
"Woyyy... Loe berdua mojok mulu!" Tegur Rosa sambil menepuk bahu Siska.
Siska terlihat gelagapan dihampiri oleh Rosa. Bukan, ia bukan gelagapan karena terciduk sedang bersama Andri karena boncabe ini tak berarti baginya. Segala pertengkaran mereka baginya membuktikan bahwa mereka memang bukan sepasang kekasih yang layak untuk disandingkan dan di olok-olok bak orang sedang kasmaran.
"Sis, ngapa loe bengong? Omaigot... Loe jangan bilang barusan di lamar Andri? Gue jomblo terakhir dong di geng kita?! Hiks...hiks...hiks..." Rosa memasang wajah sedih.
"Astaghfirullah aladzim... Rosa, loe kata si boncabe cowok normal? Dia mah gak bakal nyetrum sama gue, beda server." Sinis Siska ke arah Andri sambil menjulurkan lidahnya.
Andri mengulum senyumnya melihat tingkah menyebalkan Siska. Eh, kenapa malah senyum gini? Protes Andri dalam hati. Ia lalu meninggalkan dua Siska dan Rosa.
"Sa, loe ngapain disini? Ganggu aja." Dodit yang sejak tadi mengamati interaksi antara Andri dan Siska merasa terganggu dengan kehadiran Rosa sehingga sedikit membentak Rosa.
"Eh, apaan nih loe berasa nyang punya hajatan ngatur-ngatur gue." Rosa tak terima ucapan ketus Dodit.
"Loe mendingan sama gue sini biar si Andri sukses mepet Siska ke penghulu." Dodit menarik Siska dengan tangan kanannya karena tangan kiri masih menggendong Dira yang masih asyik menikmati ice cream nya.
"Ogah! Yuk Sis, kita gabung tuh kesana." Rosa menunjuk ke arah Jodi dan Rara yang berjalan mendekati pasangan pengantin baru.
"Dira sayang... Yuk, sama mami Siska." Rayu Siska seraya mengulurkan tangannya ingin menggendong Dira.
"Jangan, entar gaun loe kotor!" Rosa menarik tangan Siska yang ingin meraih Dira.
"Sa, Rosa emang loe kagak punya jiwa keibuan." Decak Dodit.
"Ih, ngomong apa sih loe?..." Rosa kesal namun lengannya langsung di tarik oleh Siska pergi.
__ADS_1
"Ayok kita kesana." Siska mengalihkan perhatian Rosa karena melalui ekor matanya ia melihat Vania bersama Samudra sedang berada dekat di antar mereka.
Bisa kacau pestanya si Hilda kalau Rosa ngamuk Samudra di tempel cewek lain. Ya walaupun Rosa selalu menolak Samudra tapi semua orang juga tahu kalau Rosa sebenarnya mencintai Samudra. Siska harap-harap cemas.
"Loe tadi gue ajak gak mau..." Sungut Rosa.
"Hai mba katering..." Sapa Vania ingin berbasa-basi kepada Siska.
"Mba katering? Jangan sembarangan loe bocah panggil temen gue!" Solot Rosa sambil menjauhkan Vania dari Siska.
"Sa, ayooo..." Siska melemah sambil dalam hati menghitung detik menjelang detik-detik proklamasi, eh huru-hara karena Rosa.
"Bang, tolong in Vania dong ada cewek nyebelin..." Rengek manja Vania.
Rosa mengarahkan pandangannya kepada sosok yang sedang digelayuti Vania, seketika ia membolakan matanya. Manik hitam itu pun tak kalah terkejutnya dengan Rosa.
"Sam, dia...dia..." Rosa ingin mengkonfirmasi apa yang sedang ia lihat saat ini.
Sebelum Samudra menjawab maksud ucapan Rosa, Siska menarik kencang tangan Rosa ke arah kamar mandi. Ini bukan momen yang tepat untuk patah hati tapi kalau harus terjadi maka harus mencari tempat yang tersembunyi agar meluapkan emosi yang ada. Siska berpikir cepat.
"Kenapa loe tarik gue?! Jangan bilang loe udah tahu kalau..." Rosa ingin melepas paksaan tarikan tangan Siska.
"Sa, please... Gue juga baru tahu barusan." Siska memeluk Rosa sambil mengusap lembut punggungnya.
"Hiks...hiks...hiks... Kenapa dia move on???" Pekik Rosa yang untunglah mereka sudah berada di kamar mandi.
__ADS_1
Siska lalu menutup sekat kamar mandi agar tidak memancing perhatian walaupun suara tangisan dan rentetan curhatan Rosa pasti terdengar jelas.
"Sis, Sa..." Rara menghampiri kedua sahabatnya.
"Ra, Sam tega sama gue..." Rintih Rosa.
"Iya sabar ya... Gue juga kaget tuh bocah pede banget pamer cewek baru di acara ini." Rara menahan geram.
Rosa tak memperdulikan penampilan nya yang berantakan lantaran make up nya yang luntur, lipstik yang terlihat bentuknya seperti habis makan orok.
#Flashback On#
"Sam, sorry tapi loe kan tau gue baru aja di terima kerja jadi gak..." Rosa melepas genggaman tangan Samudra.
"Huft, Sa, coba di pikir lagi karena ini terakhir kali aku bilang cinta buat kamu. Aku terlanjur janji akan menikah tahun ini sama orangtuaku." Samudra terdengar lirih di akhir ucapannya.
"Sam, kita masih muda jadi ngapain buru-buru mau nikah?" Rosa tetap tak bis sependapat dengan Samudra.
"Kami yakin?" Tanya Samudra.
"We are best friend forever." Rosa menyunggingkan senyuman manisnya seraya mengarahkan telunjuknya ke pipi Samudra.
"Maaf, aku enggak yakin setelah ini sikap ku akan sama ke kamu." Samudra menurunkan jari telunjuk Rosa dengan tatapan dingin.
Sudah lebih dari 4 tahun dirinya mengharapkan secuil perasaannya terbalas oleh Rosa tapi gadis itu selalu menolaknya dengan dalih persahabatan. Ia lelaki jelas tak mungkin selamanya mengemis cinta dari hati yang tak merasakan hal yang sama dengannya.
__ADS_1
#Flashback off#