
Menjelang ujian nasional di sekolah diadakan jam 0 yang artinya ada pelajaran tambahan untuk mata pelajaran yang masuk dalam mata pelajaran UN sebelum bel pertanda masuk sekolah berbunyi tepat jam setengah 8 pagi.
Setengah jam sebelum jam 0 berlaku di kantin para siswa begitu lahap menyantap sarapan. Mereka sadar kalau saat tidak dipaksakan untuk sarapan maka akan mengurangi daya konsentrasi belajar nantinya.
Rara dan ketiga sahabatnya, Rosa, Hilda dan Siska tampak asyik menyantap sarapan mereka masing-masing. Ketenangan mereka pun terusik dengan kedatangan Dina Cs.
"Wah, kasian banget nih pada kelaperan." Wina berkata sambil menatap sinis ke arah Rara.
"Maklum jadi pelakor emang kudu kuat tenaganya biar kebal rumpian tetangga..." Dina berteriak menyindir Rara yang ternyata tak menanggapi sindirannya.
Dina menjadi kesal lantaran Rara tidak terpengaruh ucapannya barusan. Hufffttt... kalau loe cewek normal mah kudu nya marah sama gue. Sungut Dina dalam hatinya.
BRAK!
Rosa yang kebetulan sudah selesai sarapan langsung menggebrak meja. Ia begitu emosi mendengar sahabatnya dipermalukan di depan umum.
"Loe bisa gak sih berhenti ganggu temen gue?!" Tantang Rosa nyalang.
Dina memeluk dirinya sendiri seraya berkata, "Ugh, takuuutt..." Lalu ia dan ketiga temannya tertawa.
"Udah Sa, kite enggak usah nanggepin orang sakit." Rara menggenggam tangan Rosa yang ingin menghampiri Dina Cs.
"Wah, songong amat loe ngatain kite sakit!" Dina emosi.
"Loe ngerasa?!" Hilda kini yang menimpali.
"Bacot!" Sembur Dina yang ingin melayangkan tangannya.
"Loe kalau mau main fisik sama gue!" Tantang Rara dengan geram.
Dina tampak pias mendengar tantangan Rara karena masih terasa nyeri bekas tanda fisik dari Rara ketika ia hendak mengeroyok Rara dan berakhir dirinya sendiri yang bonyok.
"Hahaha... Mba, kok pucet sih?" Siska yang terkenal barbar diantara ketiga sahabatnya menertawai Dina begitu melihat perubahan ekspresi Dina yang begitu drastis.
"Diem loe!" Bentak Wini.
"Jiahahaha... Sobat gue itu paling gak mau banyak cing cong kayak loe pada tapi sekalinya die marah loe udah ngerasain, kan...?" Ledek Siska sambil menaik turunkan alisnya.
"Sis..." Panggil Rara ingin menghentikan aksi usil Siska lantaran tidak ingin temannya mendapatkan masalah karena membela dirinya..
Dina Cs pun mengurungkan niatnya untuk jajan di kantin. Tak lama terdengar bel masuk pelajaran sehingga para penghuni kantin pun beranjak pergi menuju kelas masing-masing.
.
.
__ADS_1
Rara sengaja mempercepat dirinya untuk mengerjakan soal Bahasa Indonesia yang diberikan oleh Ibu Tari. Ia berencana untuk berkonsultasi dengan Lala mengenai keinginan nya melanjutkan kuliah.
"Ra loe udah selesai? Kok langsung dikumpulin sih? Gue kan mau nyontek..." Siska mengerucutkan bibirnya.
"Sorry... Gue buru-buru nih mau konsul sama Bu Lala." Rara tidak ingin lama berbasa-basi sehingga mengutarakan tempat tujuannya, ruang BK.
Setelah mengumpulkan tugas nya Rara lalu meminta izin kepada Tari agar bisa keluar kelas lebih cepat. Mendengar alasan Rara akhirnya Tari memberikan izin.
.
.
"Assalamualaikum..." Rara mengucapkan salam.
Lala yang sedang menyelesaikan laporan perkembangan siswa pun mengalihkan perhatiannya ke arah Rara. Ia sudah terbiasa mendapati siswa yang ingin konsultasi atau sekadar curhat dengannya di ruangan ini.
"Walaikum salam... Eh, Rara... Silahkan masuk, Nak." Lala berdiri lalu mempersilahkan Rara masuk ke dalam ruang BK.
"Tumben nih kamu kesini, masih ada jam pelajaran juga..." Tegur Lala ramah.
"Iya Bu, tadi saya udah selesaikan tugas bahasa Indonesia terus izin ke sini sama Bu Tari." Rara menjelaskan.
"Ooh, syukurlah kalau guru kamu tau kamu kesini." Sahut Lala.
Suasana hening sesaat karena Rara bingung harus memulai pembicaraan. Sementara Lala sengaja ingin membiarkan siswinya itu lebih dahulu menyampaikan maksud kedatangan nya ke ruang BK.
"Ooh... Rencana kamu mau kuliah ke Jogja?" Lala teringat konsultasi terakhir Rara mengenai rencana kuliah nya seminggu lalu.
"Hmmm... Iya Bu..." Kini Rara tampak ragu.
"Kamu sudah diskusikan dengan orang tua mu?" Pancing Lala.
"Umm... Sudah Bu, Babeh setuju." Rara mengangguk.
"Ibu mu gimana? Kamu kan anak satu-satunya, apa mungkin ibu mu bisa berjauhan dengan putrinya?" Lala mengingatkan Rara agar tidak menyesal nantinya.
FLASH BACK ON
Halimah hendak merapihkan piring dan gelas kotor di meja makan ketika Rara tiba-tiba menahan tangannya yang ingin menegang piring.
"Enyak, Babeh... Aye mau ngomong." Rara memberanikan dirinya berbicara kepada kedua orangtuanya.
"Ngomong mah ngomong aje, ngapa sih?" Beni penasaran akan arah pembicaraan putrinya yang tidak seperti biasanya.
"Iye nih, Enyak mau rapihin bekas makan aje ampe loe cegah gini." Halimah tak kalah penasaran seperti suaminya.
__ADS_1
"Maaf, Nyak. Cucian kotor nye ntar aye aje nyang cuciin deh." Rara mengusap punggung tangan Halimah.
"Ra, ayo ngomong aje gak usah berbelit-belit." Beni mendesak Rara melanjutkan ucapannya.
"Hmm... Beh, Nyak... Aye sebelumnya minta maaf kalau apa nyang bakal aye omongin bakal bikin Enyak ama Babeh kesel..." Rara mendadak gugup mendapatkan tatapan penuh selidik dari kedua orangtuanya.
"Langsung aje, Ra..." Beni memotong ucapan Rara agar menuju ke inti pembicaraan.
"Aye... Aye kepengen lanjut kuliah..." Rara menghembuskan nafasnya kasar lalu menggigit bibir bawahnya. Hal yang biasa ia lakukan ketika sedang gugup berbicara.
"Yasalam, gue kira loe mau ngomong apaan. Kuliah mah kuliah aje. Loe masih muda banyak kesempatan loe buat maju." Beni justru bersemangat mendengar keinginan Rara
"Ra, jangan lupa loe omongin niat loe ini sama laki loe, Jodi." Halimah menasehati Rara agar tidak menimbulkan permasalahan di akhirnya.
"Ho'oh tapi kalau die ngelarang loe bakal gue sembur tuh bocah." Beni membela anaknya.
"Abang apaan sih? Jangan ngajarin anak kite jadi istri durhaka." Halimah tak setuju dengan ucapan Beni yang terlalu posesif memenuhi semua keinginan anaknya, Rara.
"Yaelah, biarin ngapa anak kite kuliah sekalian si Jodi cari kerjaan nyang bagus dah biar kasih nafkah buat anak kite." Beni bersikeras.
"Aduh Abang, surga anak kite di telapak kaki laki nye... Ra, loe minta ridho laki loe kalau emang mau kuliah." Halimah mengingatkan Rara.
Duh, emang si Bang Jago segitu pentingnya ye buat idup gue? Batin Rara.
"Mah, anak sama mantu kite biarin aje biar sama-sama mapan dulu sebelum jadi laki bini beneran. Loe mau ntar anak kite di suruh laki nye ngulek areng ane kencur bakal makan?" Beni masih ingin mempertahankan pendapatnya.
"Et deh si Abang keseringan dengerin lagu Benjamin." Halimah tak habis pikir dengan pemikiran suaminya.
Bismillahirrahmanirrahim... Aye kudu bisa dapet dukungan dari Enyak sama Babeh. Rara meyakinkan dirinya sendiri.
"Beh, Nyak... Aye mau kuliah di Jogja." Rara selah tak terpengaruh dengan perdebatan sengit kedua orangtuanya.
"Ape???" Beni dan Halimah terperangah dengan keinginan anak satu-satunya.
FLASH BACK OFF
"Ra, gimana? kamu sudah dapat restu dari Ibu mu?" Lala memastikan kesungguhan niat Rara begitu melihat anaknya.
"Bismillah aja Bu..." Rara memilih jawaban yang aman sekalian meminta doa..
"Oh iya saya perhatikan kamu lagi dekat sama si Jodi tapi kok dia tenang aja tuh gak pernah diskusi tentang niatnya mau kuliah dimana padahal nilainya dia bagus lho..." Lala mengutarakan rasa penasarannya.
Hufffttt... Bu Lala kenapa juga sih malah ingetin si Jodi? Ah elaah sempit amat sih hidup gue dimana-mana ada nama Jodi? Gumam Rara dalam hati.
Yeayyyy... tak disangka diriku bisa up padahal niatnya mo Hiatus seminggu 🤪
__ADS_1
Othor tadi pagi jemur baju dengerin lagu Bang Ben jadi nyengir gak jelas terus kok mood banget lanjutin nulis. Etapi kok jadi unhappy gini ya ceritanya?
Belum seminggu berhenti nulis aja feel-nya udah kurang gini yak 🥴