Karma Prosecutor

Karma Prosecutor
Yana, Kinan, dan Namira


__ADS_3

Setelah memasuki museum dan melihat-lihat isinya, Yana mengajak Namira ke bagian belakang museum. Disana terdapat taman yang cukup indah.


"Namira, aku rasa aku menyukaimu." Tiba-tiba Yana mengucapkan hal yang membuat Namira terkejut. Saking terkejutnya, ia terpaku tidak bergerak menyusul langkah Yana.


"Aku tidak berharap kamu menjawab. Aku tau mungkin kamu juga tidak menyukaiku. Tapi aku harap kamu bisa mencobanya." Yana berucap sambil memandangi rerumputan di depannya. Namira bingung hendak menjawab apa. Akhirnya ia hanya diam dan suasana.menjadi canggung. Untung saja ponselnya berbunyi.


Kinan


Memanggil....


"Halo! Kita jadi pergi nggak nih?" Kinan menelepon dengan emosi tinggi. Namira melihat jam tangannya. Ia telat 10 menit ke rumah Kinan.


"Ah iya! aku kesana sekarang!" Namira segera menjawab dan mematikan panggilan. Sebuah kesempatan baik untuk kabur dari situasi ini.


"Yana, maaf aku harus pergi. Aku ada janji dengan Kinan. Aku lupa."


Yana tertawa kecil. "Kamu selalu takut dengan Kinan ya? Yasudah ayo kita ke tempat parkir. Aku juga mau pulang. Aku tunggu keputusanmu ya."


Mereka pun diam selama perjalanan menuju tempat parkir. Namira bergegas menuju rumah Kinan.


"Baru selesai pacaran? Ayo langsung makan di Resto Ayam." Kinan langsung meminta Namira mundur ke belakang agar ia bisa mengemudikan motor Namira.


Sesampainya di resto, Kinan memesan makanan dan menyisihkan sedikit makanannya di ujung piring.


"Kamu kenapa?" Namira mengamati tingkah Kinan yang tidak biasa.


"Ucapan Yana membuatku ngeri. Aku tinggal sendirian. Sering mendengar hal-hal yang tidak wajar. Mungkin karena aku kurang memperdulikan makhluk astral di sekitarku." Jawabnya.


"Kamu kan memang suku astral. Kalian bisa berkomunikasi dengan makhluk astral, hewan, dan tumbuhan kan?" Sambung Namira cuek.

__ADS_1


"Aku sudah lama di pulau sebelah. Teman-temanku suku Ismi. Aku sama tidak pekanya dengan mereka. Ayah ibuku menyuruhku pindah kesini agar aku paham siapa sebenarnya aku dan seperti apa lingkunganku seharusnya." Kinan menjelaskan panjang lebar. Namira mengangguk mengerti.


"Jadi apa kalian sudah pacaran?" Tanya Kinan


Namira mengangkat bahu.


"Entah. Aku tidak ada perasaan apa-apa dengannya. Dia sudah menyatakan perasaan berharap kami bisa saling mencoba. Aku bingung." Namira mencoba mengunyah makanannya dan bersikap tenang.


"Kita tidak di masa anak-anak lagi. Memilih pasangan pun harus matang. Tapi jodoh tidak ada yang tau. Bisa jadi berakhir dengan orang yang sama, atau justru berbeda." Kinan menatap Namira serius.


"Ya kalau tidak dicoba tidak akan tau." Namira menimpali. Akhirnya setelah dipertimbangkan, Namira butuh dukungan dari orang lain. Tentu saja memiliki pacar dapat membuat hari-harinya lebih baik dan bahagia. Sudah hampir satu tahun ia menjomblo. Terakhir ia berpacaran dengan Yudhis. Ia dikenalkan oleh tetangganya yang bernama Ria. Hubungan itu hanya berjalan tiga bulan. Sulit mendeskripsikan akar masalah berakhirnya hubungan mereka.


Keesokan harinya, masih dengan libur sekolah. Namira bersiap membalas pernyataan Yana. Ia mengetikkan sesuatu di ponselnya. Seketika ponselnya berdering.


"Terima kasih Namira! Terima kasih banyak! aku senang sekali!" Ucap seseorang di seberang.


Namira tersenyum tidak yakin. Ia pun tidak percaya bahwa akhirnya ia menerima Yana. Berhubung seminggu ini adalah libur sekolah, tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali bermain bersama tetangganya.


"Kenapa? Tentang Dharma?" Jawab Ria sambil melanjutkan permainan komputernya.


"Tentang Yana. Aku berpacaran dengannya. Menurutmu bagaimana?" Tanya Namira.


"Sudah pacaran baru tanya pendapat. Menurutmu pendapatku memberi hasil?" Jawab Ria cuek.


Namira menghela nafas. Benar juga perkataan Ria. Seharusnya ia meminta pendapatnya kemarin. Ia pun pulang dengan lunglai. Kinan lah yang dapat memahaminya saat ini.


"Kin, besok pengumuman pembagian kelas ya? Ke sekolah yuk! Aku bosan di rumah." Namira menghubungi Kinan.


"Ayo! aku janjian sama pacarku juga bertemu di sekolah. Sampai ketemu di sekolah." Jawabnya. Pacar Kinan adalah seorang mahasiswa. Tidak disangka ia menyukai lelaki yang matang. Tidak lupa Namira memberi kabar pada Yana bahwa besok ia akan ke sekolah. Lelaki itu memutuskan pergi juga sehingga mereka dapat bertemu.

__ADS_1


Aku harap kita sekelas. Semoga keputusan kelas kemarin masih bisa diubah.


Pesan dari Yana


Tidak nyaman satu kelas dengan pacar. Kamu bisa membantuku kalau kelasmu ujian duluan.


Namira membalasnya.


Ia mulai membayangkan jika sekelas dengan Yana. Sudah pasti dengan status hubungan mereka saat ini segalanya menjadi canggung. Apa jadinya jika hasil ujiannya jelek? tentu akan sangat memalukan. Apalagi Yana lebih pandai darinya.


Tetap saja lebih baik saling melihat dan saling dekat


Yana membalas kembali.


Namira memilih tidak menanggapi pesan terakhir Yana.


Di sekolah, banyak teman-teman yang melihat daftar nama di masing-masing kelas. Benar saja, Yana terpisah kelas dari Namira dan Kinan. Mereka di 2IKMH 1 ditambah dengan dua orang murid baru sedangkan Yana di 2IKMH3. Yana langsung menuju ruang guru. Ia mempertanyakan dasar pembagian kelas dan kenapa murid baru justru masuk di 2IKMH1. Jika memang kelas itu hanya untuk anak-anak dengan nilai Kesehatan Makhluk Hidup terbaik, mengapa ada anak baru? Benar saja, di kelas Namira dan Kinan hanya diisi oleh 9 anak laki-laki. Tidak tau apa yang mendasari pembagian ini, namun Namira tampak tegang. Ia harus sekelas dengan orang-orang pintar yang kemampuannya sangat jauh di atasnya.


Protes yang diajukan Yana tidak membuahkan hasil dan sekaligus membuat Namira merasa lega. Ia tidak ingin banyak orang mengetahui hubungannya dengan Yana.


"Sudah-sudah. Kita makan ke Resto Ayam yuk? Kemarin aku kesana dengan Kinan. Makanannya enak." Ajak Namira. Yana pun setuju.


Namira bebas memesan apa saja. Yana akan mentraktirnya. Ia memesan kebab ayam dan paket ayam bakar. Sedangkan orang yang mentraktirnya hanya memesan sup ayam. Itupun hanya berisi sayuran saja tanpa ayam.


"Aku jadi tidak enak." Namira memperhatikan menu yang ia pesan.


"Tidak apa-apa. Makan saja dengan santai." Yana tersenyum ramah dan memperhatikan Namira.


"Pantas badanmu bagus ya. Kamu bahkan tidak makan nasi." Ujar Namira.

__ADS_1


"Aku menahan. Aku terbiasa menahan keinginanku. Biasanya aku memakan apa yang dimasak ibuku atau aku sendiri. Aku memastikan bahan-bahan yang dimasak memang rela untuk kumakan." Yana mulai terbuka dengan Namira.


Wanita yang ia ajak bicara ini justru sibuk dengan pikirannya. Apa ia bisa bertahan berpacaran dengan Yana? Atau apakah ini pertanda baik bahwa Yana adalah orang yang tepat untuk dipertahankan di masa depan? Keduanya melanjutkan makan mereka tanpa membahas banyak hal. Yana berharap minggu depan ketika masuk sekolah kembali, ia bisa tetap sering bertemu dengan Namira sekalipun mereka berbeda kelas.


__ADS_2