannnya yang sedang menuju kantin. Namira berusaha tenang hingga akhirnya Bani dan Riyan menghilang.
"Jadi akhirnya kamu putud? syukurlah." celetuk Andra.
Namira hanya diam. Ia sedang malas menanggapi apapun.
"Tenang saja. Keputusanmu ini benar dan tepat." lanjutnya.
Namira benar-benar merasa tidak bertenaga. Ia mencoba menghubungi Dayat.
"Dayat, kamu kenal Meila?
"Meila siapa?"
"Wanita yang sedang didekati Bani."
"Oh dia. Bani menolong dia yang pingsan saat berkemah pekan lalu. Tapi sebatas itu yang kutau."
"Acara kemah apa?"
"Acara OSIS bersama OSIS lain dari sekolah lain".
"Terima kasih Dayat".
Ketika telepon ditutup, Andra masih menatap Namira dengan perasaan tidak karuan. Ia benar-benar ingin memberitau semua hal yang tidak masuk akal ini padanya. Tapi apakah Namira akan percaya?
***
Namira tidak bisa berkonsentrasi. Andra mengamatinya. Ia lantas berpura-pura meminjam penghapus dan saat mengembalikannya, ia meletakkan kunci jawaban di sela-sela penutup penghapus. Andra benar-benar mengkhawatirkannya. Namun Namira tidak menggubris kunci jawaban itu. Ia berusaha fokus. Satu jam kemudian Namira dengan pasrah menyerahkan lembar jawabannya.
__ADS_1