
Siska melajukan motornya dengan berbagai perasaan berkecamuk. Ia juga bingung kenapa tadi begitu ketakutan menghadapi Andri padahal kalau di ingat lagi sikap Andri sudah jauh lebih baik kepadanya. Tapi ia malah pergi begitu saja.
Saat melewati pertigaan lampu merah dari sebelah kiri terdengar suara seseorang memanggil namanya. Ia terhenyak karena pemilik suara itu ternyata adalah Dodit.
"Hahaha... Kita emang jodoh ya Sis." Gelak Dodit setelah berhasil membuat Siska melihat lalu mendekatinya.
"Pede abis loe! Hahaha." Siska ikutan tertawa.
"Eh, ketemu lagi sama mba katering." Vania langsung merangkul Siska.
"Enak bener loe bocah panggil gue mba katering." Siska mendelik kesal.
"Ampun deh loe Van, kelar hidup loe kalo kedengaran Andri sembarangan panggil ayang nya. Hahaha." Cemooh Dodit.
"Dih, kenapa boncabe pake di sangkutin sama gue?" Siska tak sudi namanya terkait dengan Andri.
"Ah elo kurang nyata apa dia bucin sama elo." Seloroh Dodit.
"Apaan tuh dia kejam banget panggil gue mulut comberan." Siska menggigit bibirnya.
"Serius bang Andri panggil mpok ipar gitu?" Vania ikut geram.
"Deh, bocah tadi panggil mba katering sekarang Mpok ipar, banyak bener nama panggilan loe buat gue." Siska melirik sebal.
"Sis, mendingan loe parkirin dah tuh motor biar kita enak ngafe disini." Dodit mengingatkan Siska karena sejak tadi mereka berbicara di bahu jalan arah cafe Mellow.
"Boleh sih tapi jangan lama-lama ya nanti gue mau beli kado buat ultah nyokap." Siska menerima ajakan Dodit dengan syarat hanya sebentar saja.
Perlahan Siska pun mengarahkan laju motor nya ke arah parkiran cafe. Dodit dan Vania menunggu nya di arah pintu masuk.
Mendengar Siska menuruti keinginan nya diam-diam Dodit menghubungi Andri agar datang bergabung bersama mereka.
"Gece bener Mas Dodit comblangin bang Andri. Hehehe." Vania memuji kecepatan berpikir Dodit.
"Gue tahu gimana nista nya jadi jomblo, so gue mau sobat gue pada dapet pasangan." Dodit menarik turunkan alisnya.
"Semoga Mas Dodit dapat jodoh secepatnya." Doa Vania.
"Gosah cepet-cepetan masalah jodoh yang penting sama-sama klik dan langgeng." Dodit sok bijak berpetuah.
"Kok Mas Dodit mau sih repot comblangin bang Andri?" Vania penasaran.
"Lah, Andri itu kalo gak dipanasin mungkin bakalan jadi jomblo abadi sementara tanpa sadar orang yang dia sukai itu tersinggung sama ucapan dan sikapnya yang nyebelin." Tutur Dodit.
"Emang bang Andri nyebelin? Baik ah sama aku." Vania menolak anggapan kalau Andri menyebalkan.
__ADS_1
"Menurut loe ngasih julukan mulut comberan sama cewek yang dia sukai itu baik? Siska aja sampe ngasih julukan boncabe saking pedasnya tuh omongan Andri." Dodit menjelaskan.
Ketika Siska hendak masuk ke dalam ruangan menuju tempat duduk Dodit dan Vania tiba-tiba nada dering ponselnya berbunyi. Hm, Rosa telepon lagi, angkat gak ya? Siska sejenak terdiam karena ragu.
"Sis, angkat aja telepon nya takut penting." Saran Dodit.
Siska pun mengangkat telepon dari Rosa. Belum sempat ia mengungkapkan salam pembuka Rosa langsung memberondong dirinya dengan berbagai pertanyaan.
"Assalamualaikum.. Sis, loe masih hidup? Kenapa telepon dari gue baru loe angkat? Loe enggak di apa-apa in kan sama Andri?" Cerocos Rosa seolah tak mau membiarkan Siska bernafas untuk sekadar menjawab pertanyaan nya.
"Walaikum salam. Gue sekarang lagi di kafe sama Dodit." Siska sengaja tidak menyebutkan nama Vania karena tak ingin Rosa kembali terluka.
"Dodit? Kok loe bisa sama dia?" Nada suara Rosa meninggi.
"Tadi pas di bengkel gue ngobrol nya sama Dodit." Aku Siska.
"Jauh-jauh loe sama dia." Rosa memperingatkan Siska.
Tatapan Siska yang tampak sebal dengan ucapan Rosa terlihat jelas di mata Dodot sehingga ia mengambil inisiatif untuk menggoda Rosa saja sekalian.
"Rosa cintaku, kangen gak sama gue? Ngumpul yuk? Gue lagi happy dapat rejeki nomplok nih jadi mau traktir Siska." Dodit mengeluarkan gombalan receh nya.
"Loe jangan macam-macam ya sama sobat gue! Bentar gue susul loe berdua kesana." Rosa semangat untuk bergegas menyusul sahabatnya itu.
"Yes! Rosa mau kesini." Dodit mengepalkan tangannya seraya mengayunkan sambil berseru kegirangan.
Pertanyaan Vania sontak saja menyadarkan Siska kalau keberadaan akan meresahkan hati dan jiwa Rosa saat ini.
"Umm, Dit, loe gila ya mau bikin perang dunia ketiga?" Siska nyolot.
"Santai ngapa, Sis. Ngopi apa ngopi." Dodit bergurau.
"Loe ngotak dong masa baru kemarin dia nangis bombay lihat nih bocah sama Sam terus kita amprokin sekarang?!" Siska frustasi sendiri.
"Wah iya!" Dodit menepuk dahinya.
"Mas, kenape sih pada? Aye kagak paham nih." Vania melirik Dodit dan Siska karena tidak memahami arah pembicaraan Siska dan Dodit.
"Bocah, loe beneran calon istrinya Samudra?" Selidik Siska sambil mengamati gesture Vania apakah akan menjawab jujur atau tidak.
"Mmm... jujur nih karena yang tanya itu calon Mpok ipar jadi aye bakal ngaku kalau kemarin pas datang hajatan kita emang cuman gimik, tapi pas aye pulang terus ketahuan babeh di anterin bang Sam pulang malem langsung di sidang terus di pepet nikah..." Vania berkata jujur.
"Ck, loe balik malem pasti karena lama antri beli BTS meal, kan?" Decak Dodit.
"Mak maksudnya gimana?" Siska menolak percaya akan fakta yang baru ia dengar.
__ADS_1
"Bang Sam akhirnya kemarin beneran minta aye jadi bini nya ke babeh sama Enyak." Lirih Vania.
"Hah? Loe beneran?!" Siska semakin terkejut.
"Gila, gila, gila! Loe tahu Dit rencana gimik nih orang berdua?" Rahang Siska mengeras menahan amarahnya.
"Sorry, Sis..." Dodit menyadari letak kesalahannya.
Siska yang tak terima perasaan sahabatnya dipermainkan langsung berlari meninggalkan Dodit dan Vania. Rasa panas semakin menjalar di kedua bola mata dan juga hidungnya. Ia mempercepat langkahnya meninggalkan mereka, sebelum airmata nya yang sejak dari tadi ia tahan mengalir dari tempatnya.
Siska melangkah tanpa memperhatikan sekitarnya hingga tanpa sadar tubuhnya menabrak sosok pria hingga ia terjatuh di bahu pria itu yang bergerak cepat menahan tubuh Siska agar tidak kembali terjatuh.
"So... sorry." Siska berkata tanpa berani menatap matanya yang sedang mengalirkan cairan bening.
"Siska? Kamu kenapa nangis sayang? Siapa yang berani bikin kamu nangis? Brengsek Dodit!" Geram Andri. Ya, pria yang tanpa sengaja di tabrak oleh Siska ternyata adalah Andri.
Mendengar suara yang ia kenali dan begitu meninggalkan jejak tak menyenangkan maka Siska bergegas ingin mengambil langkah seribu.
Grepp
Andri memeluk Siska bermaksud ingin meredekan tangisnya. Pelukan itu dirasakan begitu nyaman oleh Siska sehingga ia menikmatinya sambil tak henti menangis. Kemeja biru langit itu pun basah oleh air mata dan ingus Siska.
"Hiks... Sorry kemeja loe basah." Siska ingin melepaskan pelukan Andri.
"Aku enggak bakalan lepasin kamu kalo belum selesai nangisnya." Andri malah mengeratkan pelukannya.
"Samudra... hiks... hiks... Jahat banget dia mainin perasaan Rosa... hiks.. hiks..." Siska mengadu.
"Jahat kenapa? Cup cup cup berhenti ya nangisnya." Andri memperlakukan Siska bak meredakan tangisan bocah yang kalah berebutan mainan.
"Rosa kan sebenarnya cinta sama Sam tapi... tapi kenapa giliran dia suka malah Sam mainin perasaannya." Siska meremas kemeja Andri.
Kini Andri mulai mengerti sumber kesedihan Siska. Ia yang sudah mengenal Siska sejak mereka sama-sama sekolah SMA tahu benar kalau bagi Siska kebahagiaan sahabatnya itu di atas segalanya. Apapun akan dilakukan Siska termasuk mengucapkan kalimat makian kepada siapapun yang menyinggung perasaan sahabatnya. Hal itu pula yang membuat Andri menjulukinya sebagai mulut comberan.
Anehnya kini ia mendengar kalimat makian atau umpatan apapun dari bibir Siska setelah mengetahui kalau Samudra telah menyakiti hati Rosa. Sungguh kemajuan yang luar biasa.
Jemari Andri perlahan mengusap lembut tetesan cairan bening itu dari wajah sendu Siska. Bibir mungil merah muda itu kenapa terlihat menggoda? Ugh, Andri memaki jiwa lelakinya.
"Kenapa liatin? Gue jelek banget ya?" Siska menyusut airmata nya. Pandangan matanya ia arahkan ke sosok Andri.
"Coba deh di balik seandainya kalau kamu ada di posisi Sam udah bertahan lebih dari empat tahun bolak-balik ungkapin rasa cintanya tapi selalu di tolak sementara keluarganya udah maksa dia nikah tahun ini karena bokapnya baru mau di operasi pemasangan ring di jantung nya setelah dia nikah. Apa yang akan kamu lakukan?" Andri ingin Siska berfikir logis.
"Hiks... hiks... hiks..." Siska tak sanggup menjawab analogi yang diberikan oleh Andri.
"Um, kamu tahu gak apa yang mungkin bisa kita lakukan untuk kebahagiaan Rosa?" Andri menawarkan pilihan.
__ADS_1
Wew, apa yang kira-kira bakalan di ucapkan sama boncabe yang mendadak mulutnya semanis madu ya?