
Setelah Dina berlalu pergi dari kantin, Rosa tidak dapat menahan rasa penasarannya akan hal yang tadi sekilas ia dengar berdasarkan bisikan gaib Dina ke telinga Rara.
"Ra, itu tadi gosip kan apa yang dibilang sama si Dina?" Rosa bertanya ragu-ragu.
"Oh, tadi emang loe dengar juga?" Rara tidak langsung menjawab karena takut akan menimbulkan salah faham.
"Dina tadi bisikin apa, Ra?" Tanya Siska lugas.
"Gue kok gak yakin kalau si Dina bakal ngomong hal benar sama loe, Ra." Hilda memicingkan matanya, meragukan ketulusan Dina.
"Gue butuh tabayyun nih..." Rara tak ingin salah mengambil sikap.
"Apa tuh? Tabayyun?" Siska merasa asing dengan istilah itu.
"Mangkanya ngaji, Sis. Loe mah tau nya dunia perLambe an aje sih." Sinis Hilda.
"Eh iya, kapan ya gue terakhir ngaji?" Siska bertanya kepada dirinya sendiri.
"Mampus loe besok agama praktek ngaji." Hilda semakin memojokkan Siska.
"Duh, iya gue sholat aja jarang." Siska mengakui kesalahannya.
"Et deh, mau ujian gini mah kalau bisa di tambahin sholat tahajud sama sholat hajat biar keinginan kita terkabul." Hilda memberikan sedikit siraman rohani.
"Baik Bu haji." Sahut Siska.
Siska dan Hilda tak menyadari kalau di tengah perdebatan mereka ternyata Rara dan Rosa sudah berjalan meninggalkan mereka.
"Bocah dua kemana dah?" Siska celingukan mencari sosok kedua sahabatnya.
"Boy, loe lihat si Rara sama Rosa gak?" Siska bertanya kepada Boy yang duduk didekat nya.
"Tau... Gue tadi kayaknya lihat tuh anak ke arah kelas IPA deh." Boy memberitahu hal yang tadi ia lihat sekilas.
"Kelas IPA? Mau ngapain?" Hilda kebingungan.
"Ya udah kita samperin aja mereka." Siska menarik tangan Hilda.
Tidak mau terlalu jauh mencari kedua sahabatnya, Siska agak kencang menarik tangan Hilda. Langkah mereka berhenti ketika melihat kedua sahabatnya menghampiri Jodi Cs.
Suasana kelas yang di huni oleh Jodi Cs mendadak riuh rendah karena tak biasanya para bunga menghampiri kumbang. Jodi membuang muka menyadari kehadiran Rara sehingga membuat Rara memilih diam.
"Dodiiiittt... Gue enggak sudi punya cowok belok! Kita putus!" Teriak Risa menggegerkan dunia perLambe an SMA Bunga Bangsa.
Pandangan semua mata tertuju kepada Rosa dan Dodit yang menjadi artis dadakan. Setelah ini pasti mereka akan banyak mendapat todongan kompresi dres menuntut kejelasan ucapan Rosa.
"Jangan dong... Baru dua jam tiga puluh enam menit lima detik kita jadian." Protes Dodit yang tak terima masa pacarannya amat singkat.
Pengakuan Dodit yang di luar dugaan itu seketika membuat mereka berdecak keheranan. Bagaimana rasanya baru pacaran 2 jam setengah lalu di minta putus?
"Hah? Sejak kapan kalian jadian?" Siska tiba-tiba berdiri di antara Dodit dan Rosa.
"Baru tadi pagi..." Sahut Dodit lemas tanpa gairah. Pupus sudah harapannya.
"Sis, loe tadi gak nyimak dia bilang baru jadian dua jam setengah lalu berarti baru banget." Hilda menginginkan.
"Oh iya, terus gimana bisa? Selama ini kan yang naksir Rosa itu Rafli tapi kenapa malah jadian sama elo?!" Cecar Siska.
Seketika wajah Rosa dan Dodit pucat karena rasa bersalah yang menggelegak. Pandangan semua yang ada di situ juga tertuju ke Rafli yang menatap dengan ekspresi wajah tak terbaca lantaran ia terdiam sejak tadi.
__ADS_1
Rosa yang merasa tatapan semua orang menyudutkan dirinya, ia berlari ke arah kelasnya. Rara, Siska dan Hilda pun mengikuti langkah Rosa.
"Hiks... Hiks... Hiks..." Isak Rosa setelah sampai di bangku kedudukannya.
"Sorry, Sa..." Siska meminta maaf.
"Apa... Apa gue salah kalau gue milih orang yang jelas nembak gue ketimbang cuma PHP in gue doang. Hiks..." Rosa bersuara dengan lirih.
"Enggak Sa, loe gak salah. Kita semua cuma shock aja tadi." Rara mengusap rambut Rosa.
"Iya, Sa. Kita kan sahabat tapi kenapa loe sembunyikan hal kek gini dari kita semua?" Siska menyayangkan sikap Rosa.
"Elaahhh... Gue baru banget tadi pagi di tembak Dodit jadi belum sempat curhat sama loe pada." Elak Rosa sambil mengusap air mata dan ingus yang keluar.
"Oke Sa, itu emang hak loe mau curhat sama kita kapan aja." Rara tetap berusaha menenangkan Rosa sambil memegang tangan Rosa.
"Sa, kalau dipikir-pikir kok loe cepat banget langsung putusin si Dodit? Emang loe yakin dia belok?" Siska masih penasaran.
Mendengar ucapan Siska barulah Rosa tersadar akan reaksinya yang berlebihan. Sebenarnya gue beneran suka sama Dodit apa enggak sih? Gumam Rosa resah dan gelisah.
"Eh iya, Ra, loe kok tadi gak langsung putusin Jodi?" Rosa tersadar tak membaca perasaan sahabatnya. Kenapa pula hanya dirinya yang langsung minta putus sementara Rara terlihat biasa saja?
Mana bisa putus, dia kan suami gue. Kagak mungkin juga gue minta cerai nanti malah jadi janda muda. Batin Rara.
"Perasaan Rara ke Jodi berarti lebih kuat daripada apa yang loe rasakan ke Dodit." Tebak Hilda.
Perasaan apaan sih kalean? Tadi pada gak nyadar apa tadi tuh orang buang muka? Kesal Rara. Benci tapi rindu. Halaaaahhh...
"Mungkin..." Lirih Rosa.
"Sejak kapan loe ada feeling sama Dodit?" Siska masih gencar mengorek isi hati Rosa.
Bug
"Wah, mainnya fisik nih." Gerutu Siska.
"Udah deh Sis. Sa, kalau menurut feeling gue nih kayaknya gosip mereka belok itu gak bener deh." Rara mengungkapkan isi hatinya.
Kasihan juga kalau melihat Rosa sedih seperti ini. Rara tadi terlalu kaget mendengar pengakuan Rosa yang meminta Dodit untuk putus. Kenapa Rosa tidak nyanyi lagu, baby aku ingin putus, putus aja yuk? Eh, lagu siapa itu ya penyanyi nya? Rara pusing.
"Iya juga sih. Gue selama ini gak ngeliat hal atau sikap yang aneh dari mereka berdua." Hilda membenarkan ucapan Rara.
"Duuuhhh... Pusing gue." Rosa memijat pelipisnya.
"Gih sana, loe balikan lagi sama Dodit." Saran Siska.
"Ogah ah biarin aja." Rosa menolak.
"Berarti emang bener ya perasaan loe ke Dodit cuma pelarian doang. Ups..." Siska keceplosan.
"Terserah loe deh..." Rosa tak mau ambil pusing.
"Gue bilang juga apa tadi, kita tabayyun aja dulu eh loe malah bikin heboh." Rara menyesalkan sikap ceroboh Rosa.
"Eh iya tadi di Rafli pasti gak kalah shock kali ya sama kita pas Rosa minta putus sama Dodit." Jiwa perLambe an Siska tetap berkobar.
"Emang Rafli ada rasa sama gue? Dia gak pernah nembak gue kok..." Rosa masih tak memahami perasaan Rafli.
"Ehem." Rara berdehem. " Jadi loe beneran ngarep Rafli tapi karena dia gak ngasih kepastian akhirnya loe terima si Dodit?" Rara memancing reaksi Rosa.
__ADS_1
"Emang keliatannya gitu ya?" Rosa balik bertanya.
"Au ah, pusing gue sama loe, Sa." Siska merengut.
.
.
.
Pulang sekolah hari ini mereka berempat main ke rumah Rosa. Mumpung hari ini pulang lebih cepat karena tadi ujian praktek.
"Sa, itu bukannya Rafli?" Hilda memekik tak percaya ketika sedang mengendarai motor nya bersama Rosa lalu melihat Rafli berlawanan arah di gang menuju rumah Rosa.
"Loe salah orang kali." Rosa menyangkal.
"Masa sih?" Hilda melanjutkan perjalanan nya ke rumah Rosa.
"Assalamualaikum..." Rosa mengucapkan salam begitu tiba di rumahnya.
"Walaikum salam... Rosa... Eh, ada temannya Rosa." Mira, ibunda Rosa menyambut kedatangan Rosa dan para sahabatnya.
"Ayah belum pulang, Bun?" Rosa celingukan.
"Belum, Sa. Ayah bilang cuacanya lagi gak bagus buat penerbangan jadi mungkin besok baru Ayah bisa pulang." Mira menepuk lembut bahu Rosa.
"Bu, tadi masa teman Rosa bilang lihat Rafli." Rosa bertanya ketika mereka sudah masuk ke dalam rumahnya.
"Sa, emang nyokap loe kenal Rafli?" Bisik Hilda curiga tak henti.
"Iya, kenal waktu bagi raport kelas dua kan dia yang bagian penerima tamu." Rosa menjelaskan.
"Eh iya tadi Rafli kesini katanya mau batalin niatnya buat lamar kamu." Mira bersuara lirih ke telinga Rosa, tak nyaman terdengar oleh sahabat Rosa.
Mira masih agak bingung dengan permintaan Rafli yang mendadak padahal sebelumnya ia mengaku akan mengajak kedua orangtuanya untuk melamar secara resmi. Tapi entah kenapa anak itu membatalkan begitu saja. Ah, untung saja belum di buat lamaran resmi jadi gak terlalu malu dibatalkan. Batin Mira.
"Hah? Masa sih? Bunda yakin?" Rosa tak percaya.
"Iya katanya di sekolah kamu udah punya pacar." Mira membenarkan ucapannya.
"Uhuk... Uhuk... Uhuk..." Rosa tersedak air minumnya.
"Pelan-pelan minumnya, Sa." Mira menepuk pelan tengkuk Rosa.
"Tenang Sa, kita gak bakal minta kok air loe. Hehehe." Gurau Siska.
"Bunda tinggal dulu ya ke dalam." Mira berpamitan kepada Rosa dan sahabatnya setelah ia memastikan Rosa sudah tidak tersedak.
"Loe kenapa Sa, kok bisa keselek tadi abis dibisikin nyokap loe?" Siska menyipitkan matanya, curiga.
"Mmm... Kata bunda tadi Rafli kesini mau batalin rencananya buat ngelamar gue..." Rosa tertunduk dan meremas rok yang ia pakai.
"Apa?" Semua sahabatnya sontak terkejut.
"Minggu lalu emang kata nyokap ada cowok yang mau lamar gue tapi gak tau siapa makannya gue terima Dodit... Hiks..." Rosa menyesali keputusannya.
"Astaghfirullah aladzim... Loe pikir si Rafli cuma PHP in elo ternyata dia malah... ngelamar???" Hilda mencerna cerita Rosa.
"Ternyata karma tak seenak kurma. Hiks... hiks..." Ucap Rosa sambil terisak setelah memakan kurma yang sebenarnya menjadi stok Mira menyambut bulan puasa.
__ADS_1
**Monmaap othor baru bisa up sekarang karena kesibukan tak terduga di real life 🙏
Sehat selalu ya readers kesayangan**...