
"Tolooooonggg..." Teriak seorang gadis yang baru saja tas nya di copet oleh seorang pria bertubuh tinggi dan besar.
Jodi yang kebetulan sedang melintasi Flyover Arif Rahman Hakim pun tak bisa berdiam diri melihat secara langsung kejadian pencopetan di depan matanya.
Jodi memarkirkan motornya lalu berlari mengejar pencopet tersebut.
Berbekal kemampuan beladiri yang dimilikinya, Jodi mampu melawan dengan tangan kosong pencopet bertubuh menyeramkan itu.
Untunglah ada petugas keamanan yang akhirnya mengamankan pencopet itu dari amukan warga yang hendak ikut andil menghabisi nyawa pencopet yang sudah babak belur di hajar Jodi
Baru saja Jodi selesai bertarung melawan pencopet tiba-tiba ia mendapat pelukan dari gadis sang pemilik tas yang telah ia selamatkan.
"Jodiiii... Aku seneng banget kamu tolongin aku." Jerit kegirangan gadis yang ternyata mengenali Jodi.
"Eh, elo Yo..." Jodi sempat terdiam beberapa saat lalu menyadari bahwa sosok gadis yang barusan ia tolong adalah Yolanda.
Drrrttt
Drrrttt
"Assalamualaikum... Sayang, aku masih di jalan nih tadi tolongin Yolanda yang lagi kecopetan." Jodi memberi kabar kepada pujaan hatinya.
"........"
"Oh, kamu bareng Rosa. Oke, kalau gitu aku langsung ke aula nya aje." Jodi agak kecewa tapi ia berusaha memahami.
"Walaikum salam, sayangku. Titi dije." Jodi menutup telepon.
"Di, makasih ya kamu tolongin aku." Yolanda kembali berterima kasih.
"Yups. Gue cabut dulu ye." Jodi menuju ke arah motornya.
__ADS_1
"Di, bareng dong... Aku takut kalau pulang sendiri." Tanpa di ajak Yolanda sudah mengiringi langkah Jodi.
"Gue mau ke acara gladi bersih wisuda kelulusan nih." Tolak Jodi.
"Aki free hari ini, jadi enggak apa-apa kok kalau harus tunggu kamu selesai." Yolanda bersikeras.
"Gue gak bisa, Yo..." Jodi mulai menghidupkan mesin motornya sambil mengenakan helm nya.
"Aku juga mau sekalian ketemu Rara sama Mas Dodit." Yolanda semakin memaksa.
Jodi yang memang berburu waktu agar tidak terlambat mau tidak mau akhirnya terpaksa membawa serta Yolanda.
.
.
"Kenapa, Ra?" Rosa yang sengaja datang ingin menebeng naik motor bersama Rara mendadak merasa sungkan.
"Sorry... Gue suka lupa kalau loe udah gak jojoba lagi..." Lirih Rosa merasa bersalah.
"Gak ape-ape emang udah jalan Nye die ketemu Yola, cinte pertama nye." Rara semakin melow bakpau.
"Ra, kalau lagi gak fokus gini mending gue aja yang bawa motor ya biar kita sama-sama selamat di jalan." Rosa menawarkan diri sebelum kegalauan Rara membuat mereka celaka di perjalanan nanti.
10 menit kemudian mereka berdua telah sampai di aula tempat akan diselenggarakan gladi bersih wisuda kelulusan sekolah.
2 menit berikutnya Jodi datang bersama Yolanda. Tatapan matanya mulai tak menentu melihat aura gelap yang berusaha disembunyikan oleh Rara.
"Wah, emang harus ya Di kalau nolongin orang kecopetan harus loe ajak kesini juga?" Ketus Rosa yang ingin menjaga perasaan Rara.
"Umm, ini Yola katenye mau sekalian ketemu Rara. Kite dulu temen satu SD, Sa." Jodi menjelaskan dengan pandangan matanya ke arah Rara.
__ADS_1
"Hai Ra, kamu masih inget aku kan?" Yolanda mencoba mendekati Rara.
"Oh, hai Yo..." Rara tetap berusaha menjaga sikapnya mengingat biar bagaimanapun Yolanda adalah sahabatnya.
Keduanya pun berpelukan melepas rindu sekian tahun tak bertemu. Ada kehangatan yang menyeruak di benak mereka.
"Hallo, Dit, loe udah nyampe sekolah? Buruan ke parkiran kalau udah." Rosa menelepon Dodit dan langsung menutup telepon nya sebelum mendapatkan respon dari Dodit.
"Sa, kenalin ini temen SD gue." Rara mengenalkan Yolanda kepada Rosa.
"Temen SD ya?" Rosa berbasa-basi sambil membalas uluran tangan Yola yang mengajak bersalaman.
Sesuai permintaan Rosa yang meminta Dodit datang ke parkiran tak lama Dodit datang dengan raut kebingungan melihat keberadaan Yola disini.
"Dek, kok kamu bisa ada disini?" Tanya Dodit.
"I iya tadi aku abis kecopetan terus di tolong sama Jodi." Yola menjelaskan.
"Oh, terus kenapa kamu ada disini?" Dodit penasaran.
"Hm, aku kangen mau ketemu Rara." Yola mengelak.
"Kita lagi mau gladi bersih wisuda jadi gak boleh ada orang luar sekolah kesini. Mas anterin pulang aja ya?" Dodit mengajak pulang.
"Tap..." Yola ingin menolak.
"Merad gih sana! ngapain loe sendirian disini?" Rosa mengusir Yola.
Mendapat pengusiran dari Rosa membuat Yola malu hati. Dengan berat hati ia terpaksa pulang bersama Dodit.
Sepanjang perjalanan Yola merenungkan apa yang ia lakukan saat ini seolah-olah berusaha mengais-ngais bara yang mungkin bisa menjadi api, tapi yang ada hanya arang yang sering membuatnya merasa menjadi tidak berharga.
__ADS_1
Yola menghapus linangan air mata di sudut matanya. Sikap Jodi yang begitu cuek menyadarkan dirinya agar tidak menjadi bodoh dengan angan-angan melambung tinggi tanpa tahu kapan akan terjatuh. Lebih baik menjatuhkan diri sekarang mumpung masih belum terlalu tinggi. Sakit memang tapi tidak akan bikin dirinya mati.