
Siska bergegas mengeluarkan semua makanan dari dalam mobil katering begitu ia telah sampai di tempat acara. Andri pun tergerak ikut membantunya.
Rara yang dari tadi resah menunggu pun sedikit tenang karena ia bisa melihat betapa gesit nya Siska bak kepala chef meletakkan dan mengatur semua karyawan katering saung hijau untuk menyajikan semua hidangan pesta.
"Thank ya, Sis." Peluk Rara
"Ah, elo kek sama siapa aja deh." Siska mengusap punggung Rara.
"Aseli kehamilan ini tuh gue bener-bener gak berkutik banget dekat sama makanan langsung..." Rara mengungkapkan perasaannya.
"Iya gue paham, bumil. Ayo ah jangan baper gini yang penting masalah makanan udah beres nih. Happy happy aja kita di hari bahagianya Hilda. Hehehe." Siska mengeluarkan senyum klos ap nya.
"Hmmm... Enak bener nih romannya makanan..." Seorang gadis belia dengan dandanan flawless nya mendekati arah makanan dengan ekspresi lapar.
"Van, jangan bikin malu dong. Inget janji loe gak bikin rusuh." Samudra menarik tangan Vania.
"Abang sih tadi buru-buru banget kek orang kelaparan mau ambil gaji ampe Vania gak bisa makan dulu." Sungut Vania.
"Iya nanti kalo udah di buka baru kita makan ya? Ini masih di tutup." Samudra meluaskan kesabarannya menghadapi gadis yang sedang memasang mode kelaparan ini.
"Colek dikit boleh kali ya?" Vania mulai membuka tudung stainless penutup makan perlahan dengan pandangan lapar ke arah makanan.
"Eits, maaf ya Mba nya... Makanan nya bisa basi kalo di gado pake tangan. Sabar ya tunggu kelar akad baru saya buka." Siska terburu-buru menahan lengan Vania yang sedikit terangkat membuka tudung penutup makanan.
"Hehehe... Maaf aye laper." Vania salah tingkah.
"Maaf... Lagi gak hamil, kan?" Siska mengamati Vania dengan seksama.
"Iiih, kagak lah baru juga aye lamaran kemarin jadi belum..." Cerocos Vania.
"Van, ayo kita duduk di depan." Ajak Samudra agar Vania tidak semakin mengeluarkan kata-kata yang mengundang perhatian banyak orang.
"Eh, Sam, dia siapa?" Siska merasa sungkan karena ternyata Vania bersama Samudra.
"Ummm..." Samudra sulit menjawab pertanyaan Siska.
"Calon istrinya." Vania menyorongkan tangannya ke arah Siska.
"Hah? Calon... Lah, terus Rosa?" Siska tanpa sadar melebarkan mulutnya, kaget mendengar pengakuan Vania yang tidak di bantah oleh Samudra.
__ADS_1
"Hei, Sam. Apa kabar, bro?" Andri tiba-tiba datang dan menyapa Samudra.
"Alhamdulillah, baik bro." Samudra membalas rangkulan dari Andri.
"Mba nya itu naksir sama calon suami saya?" Vania salah paham.
"Ah, apa?" Siska masih belum sadar dari rasa terkejutnya.
"Kenapa Van?" Sapa Andri.
"Ini bang Andri masa nih cewek kek gak terima aye calon istrinya bang Sam." Adu Vania.
"Ooh, ini kita semua sobatan dari SMA. Loe tenang aja ini cewek gue kok jadi gak bakalan jadi pelakor buat bang Sam." Andri merangkul pinggang Siska.
Siska kembali di buat terkejut maksimal dan kali ini pelakunya adalah boncabe. Sosok yang paling ia hindari.
"Oke, kalo gitu gue ke depan dulu ya, Dri?" Samudra yang memahami situasi tak menyenangkan ini bergegas menarik pelan tangan Vania untuk menjauh dari mereka.
"Hell! Gue mimpi ini ya?" Siska menepuk-nepuk pipinya sendiri.
"Kenapa? Loe gak terima Sam bisa move on dari sobat loe?" Sinis Andri sambil melepaskan rangkulannya.
"Mereka... mereka beneran mau nikah?" Siska ingin memperjelas.
"Ih, loe kok gitu sih ke Rosa?" Siska memukul dada Andri.
"Berisik. Ayo tuh acara akadnya mau di mulai." Andri mengalihkan pembicaraan dan mengajak Siska mendekati ke arah calon mempelai.
Ketika itu, Hendra selaku kakak kandung Hilda yang dipercaya untuk menjadi wali nikah Hilda tampak menarik nafas panjang menenangkan dirinya kemudian dengan suara terdengar bergetar ia membacakan ijab.
"Bismillahirrahmanirrahim, Rafli Aditya, saya nikahkan engkau dengan kakak kandung saya Hilda Septiani Putri binti Derry Drajat dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan seperangkat perhiasan seberat seratus lima gram, di bayar tunai." Hendra, adik kandung Hilda melafalkan ucapan itu dengan bergetar tatkala mengingat bahwa seharusnya ini menjadi hal yang harus dilakukan sang Ayah yang telah berpulang sebulan lalu.
Rafli menggenggam erat tangan Hendra dan menjawab dengan cepat.
"Saya terima nikah dan kawinnya Hilda Septiani Putri binti Derry Drajat dengan mas kawin tersebut, di bayar tunai."Ucap Rafli.
"Bagaimana sah?" Tanya Pak penghulu sambil memandang ke arah para saksi.
"Sah... Sah..." Beberapa orang menjawab bersamaan dengan suara lantang.
__ADS_1
"Alhamdulillah... mari kita sekarang berdoa bersama-sama." Kemudian Pak penghulu membacakan doa yang diaminkan oleh seluruh orang yang hadir.
"Silahkan mempelainya di sandingkan." Pak penghulu memberikan tanda kepada Mama Risa untuk membawa Hilda duduk disebelah Rafli.
"Hiks...hiks...hiks..." Isak tangis Hilda.
"Heh, udah kelar ijab kabul nya." Bisik Andri sambil menyodorkan sapu tangan nya.
"Terharu gue inget gimana keinginan Ayah Derry kepengen lihat Hilda nikah." Mata Siska berkaca-kaca mengenang sosok Ayah dari sahabatnya.
"Takdir nya udah harus begitu." Andri mengingatkan Siska agar tidak terlalu larut dalam kesedihannya.
"Ah, semoga gue masih bisa nikah saat bapak masih ada." Harap Siska.
"Ya udah loe nikah cepetan." Ucap Andri
"Mimpi. Pacar aja gak punya, masa ngarep nikah." Siska cemberut mengingat status dirinya yang masih jomblo.
"Pacar? Ngapain loe mau jagain jodoh orang?" Andri menaikkan nada suaranya.
"Hussst, lagi suasana haru nih jangan ngajak nyolot." Siska menasehati Andri.
"Iya lagi loe di suruh cepatan nikah malah..." Solot Andri.
"Iya iya... Gue mau tapi sama siapa?" Ringis Siska menahan kesal menghadapi boncabe.
"Ya... Sama...sama gue." Ucap Andri yang langsung kaget dengan apa yang ia ucapkan barusan.
"Hah? Loe abis mabok rendang apa lengkuas?" Ledek Siska karena memang mereka biasa bertengkar.
"Tarik Sis! Ajak langsung Andri, bilang 'bawa aku ke penghulu'." Dodit yang sedang menggendong si balita menggemaskan, Dira menimpali pembicaraan Siska dan Andri.
"Loe kata gue Lesti abis ini terus nyanyi lagu 'bawa aku ke penghulu'." Ucap Siska sambil tangannya ingin meraih Dira dari gendongan Dodit.
"Eh, jangan. Gue masih gemes sama nih JoRa junior." Tolak Dodit.
"Om, ita maem ecim yuk?" Ajak Dira sambik menarik tangan Dodit ke arah tempat stand ice cream.
"Dira... mami Siska juga bisa kok gendong kamu, kita maem es krim." Rayu Siska dengan nada suara imut ala anak-anak.
__ADS_1
"Enda ah. Ayo Om..." Dira menolak ajakan Siska dan memaksa Dodit meninggalkan Siska.
"Tuh kan nih bocah mau nya sama gue. Loe perjelas tuh omongan si Andri. Mau di bawa kemana hubungan kita..." Dodit melanjutkan nyanyiannya sambil melenggang pergi meninggalkan Siska dan Andri.