Kawin Gantung

Kawin Gantung
Kabar Gembira


__ADS_3

Haiiii... Ada yang kaget gak ceritanya JoRa aku END di part sebelumnya? Hehehe


Jadi begini ya sebenarnya akutuh emang dari awal udah merencanakan cerita ini akan selesai ampe part 30an karena eh karena tulisan ku sebelumnya, BRoNiS yang selesai di part 100 (sebenarnya tapi aku potong jadi 91). Hayati lelah guys nulis ampe banyak gitu terus merasa gak fokus dan kehilangan feel nya walhasil berat rasanya mau bikin extra part nya yang manis-manis gitu.


Jadi belajar dari cerita BRoNiS aku berusaha atur plot sebelum nulis ceritanya biar gak ngawur kek cerita sinetron di tv #eeehhh Monmaap emak-emak fans sinetron ✌🏻


Rencana awal aku mau nulis cerita baru lanjutan nya tentang Rosa, Yola, Dodit, Sam dan semua tokoh di cerita JoRa. Etapi baru part 5 aku merasa kasian sama nasib Rosa yang walaupun terpaksa lantaran hutang keluarganya akhirnya menjadi istri kedua yang sering di cap orang dengan sebutan pelakor. Udah gitu aku bikin orang yang tulus cinta sama Rosa juga desperate dan cari cinta yang lain. Duh!


Maka, setelah menyadari kekejaman ku itu, aku delete ceritanya.


Syedih akutuh kalau Rosa nyanyi untuk nasibnya di cerita ku sambil nangis bombay, Ku menangis membayangkan betapa kejamnya othor atas diriku...


So, aku ganti cerita nya dengan cerita baru TaBir CiNtA (abaikan covernya yang belum sempat aku bikin baru) yang terinspirasi setelah aku liat poto tentara wanita cantik ala ala action gitu tapi belum dapet feel bikin actionnya lantaran ini cerita pertama ku genre action. Hehehe...


So, cerita tentang Rosa-Dodit-Yola Sam-Vania aku masukin di cerita ini aja dengan mengurangi penderitaan Rosa.


Harap maklum yes aku emang kalau udah nulis tuh sayang sama semua tokoh ceritaku jadi kadang nyesek juga kesel kalau dapet ide yang diluar plot yang udah aku atur.


Sekian cuap-cuap othor sekilas.


Tak lupa jua terimakasih untuk yang rajin kasih like, komen, gift dan vote cerita ku yang tak akan aku ajukan kontrak ke NT sehingga pure cerita ini milikku seutuhnya yang mungkin someday bisa aku peluk JoRa dalam bentuk buku.


Lophe lophe sekebon 😘


**********


Kehidupan pasutri muda itu pun berjalan seperti yang seharusnya mereka lalui. Jodi yang di awal menginginkan Rara agar satu jurusan kuliah dengannya jelas tak tega memaksakan kehendaknya karena potensi sang istri berbeda dengan dirinya sehingga mereka kuliah mengambil jurusan program studi yang berbeda.


Berbekal pengalaman menghadapi dinosaurus di masa SMA, Rara kini sudah kebal melawan berbagai tipe perempuan yang ingin suaminya.


Iya, Rara tak perduli betina model apapun yang mengusik rumah tangganya akan dia libas bak jawara keturunan Kong Ji'i.


"Sis, tolongin tuh si Rara di lorong dekat ruang BEM lagi di labrak sama senior cewek." Andri meminta bantuan Siska.


Yups, semua sahabat Jodi dan Rara memang sengaja kuliah di tempat yang sama untuk memudahkan othor mengatur ceritanya #eeehhh bukan tapi karena emang mereka sepakat menjadi paket komplit tak terpisahkan walaupun dengan jurusan program studi yang berbeda.


"Ooh, biasa itu mah. Rara jago silat jadi loe tenang aja." Siska yang mengenal ketangguhan Rara itu tidak mengkhawatirkan nasib sahabatnya.


"Mulut loe kan mulut comberan jadi pasti gampang bantu Rara lawan senior cewek yang julid ke dia. Gue belum lihat Jodi kalau minta dia tolongin Rara, gue telepon juga gak di angkat, mungkin masih ada mata kuliah." Ucap Andri ringan tanpa memperdulikan ekspresi kesal Siska yang baru mendengar kalimat terpanjang dari Andri selama mereka saling kenal sejak SMA.


"Dasar mulut boncabe!" Maki Siska sambil sengaja mendorong bahu Andri dan berjalan ke arah tempat yang ditunjukkan oleh Andri barusan.


Dorongan yang cukup keras itu sempat membuat Andri terhuyung sesaat. Ia berdecak kesal lantaran tak habis pikir kalau tenaga Siska cukup kuat juga.


Tepat dugaan Siska ketika ia menghampiri Rara terlihat para senior cewek itu ketakutan dan tidak berani menatap Rara tapi tetap menunjukkan ekspresi pongahnya.


"Wuih, jawara kesayangan Kong Ji'i emang yahud." Puji Siska saat berjalan mendekati Rara.


"Eh, elo Sis." Rara mulai menyadari keberadaan Siska dari arah berlawanan dari posisinya berdiri.


"Iya tadi si boncabe ngasih tahu gue buat bantu loe lawan tuh betina." Lapor Siska sambil melipat kedua tangannya.


"Boncabe? Siape?" Rara bingung dengan panggilan boncabe.


"Siapa lagi kalau bukan cowok terganteng di genk si Jodi tapi juga terpedas mulutnya." Siska memberi clue yang hanya ia sendiri yang mengerti.

__ADS_1


"Cowok terganteng mah laki gue, tapi mulutnye gak pedes tuh." Rara tak memahami sosok yang di maksud oleh Siska.


"Woylaaahh... Iya iya iya... Cowok terganteng bagi loe emang suami loe sendiri. Gue lupa." Sindir Siska mendengar ucapan Rara.


"Hehehe... Awas naksir loe ye!" Ancam Rara.


"Eits, tenang Mpok, definisi cowok terganteng kita aja beda jadi gue gak bakal naksir laki loe." Siska mencari aman.


"Duh, belibet banget loe." Keluh Rara lantaran tak mendapat jawaban pasti sosok yang di maksud oleh Siska.


"Loe beneran bakal traktir kita semua makan siang?" Siska mengalihkan pembicaraan.


"Jelasin dulu itu cowok siape namanye?" Rara masih penasaran.


"Elaaahhh itu si kutu kupret mulut boncabe alias Andri." Siska malas menyebutkan nama Andri.


"Hah? Masa sih? Andri baik kok ke gue? Sopan juga die kagak pernah pedas ngomong ame gue." Rara tidak sependapat dengan Siska.


"Iya mana berani dia songong sama elo, bakal di pites Jodi entar." Siska berkelit.


"Hehehe... Semoga jodoh ya kalian." Doa Rara tulus.


"Waduh, amit-amit deh gue punya gen boncabe dari tuh cowok." Siska mengelus perutnya.


"Sis, emang kalian..." Rara salah paham.


"Jangan ngeres loe... Gue kesel aja nyebut nama tuh cowok apalagi loe ledekin ama dia." Siska menepuk bahu Rara pelan.


"Gue kira loe..." Rara tak melanjutkan ucapannya karena sudah di sumpal oleh tangan Siska.


"Guys, jadi gak nih kita makan besar?" Rosa dan Hilda menghampiri Rara dan Siska.


"Beuh, ngontrak kita..." Ledek Rosa.


"Enak ya punya pacar halal kayak Rara." Hilda berkhayal.


"Gak semua hal yang keliatan manis itu indah. Loe gak lihat apa hampir setiap hari itu bocah di labrak barisan cewek yang naksir lakinya?" Siska sedikit prihatin dengan nasib Rara yang di cemburui banyak cewek penggemar Jodi.


"Iya benar, makannya gue tolak terus si Sam." Seloroh Rosa.


"Stres loe, Sa. Cowok tulus kek gitu cinta ke elo di tolak mulu." Sembur Siska.


"Gue gak nolak tapi dia maunya langsung ngajak ke KUA mulu. Males, gue masih mau have fun." Kelit Rosa.


"Lihat aja akan datang di masa cowok itu lelah dan menyerah baru loe nangis darah." Nasihat Siska setengah menyumpah serapah akan kelakuan Rosa yang menurutnya keterlaluan.


"Wah, lagi pada serius amat... Nyok kite ke resto dekat kampus. Ayang gue ame nyang laen udah disana." Ajak Rara kepada semua sahabatnya.


"Hm, ada si boncabe dong..." Siska enggan ikut bergabung mengingat akan keberadaan Andri disana bersama sahabatnya.


"Boncabe?" Kali ini Rosa yang kebingungan.


"Andri. Gue tadi udah tanya Siska jawabannya muter-muter tapi gue yakin die naksir. Kite doakan mereka berdua jodoh. Aamiin... Hehehe." Rara senang melihat ekspresi kesal Siska.


"Iyuuuuhhh..." Siska terlihat jijik dengan harapan perjodohan dirinya dengan Andri.

__ADS_1


.


.


"Yang, aku udah pesan menu buat kamu." Jodi menyambut kedatangan Rara sambil mengecup keningnya.


"Gue juga udah dipesenin?" Tanya Siska.


"Loe bukan bininya. Ngarep banget loe." Boncabe level sepuluh itu kembali menyebarkan rasa pedas di hati Siska.


"Ndri, santai aja deh gosah ngegas gitu." Rosa membela Siska.


"Da, kamu juga aku udah pesenin tomyam sama bistik." Rafli bersuara lembut.


Semua orang langsung menatap keduanya. Kenapa Rafli bisa tahu menu kesukaan Hilda? Sorot mata mereka seolah menanyakan pertanyaan yang sama.


"Ekhem," Rafli berdehem untuk menetralkan tenggorokannya dan perasaannya yang bergemuruh.


Ia kembali bersuara, "Doakan ya semuanya kita lagi mencoba menerima perjodohan ini." Rafli menjelaskan tanpa di tanya.


"Perjodohan? Berarti..." Rosa masih tak percaya.


"Iya, kita juga baru tahu minggu kemarin pas arisan keluarga." Hilda membenarkan pernyataan Rafli sebelumnya.


"Masya Allah... gerak cepat juga loe, Raf." Pekik Dodit dengan raut terkejut dan ikut senang.


"Iya, insya Allah minggu depan kita tunangan dulu, kalian datang ya." Rafli kembali memberikan kabar bahagia.


"Hilda! Congrats ya..." Rara langsung memeluk dan memberi ucapan selamat untuk Hilda.


"Wah, berarti entar yang bayarin kite makan besar hari ini loe patungan ame gue. Kite same-same punya kabar gembira." Sorot mata Jodi berbinar terang, terlihat begitu bahagia.


"Eh iya ini ada kabar gembira apaan?" Dodit penasaran karena sejak tadi Jodi tidak menjawab alasannya mentraktir makan.


"Jadi gini guys... Ekhem, Alhamdulillah sekarang di rahim istriku yang paling cantik ini sudah ada calon dede." Jelas Jodi sambil mengelus lembut perut datar Rara.


Seketika suasana hening lalu saat tersadar mereka pun langsung memeluk calon papa mama muda itu dengan tertawa lepas.


"Gilaaa... tokcer bener loe!" Pekik Dodit sambil menyalami Jodi.


"Hahaha... sorry ya mblo." Sahut Jodi.


"Mblo, mblo... jangan dipertegas kenapa status gue?!" Protes Dodit jengkel.


"Hahaha... baper dah. Gue panggil yang lain mblo juga kagak ada nyang protes." Jodi ngeyel dengan panggilan yang ia berikan, Mblo alias jomblo.


"Dit, loe gitu aja ribet." Sahut Rafli.


"Ah, loe mah enak udah dapet yang pasti." Sewot Dodit menyadari kesendiriannya.


"Loe gak sendiri." Sam bersuara lirih.


"Woah, iya... Hahaha..." Dodit tertawa puas melihat derita sesama jomblo.


"Cari yang lain, Sam." Saran Andri sambil menepuk bahu Samudra.

__ADS_1


Rosa langsung tersedak mendengarnya karena kalimat itu jelas merupakan sindiran keras untuknya. Melalui sorot matanya ia membulatkan matanya melihat Samudra menatap dalam ke arah nya.


Duh, jangan move on dong, Sam. Doa Rosa dalam hati sambil menggigit bibirnya.


__ADS_2