
Pasangan suami istri muda itu tiba di rumah mereka menjelang petang. Jodi menggendong Dira yang masih tertidur sejak di perjalanan pulang.
"Dira masih tidur? Sini biar aku gantian gendong." Rara menyorongkan tangannya bermaksud menawarkan diri.
"Sssttt... Jangan. Kamu lagi hamil gak boleh keseringan gendong Dira, ah." Jodi menolak halus permintaan istrinya.
"Iya tapi aku gumussshhh." Rara ingin mencubit gemas pipi anaknya.
"Eehhh... Dira nanti bangun, nakal ya Mama." Jodi menggelengkan kepalanya.
"Sebel ah, aku mau mandi aja kalo gitu." Rara langsung badmood dan meninggalkan Jodi begitu saja.
"Ck, dasar bumil manja tapi aku sayang. Hehehe." Gurau Jodi.
Rara tidak memperdulikan ucapan Jodi karena ia langsung beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang ia rasa lengket setelah seharian ini beraktivitas.
Drrrttt
Drrrttt
Ponsel Rara yang memang tidak di silent terlihat bergetar di atas nakas. Jodi ingin mengangkat panggilan tersebut tapi ada rasa enggan mengetahui sosok yang menelepon istrinya sekarang.
"Yang, hape kamu bunyi tuh." Jodi memanggil Rara yang belum keluar dari kamar mandi.
"Iya bentar." Sahut Rara dan tak lama kemudian ia membuka pintu kamar mandi nya.
"Siapa yang telepon?" Tanya Rara begitu ia dekat dengan suaminya.
"Hm, Rosa." Jodi melirik sekilas ponsel Rara yang kini tak berbunyi lagi.
Fokus Jodi terpecah setelah mencium aroma segar yang menguar dari tubuh Rara. Kalau saja ia tidak mendapat peringatan dari dokter kandungan Rara agar mengurangi aktivitas tersebut pada trimester pertama kehamilan Rara sudah ia kurung istrinya saat ini juga. Hmmm.... terpaksa pake bantuan tante lux.
"Huft, pasti mau curhat lagi tuh anak." Decak Rara.
"Apalagi sekarang yang mau dia bahas?" Lamunan Jodi mendadak buyar dan di dera penasaran akan kelakuan Rosa yang terkenal absurd.
"Mungkin... Eh, Yang kamu curiga gak sih kok bisa tiba-tiba Sam datang ke acaranya Hilda sama Rafli bawa ceweknya?" Rara memicingkan matanya ke arah suaminya penuh curiga.
"Tau tuh bocah Abang juga gak ngerti sama jalan pemikiran nye." Jodi acuh.
"Beneran Abang gak tahu? Kali aje gitu ada udang di balik bakwan." Cecar Rara.
"Abang tadi udah kadung emosi pas Rosa nangis terus kamu panik ampe lari kenceng ke toilet jadi langsung marah ke Sam." Aku Jodi akan insiden di lorong arah toilet tadi.
"Ape? Abang tadi berantem ame Sam?" Rara terkejut mendengar pengakuan Jodi.
__ADS_1
"Die kagak ladenin tapi cuman kicep terus di usir langsung pergi sama tuh bocah." Jodi tersenyum getir mengingat bagaimana tadi dirinya begitu marah terhadap Samudra.
"Mangkanye jangan keburu emosi..." Gerutu Rara lantaran tidak mendapatkan informasi apapun dari suaminya.
"Abang panik tadi takut dede utun ngapa-ngapa pas kamu lari." Curhat Jodi.
"Duuuh, suami siaga ku." Rara memeluk Jodi seolah lupa kalau sebelum mandi ia tadi sempat ngambek kepada suaminya itu.
Drrrttt
Drrrttt
"Wah, telepon lagi die." Rara segera meraih ponselnya.
"Assalamualaikum, bumil..." Sapa Rosa.
"Walaikum salam, Sa." Jawab Rara.
"Loe udah nyampe rumah?" Rosa berbasa-basi.
"Iya Alhamdulillah ini baru kelar mandi." Jawab Rara.
"Seger dong, gue lagi males ngapa-ngapain." Cicit Rosa.
"Gue... gue... hiks... hiks..." Akhirnya jebol juga bendungan katu lampa, eh airmata Rosa.
"Sa, sorry dimori ye sebelumnya kalo gue gak sopan tapi kalo niat mau nangis mendingan gosah telepon bini gue. Kasian dede utun denger ante nya nangis." Jodi yang berada disebelah kanan Rara segera bertindak.
"Ih, apaan sih posesif banget loe! Gak peka!" Pekik Rosa.
"Lah, pan gue udah minta maaf. Kalo boleh gue ngasih saran loe mendingan curhat ke sesama jomblo tuh si Siska." Saran Jodi spontan.
"Siska? Eh, dia kek nya udah gak jomblo tadi dia di pepet mulu sama Andri." Ketus Rosa.
"Wah, gue gak tahu deh pokoknya sesama jomblo biasanya lebih enak kalo saling curhat." Jodi merayu Rosa agar beralih ke Siska.
"Yodah gue matiin.Bye." Rosa kesal karena niatnya curhat dengan Rara terhalang oleh Jodi.
"Kasian tau Yang kamu larang Rosa curhat ke aku." Rara protes begitu mendengar Rosa memutuskan sambungan telepon.
"Ujungnya pasti dia bakalan mewek terus bini Abang nyang bohay ini bakalan baper atawa kebawa emosi denger ceritanye die." Jodi mengingatkan.
Menjaga mood istrinya yang naik turun setiap harinya sudah sangat melelahkan bagi Jodi apalagi kalau di tambah harus mengurusi percintaan Rosa. Pilihan yang terkesan kejam tapi baginya itu yang terbaik demi kenyamanan istrinya.
.
__ADS_1
.
"Sis, please... Gue yakin loe pasti bisa deh." Rengek Rosa pada sambungan telepon nya kalau ini.
Sesuai dengan saran Jodi agar curhat ke sesama jomblo dan pada saat ini sosok itu hanyalah Siska seorang, maka tanpa basa-basi lagi Rosa langsung ngegas untuk merengek agar Siska mau ikut membantunya.
"Duuh, gue harus bilang berapa kali kalo gue kagak ada hubungan apapun sama boncabe jadi mustahil tuh orang bakal jujur sama gue." Siska gemas dengan sikap keras kepala Rosa.
"Cih, rabun apa pegimana mata loe, Sis? Seluruh dunia juga tau kalo Andri sekarang mulai bucin sama elo." Rosa terpancing emosi.
"Ngotot bener sih loe?" Sungut Siska.
"Yaudah buktiin aja besok loe dateng tuh ke basecamp mereka di bengkel sambil pura-pura servis motor loe ke Andri sambil ajak dia ngobrol. Loe pegang ya kata-kata gue pasti dia bakalan tempelin elo." Rosa meyakinkan Siska.
"Males ah, gue gak pernah bohong eh malah loe suruh pura-pura lagi ke boncabe, malu kalo ketauan gue bohong." Siska enggan mengikuti misi yang diberikan oleh Rosa.
"Loe masa tega sih sama gue." Rosa mulai playing victim.
"Gak gitu, Sa tapi boncabe tuh pasti bukan tipe orang yang gampang kita kulik informasi nya." Siska memutar akalnya untuk menolak permintaan Rosa.
"Terus kalo dia ternyata bisa loe korek infonya gimana? Awas aja tapi loe jangan main nyosor aja minta di kawinin." Rosa memberi peringatan dini agar misinya tidak menimbulkan gempa buatan alias hal-hal mustahal.
"Astaghfirullah aladzim... Loe kata gue cewek apaan maen nyosor aja ke cowok?!" Bentak Siska menjadi emosi.
Kenapa curhatan Rosa yang lagi patah hati gini kok ngeselin ya? Pake maksa banget lagi gue kek pedekate sama boncabe? Dumal Siska dalam hati.
"Jadi, loe mau gue merana selamanya ditinggal kawin sama Sam? Huaaaaahhh... hiks... hiks... hiks..." Queen of drama beraksi.
"Ribet loe, Sa! Ngapa dulu pake nolak mulu tiap di tembak sama Samudra? Giliran dia sukses move on baru loe nyesel?!" Siska mengungkit kesalahan Rosa selama bertahun-tahun.
"Iya gue sekarang ngaku salah dan kalah." Rosa merendah.
"Oke, biar loe gak penasaran besok gue coba deh korek informasi dari boncabe." Siska menyerah dan menyetujui ide aneh Rosa.
"Alhamdulillah... aku padamu, Sis. Saat ini emang cuma elo sahabat gue paling juara." Puji Rosa penuh intrik.
"Preeeettt... Tapi inget ya kalo gue gagal jangan beper ke gue." Siska tak ingin nantinya disalahkan setelah ia berusaha.
"Kagak dong malah gue rasa mungkin ini jalan loe bisa deket sama Andri. Ups..." Rosa merasa salah berbicara.
"Tuh kan elo mah..." Siska jengkel.
"Sorry... sorry..." Rosa meminta maaf.
Wah, berhasil gak ya Siska menjalankan misi aneh dari Rosa?
__ADS_1