
Mendekati basecamp Mantan Jomblo yang berupa bengkel berukuran sedang yang di apit oleh tempat steam (cuci motor dan mobil) disebelah kanan dan toko onderdil motor di sebelah kiri membuat Siska mengemudikan motornya agak pelan untuk mengatur nafasnya.
Entah mengapa walaupun sudah sering sakit hati mendengar ucapan pedas boncabe setiap bertemu tapi Siska selalu saja tersinggung. Ah, siapa lagi orang yang tega memberikan julukan mulut comberan kalau bukan si boncabe alias Andri.
5 menit sudah Siska berdiam diri di depan bengkel tersebut. Siska pun sudah sejak tadi berkirim pesan dengan Rosa seraya ia diingatkan agar Siska tak melupakan misi darinya.
Sementara itu Dodit yang merasa geram dengan kelakuan Andri tidak bergerak cepat menyambut kedatangan Siska langsung berjalan mendekati Siska. Lihat aja loe gimana gue beraksi. Ancam Dodit sambil menunjukkan smirk evil nya.
"Hai cantik, kok ragu gitu mau kesini?" Sapa Dodit ramah.
"Eh elo, Dit." Siska menghembuskan nafasnya lega karena yang ia jumpai adalah Dodit bukan boncabe yang akan membuat mood nya buruk.
"Kaget gitu, ngarep siapa emang yang nyapa loe duluan?" Dodit memulai aksinya.
"Samudra kemana?" Siska tiba-tiba tercetus menyebutkan nama itu.
"Hah? Kenapa loe tanyain Samudra?" Dodit kaget mendengarnya.
Siska juga heran kenapa malah menyebut nama Samudra untuk ditanyakan kepada Dodit.
"Umm, gue kemaren lupa belom sempat kenalan sama ceweknya." Siska rupanya tidak bisa menahan aksara di kepalanya mengenai hubungan Samudra dan Vania.
"Bocah itu paling masih ekskul di sekolahnya." Ucap Dodit.
"Heh? Ekskul di sekolahnya?" Siska terperangah kaget mengetahui fakta kalau sosok yang mengaku calon istri Samudra tersebut ternyata masih berstatus sebagai pelajar.
"Hehehe... Biasa aja tuh mulut, awas laler masuk." Gurau Dodit.
"Laler, sembarangan aja loe." Siska merengut lalu kembali memakai masker nya.
"Laler rambut item." Pancing Dodit.
"Ngaco aja loe. Hehehe." Siska tertawa renyah.
"Ekhem," Andri sengaja berdehem untuk menyadarkan posisi keberadaan nya.
Sejak tadi ia sudah menahan dirinya agar tidak bertindak kasar kepada Dodit yang ia tahu pasti memang sengaja ingin memamerkan kebolehannya menggoda Siska agar emosinya terpancing.
"Sis, ada sesuatu di rambut kamu." Dodit sengaja memancing di air keruh.
"Jangan bilang kecoa ya? Gue tampol loe!" Ancam Siska yang malah mengira Dodit akan menaruh kecoa di rambutnya.
__ADS_1
"Hahaha... Gak bisa dah di romantis in." Dodit mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Bengkel bukan tempat pacaran." Ketus Andri karena merasa kedua orang didepannya tidak menghiraukan dirinya.
"Sirik? Bilang bos! Hahaha." Dodit semakin gencar meledek.
"Oh iya Dit, ini gue mau ganti oli motor gue." Siska menyampaikan maksud kedatangan nya.
Ide ingin mengganti oli telah ia pikirkan sebelumnya dari rumah karena kebetulan memang sudah waktunya motornya ganti oli.
"Udah sama gue aja." Andri ingin merebut kunci motor yang sedang di pegang Siska.
"Ih, kebiasaan loe suka main rebut aja! Dodit kok yang tadi mau bantuin gue. Iya kan, Dit?" Siska menepis tangan Andri.
"Eits, jangan bikin posisi gue serba salah dong. Gue gak mungkin memilih antara teman dan wanita." Seloroh Dodit sambil mengulum senyum nya puas berhasil membangunkan macan tidur.
"Ck, takut amat loe sama boncabe! Udah cepetan nih gantiin oli motor gue." Siska bersikeras agar hanya Dodit yang membantunya.
"Dit, katanya loe tadi mau jemput Vania? Sam tadi bilang masih sibuk jadi gak bisa jemput." Andri mengusir Dodit.
"Woi, main kasar nih ngusir aja, tapi baiklah. Inget bro ini gak gratis." Dodit agak berbisik mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Loe tuh kek Hitler ya main singkirin orang aja semaunya." Siska melipat kedua tangannya kesal.
"Males gue." Siska memasukkan kembali kunci motor nya.
"Sorry." Ucap Andri.
"Sis, macan nya udah jinak. Loe jangan pergi ya? Janji gue abis ini kita jalan." Dodit mengerlingkan sebelah matanya.
Bug
Andri memukul keras bahu Dodit agar memilih segera berlalu dari hadapan Siska dan Andri. Kode keras itu sengaja diabaikan oleh Dodit.
"Gimana kalau kita sekalian ngafe di cafe dekat sekolah Vania? Cozy tuh tempatnya." Rayu Dodit tak berperasaan.
"Lah, terus motor gue gimana ini?" Siska bingung.
"Motor loe di tinggal sini biar Andri yang gantiin oli motor nya. Iya kan, Dri?" Tekan Dodit.
Pandangan Andri semakin tajam menatap Dodit yang tak berhenti akting sejak tadi.
__ADS_1
"Ayok sini!" Andri segera menarik tangan Siska ke arah tempat duduk di dalam bengkel nya.
"Idih kasar banget loe! Gue mau sama Dodit ngafe." Siska menolak tarikan tangan Andri.
"Come to papa, baby." Goda Dodit dengan gaya tengil nan menyebalkan nya.
Dug
Andri menendang tulang kering Dodit keras saking kesalnya. Dodit pun meringis kesakitan.
"Hitungan ketiga loe masih ada disini bakalan abis loe!" Ancam Andri sambil mengarahkan telunjuknya ke wajah Dodit.
"Sadis!" Nyali Dodit mulai ciut.
Tak berapa lama kemudian Dodit pun pergi. Siska menatap nanar kepergian Dodit karena ia sadar disini Andri sedang marah sehingga ia ketakutan.
"Ini minum." Andri memberikan teh botol kemasan kepada Siska.
Siska tidak menjawab ucapan Andri dan memilih memalingkan wajahnya ke arah lain. Kalau sudah begitu Andri hanya bisa pasrah dan mengambil motor Siska untuk dia ganti oli nya.
Satu menit
Dua menit
Hingga menit ketiga puluh posisi Andri dan Siska tak berubah. Siska telah bosan melirik pergelangan tangannya melihat arlojinya yang telah menunjukkan sudah terasa lama baginya menunggu.
"Sebenarnya motor gue udah kelar kan ganti oli?" Tanya Siska.
"Kenapa teh nya gak di minum? Keburu gak dingin tuh." Bukan menjawab pertanyaan Siska tapi Andri malah balik bertanya.
"Males, Gue gak suka dingin." Ucap Siska ambigu.
"Hm, sorry untuk yang tadi." Andri mendekati Siska dan duduk disebelahnya.
"Jadi abis berapa duit?" Siska membalas perlakuan Andri dengan tak menghiraukan ucapannya lalu mengeluarkan uang dari dompetnya.
"Gak usah." Sahut Andri.
"Gue gak mau punya hutang sama loe." Siska meletakkan selembar kertas merah di nakas dekat Andri.
"Ck, udah kebanyakan duit apa loe." Andri menahan kesal.
__ADS_1
"Thanks ya." Siska tak perduli dan memilih pergi meninggalkan Andri.