
Beberapa tahun kemudian
Musim terus berganti. Waktu tak terasa bergulir dengan cepat. Banyak perubahan yang terjadi dalam beberapa tahun ini.
Rara yang dulu masih mengenakan seragam putih merah kini telah berganti seragam putih abu-abu, bahkan ia kini telah duduk di kelas XII SMA Bunga Bangsa, SMA favorit di kota nya.
Dalam kurun waktu itu entah mengapa Jodi selalu sekolah di tempat yang sama dengan Rara sementara Riko mau tidak mau harus memilih sekolah berasrama pilihan orangtuanya. Tapi mereka bertiga sering tak sengaja bertemu saat liburan sekolah karena memang masih di kota yang sama.
Kepergian Yola tanpa sempat berpamitan kepada semua teman sekolahnya dulu meninggalkan kesedihan dan penyesalan yang mendalam bagi Rara. Setiap mengingat Yola membuatnya menyesali kedatangannya saat itu yang meminta Yola menjadi saudara asuhnya. Andai dulu hal itu tidak terjadi, sesal Rara.
Dari arah kamar mandi siswi terdengar suara keramaian dan pekikan teriak seorang siswi berteriak tidak jelas sehingga membuat banyak orang berkerumun di depan kamar mandi siswi hendak mengetahui kejadian apa di dalamnya.
"Buset, itu ada yang kesurupan apa gimana teriak di WC?" Seloroh Farah.
"Loe yakin itu suara orang kesurupan? Panggil Bu Solehah guru agama biar dia yang tanganin." Rara mengusulkan.
"Et deh Bu Solehah tadi gak masuk kelas katanya lagi ada pertemuan guru mapel di sekolah Laen." Rosa mengeluh.
Tiba-tiba dari dalam kamar mandi keluar Wini dengan ekspresi kepanikan luar biasa. Ia celingukan mencari sosok yang sekiranya bisa membantu menyelesaikan masalah ini.
"Ra, itu tolongin si Dina lagi di kamar mandi katanya mau bunuh diri!" Pekik Wini, sahabat baik Dina setengah berteriak ke arah Rara.
"Haduh! Tuh bocah gak bosen apa ngancem mo putusin urat nadinya mulu!" Keluh Rara kesal lantaran kejadian ini sudah terjadi lebih dari 3 kali.
"Heh! Namanya juga cinta mati jadi akal sehatnya juga mati!" Ketus Rosa.
"Udah deh Ra, loe coba cari si Jodi biar dia rayu Dina biar gak nekad!" Wini makin panik.
Rara memutar bola matanya jengah. Ia sudah terlalu sering disibukkan dengan percintaan Jodi dan Dina yang sepertinya sudah tidak seirama lagi sehingga Jodi sering meminta putus tapi berakhir dengan drama seperti ini.
"Loe aja deh yang cari si Jodi, gue males!" Rara enggan selalu berurusan mengenai hal yang sama berulang-ulang.
"Ra, loe yakin enggak bakalan nyesel kalau si Dina nekad terus nasibnya berakhir jadi roh gentanyangan di kamar mandi sekolah?!" Bentak Rosa yang setengah sadar menyumpahi Dina.
"Pe'a loe! Teman lagi mau bunuh diri loe sumpahin modar!" Sewot Rara.
"Iya makanya loe sana gih cari si Jodi!" Wini semakin memaksa Rara agar mau menuruti keinginan Dina mencari Jodi.
"Cinta oh cinta deritanya tiada akhir." Sindir Rosa.
"Dasar murid patkay!" Sinis Wini.
Rara pun mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Jodi di setiap sudut sekolah. Tiba-tiba terbesit pikiran nya kalau Jodi sedang berada di lab IPA. Manusia ajaib itu memang selalu tertarik dengan dunia ilmiah.
__ADS_1
Ternyata dugaan Rara tepat karena ia melihat Jodi sedang asyik menekuni berbagai cairan yang ada di lab IPA.
"Di, loe cepetan gih ke kamar mandi, cewek loe mau bunuh diri lagi!" Rara menyuruh Jodi ketika sudah berada dekat dengannya.
"Gue capek Ra." Lirih Jodi.
"Iya loe kan bisa omongin baik-baik sama Dina." Nasihat Rara.
"Selalu Ra, gue selalu bicara baik-baik tapi dia kagak ngertiin juga." Jodi putus asa.
"Bentar lagi kan kita mau lulusan baru deh loe mungkin bisa menghindari dia." Rara menepuk bahu Jodi pelan memberi solusi yang sekiranya bisa meluluhkan kekerasan hati Jodi.
"Masih berapa bulan lagi Ra, sementara gue beneran gak ada rasa lagi sama Dina." Aku Jodi.
"Jangan sombong loe! Nanti kalau pas reunian loe ketemuan sama Dina udah cantik cetar membahana baru nyesek ntar." Rara menoyor kepala Jodi.
"Ra, pacaran yuk?" Jodi menatap Rara.
"Stres loe ya? Cewek loe mau bunuh diri gara-gara gak mau diputusin eh loe malah nembak gue!" Bentak Rara sambil menjewer telinga Jodi.
"Justru itu biar Dina gak mau lagi sama gue makanya kita jadian. Loe kan nyeremin jadi dia gak bakalan berani marah sama loe." Jodi cengengesan menggoda Rara.
" Suwe loe dasar!" Rara emosi.
"Udah deh loe sana temuin Dina biar gue gak kesalahan." Kali ini Rara menarik tangan Jodi agar mau menemui Dina.
Jodi tidak melewatkan kesempatan ini untuk merangkul Rara sepanjang perjalanan menuju ke arah Dina. Modus yang sempurna.
Sementara Rara menahan rasa risih demi menyelamatkan Dina yang ia khawatirkan gelap mata memutuskan urat nadinya.
Mendekati arah kamar mandi barulah Rara melepaskan diri dari Jodi dan mendorongnya ke arah Dina.
Dengan langkah gontai Jodi menuju salah satu ruang kamar mandi yang sudah ada Wini dan beberapa temannya di depan pintu.
Tok tok tok
"Din, buka pintunya..." Jodi mengetuk pintu kamar mandi seraya memanggil Dina.
Mendengar suara pujaan hatinya Dina menghentikan jerit tangisannya. Ia mulai menyeka air matanya lalu membuka pintu.
Cklek
"Jodi! Aku sayang kamu! Jangan putus, please!" Dina yang tadi terisak tangis langsung menghamburkan pelukan ke arah Jodi.
__ADS_1
Jodi merasa risih dengan perlakuan Dina yang berlebihan di hadapan banyak temannya. Hal yang sudah terjadi berulang-ulang.
"Din, please... hubungan kita tuh udah gak sehat isinya cuma berantem gak jelas" Jodi masih mencoba memberi pengertian kepada Dina.
"Gak mau...!! Gak akan pernah ada kata putus!" Tolak Dina sambil meraung-raung.
"Terserah. Gue udah dijodohin dari kecil jadi udah pasti gue bakalan nikah sama cewek lain." Jodi mengutarakan alasannya.
Sebelum kenaikan kelas XII Rojak dan Rodiah memang telah memberi tahu Jodi kalau ia telah dijodohkan sesuai pilihan Nyai Dima, Ibu dari Rojak. Hal itu mereka lakukan lantaran melihat Dina yang kelewat posesif terhadap Jodi.
Kenyataan itu cukup membuat Jodi gusar tapi kedua orangtuanya mengatakan bahwa perempuan yang dijodohkan itu masih terbilang dekat dengan Jodi tanpa memberi tahu kalau perempuan itu adalah Rara.
Dina membelalakkan matanya mendengar pengakuan Jodi kalau kekasihnya itu telah dijodohkan sejak kecil. Tubuhnya langsung lemas seketika hingga ia pingsan dan membuat Jodi terpaksa membawanya ke ruang UKS.
"Kenapa lagi dah itu si Dina?" Rosa kepo.
"Iya kenapa dia ampe kelenger gitu?" Farah ikut kepo.
Rara yang melihat Jodi tergopoh-gopoh menggotong Dina ke ruang UKS mulai menebak kalau Jodi pasti mengatakan hal yang buruk kepada Dina.
Tak mampu menahan rasa penasarannya akhirnya Rara mendatangi ruang UKS dimana tempat Dina mendapatkan perawatan.
"Di, kenapa lagi si Dina?" Suara Rara agak berbisik khawatir mengganggu anggota PMR yang sedang memeriksa kondisi Dina.
"Dia enggak bisa terima kenyataan." Jodi jujur.
"Loe mah orang lagi depresi mau bunuh diri bukannya di tenangin." Rara menoyor kepala Jodi.
"Udah terlanjur Ra, biarin aja dia sekalian lupain gue." Jodi bersikeras.
"Kejam loe ternyata ya." Rara geleng-geleng kepala.
"Biar kenyataan itu pahit tapi lebih baik daripada gue kudu pura-pura terus jadi pacar die." Ungkap Jodi.
"Yasalam... Loe jarang bener nye ngapa soal perasaan tumbenan loe bisa tegas begini." Rara takjub dengan pernyataan dari Jodi.
"Gue enggak mau aja Ra cewek yang bakalan dijodohin sama gue nanti salah paham kalau gue belum putus sama Dina." Curhat Jodi.
"Hah? Loe dijodohin? Wagelaseh kasian juga nasib loe ye kagak bisa milih nikah sama cewek yang loe suka." Ceplos Rara.
"Iye makanya loe mau ye jadi cewek gue biar si Dina kagak mau lagi sama gue?" Jodi merajuk.
"Ogah! Kagak Sudi gue." Rara meninggalkan Jodi yang dalam kondisi seperti itu masih sempat meledek dirinya.
__ADS_1
Belum tau aja Rara kalau cewek yang dijodohin sama Jodi itu ya si Rara 😂