Kawin Gantung

Kawin Gantung
Belajar jujur biar mujur


__ADS_3

Rara yang sedang menunggu Jodi mandi asyik bermain handphone sambil tiduran di kasur. Sebenarnya ia merasa tenaganya terkuras lantaran begadang hampir semalaman menjaga suaminya. Kedua kelopak matanya sudah terasa lengket dan mulai berayun-ayun.


Tak berselang lama Jodi keluar dari kamar mandi. Ia menatap bahagia wajah Rara yang hampir terpejam lalu ia hampiri perlahan dan ternyata Rara belum tertidur.


"Makasih kamu masih mau peduli sama aku." Ucap Jodi tulus.


Rara mengernyitkan dahinya karena tak biasa mendengar Jodi berbicara aku-kamu dengannya. "Hm," hanya itu respon yang ia berikan.


"Kamu mau tidur atau mau sarapan?" Jodi tersenyum dan menawarkan Rara.


"Hm," Rara masih kikuk menanggapi ucapan Jodi.


"Ham hem ham hem... minta di cium nih kayaknye." Jodi mendekatkan wajahnya ke wajah Rara bermaksud menggoda.


Apa rasanya lebih menyegarkan dari minuman yang mengandung 1000 mg vitamin C?


Belum genap dua detik ia pandangi nalurinya sudah menuntunnya menempelkan bibirnya dengan bibir Rara. Tidak ada respon apapun yang diberikan Rara. Ia membiarkan bibir itu menempel. Ciuman pertama milik keduanya terasa kaku.


Rasa manis yang ditimbulkan dari bibir istrinya membuat Jodi tergoda menjelajah dan memagut lembut cukup lama hingga terdengar....


Drrrttt


Drrrttt


Rara seketika mendorong Jodi agar menjauh dari tubuhnya. Nafas mereka masih terengah-engah bak lari maraton di tempat lantaran hampir lupa mengambil nafas saking enaknya. Rara juga mengusap bibirnya yang lembab sambil terbayang adegan yang baru saja ia lakukan.


📱


"Assalamualaikum... lagi dimane tong?." Rojak menanyakan kabar anaknya.


"Walaikum salam. Iya Beh ini masih di kamar." Jodi menjawab telepon dari Rojak.

__ADS_1


"Pegimane sekarang loe udah enakan badan loe?" Rojak ingin memastikan kondisi kesehatan anaknya yang sebenarnya terasa berat ia tinggalkan di rumah kalau saja tidak terikat hutang jasa dengan Pak erwe yang punya hajat ngebesan.


"Alhamdulillah Beh, udah enakan." Jodi membalas perhatian Rojak.


"Loe udah sarapan belom?" Rojak mengkhawatirkan asupan makanan Jodi.


"Udah, aye sarapan alpukat sama cherry." Jodi mengulum senyum sambil melirik nakal Rara yang semakin salah tingkah.


"Waduh, siape nyang ngasih? inget, loe sarapan bubur aje dulu jangan langsung buah ntar mules lagi." Cerocos Rodiah yang rupanya telepon Rojak loud speaker.


"Iye ntar aye keluar cari sabu ame Rara." Jodi tak membantah perintah Rodiah.


"Oh iye ada Rara nyang ngurus elo. Mantu Enyak lagi ngapain?" Rodiah teringat akan keberadaan Rara yang memang ia minta tolong merawat Jodi.


"Lagi bobo cantik." Jodi melebarkan senyumannya yang padahal tidak di lihat orangtuanya.


"Heh, abis ngapain loe berdua? Jangan bilang loe abis gabrug bini loe ye?!" Rojak kaget dan langsung memperingatkan anak dan mantunya.


"Beneran loe ye? kasian kalau loe gabrug sekarang pan loe berdua masih pada ujian, ntar die di ketawain temennye. Hahaha." Rojak sudah membayangkan khayalan konyol anak dan mantunya.


"Emang siapa nyang bakalan tau ampe Rara di ketawain?" Jodi tak terima kalau istrinya akan menjadi bahan tertawaan temannya.


"Yaelaah pasti bini loe abis di gabrug nanti jalannye kek pinguin 🐧 Hahaha." Rojak tertawa geli mengingat hewan akuatik jenis burung yang tidak bisa terbang itu dalam wujud menantunya.


"Semprul ye si Abang pake ngayal mantu kite jadi pinguin segale!" Maki Rodiah di sebelah Rojak yang sudah dapat menerka isi kepala suaminya.


Serem amat bini gue tau isi kepala gue, pantesnye jadi peramal. Gumam Rojak dalam hati.


"Beh, Nyak, ngapa jadi pada ribut gak jelas sih?" Jodi tidak habis pikir dengan pola pikir kedua orangtuanya yang absurd.


"Tau nih babeh loe emang edun." Rodiah menanggapi ucapan Jodi.

__ADS_1


"Edun juge loe cinte. Hahaha." Gombal Rojak dengan kekehan nya.


"Enyak udah telepon Bang Duloh buat anterin bubur ayam bakal sarapan loe." Rodiah mengalihkan pembicaraan nya dengan Rojak.


"Alhamdulillah... makasih ye, Nyak. Iye sih aye masih males makan." Jodi membenarkan tindakan Rodiah yang inisiatif membelikan bubur walaupun sedang berada jauh dari anaknya.


"Cepet sembuh ye, tong. Enyak sama Babeh mau siap-siap nih acaranye mau di mulai." Rodiah hendak mengakhiri telepon.


"Iye, Enyak sama Babeh juga buruan balik dimari biar aye gak khilap. Hehehe." Jodi memancing reaksi kedua orangtuanya.


"Khilap apa niat? Hahaha." Rojak tergelak.


Rodiah mencubit lengan suaminya seraya mengatakan tanpa suara agar tidak memancing kekhilafan anak dan mantunya.


"Tong, udahan ye... Assalamualaikum..." Rodiah mengucapkan salam penutup.


"Walaikum salam, Enyak cakep... mmmuuaahhh." Jodi lebay.


Rara mendadak geli melihat tingkah tak terduga suaminya. Untunglah ia tidak benar-benar tertidur sehingga masih dapat menyimak isi pembicaraan suami dan mertuanya di telepon.


Sementara Jodi begitu terpesona kala menatap dalam manik hitam mata Rara. Ada terbersit ketakutan dan pertanyaan dalam dirinya seperti, apakah Rara benar akan memilih pendidikan nya dan meninggalkan dirinya?


"Di, bisa berlubang nih muka gue loe liatin Mulu!" Sinis Rara.


Rara ingin menghindari tatapan mata suaminya yang sebenarnya selalu ia rindukan.


"Ra, aku mohon dalam kondisi apapun jangan pernah kamu tinggalin aku..." Harap Jodi.


Mendengar permintaan Jodi membuat Rara dilema galau gundah melanda. Apa sekarang waktunya untuk jujur kalau ia berencana kuliah di lain kota setelah dirinya lulus Rara menimbang keputusan nya untuk belajar jujur biar mujur. Semoga...


Bismillahirrahmanirrahim...

__ADS_1


__ADS_2