Kawin Gantung

Kawin Gantung
Belok


__ADS_3

Semenjak Jodi mengetahui rencana Rara yang ingin melanjutkan kuliahnya ke Jogja, mendadak Jodi berubah. Ia lebih memilih diam dan menghindari Rara. Kalau Rara saja bisa berfikir untuk menjauh darinya maka ia pun akan melakukan hal yang sama bahkan sebelum lulus sekolah. Itu tekadnya lantaran dirinya merasa kecewa perasaannya tak bernilai apapun di mata Rara.


Hal itu tidak luput dari pengamatan para sahabatnya juga sahabat Rara. Tapi untuk menegur secara langsung mereka merasa sungkan sehingga menunggu waktu yang tepat untuk membicarakannya lantaran saat ini mereka di gempur habis-habisan waktunya untuk berbagai ujian praktek juga tes ujian masuk kuliah masing-masing.


"Ra, loe ngapa tadi bisa telat?" Tanya Hilda ketika sudah masuk jam istirahat dan mereka kebetulan berempat berada di kantin.


"Si pinky masih ngadat." Jawab Rara sambil tetap menuangkan sambal ke mangkuk bakso nya lalu mengadukannya walau baksonya telah ia habiskan barusan.


"Emang kemana kang ojek loe?" Siska tak tahan lagi ingin memancing reaksi Rara.


"Kang ojek? Si..." Rara tak langsung memahami arah sindiran Si Mak Lambe, Siska.


"Ayang beb..." Rosa kali ini bertindak cepat ingin mendapat pengakuan Rara.


"Ayang?" Rara ingin berkelit.


"Abang jago nya elo." Hilda ikutan kompak mencecar Rara.


Rasa pedas bakso yang di telan Rara belum seberapa dibandingkan tatapan lapar dari ketiga paparazi dadakan didekatnya ini. Begitu membuat panas dingin bagi Rara.


"Lo masih..." Siska semakin mendesak Rara agar berterus-terang.

__ADS_1


Belum selesai Siska memepet Rara dalam sesi pengakuan curhat yuk ala jamaah Mak Lambe tiba-tiba dari arah kamar mandi tampak Dina tengah berlari mencari garis finish di kantin.


Dina yang tadi terlihat mengatur nafasnya yang terasa sesak sambil menghirup aroma bakso mang Deden tanpa sengaja ia melihat Rara.


"Ra, ya ampuuunnn... Loe yang sabar yaaa..." Bagai hujan tanpa Awan tiba-tiba Dina datang dan langsung memeluk dan mengusap punggung Rara seolah menunjukkan sikap simpati akan kemalangan nasib Rara entah apa penyebabnya.


"Wah, hujan bekelir ini dinasaurus berubah jadi teletubbies." Komentar Rosa yang tak percaya akan pemandangan ajaib didepannya.


"Din, itu..." Rara hendak memberi tahu.


"Ra, jangan bilang kalau loe juga sebenarnya gak tau kalau Jodi belok." Dina agak berbisik saat mengucapkan kata terakhirnya.


Betapa kagetnya Dina karena rambutnya masuk ke dalam kuah bakso milik Rara tanpa ia sadari sejak tadi. Ujung rambutnya telah berubah warna menjadi ombre hitam merah kecoklatan karena bercampur dengan kuah sambal, saos dan kecap milik mangkok bakso yang baru selesai dihabiskan oleh Rara. Untung udah habis yes jadi gak rugi.


Seketika itu juga Dina meraung-raung sehingga menjadi tontonan gratis semua penghuni kantin yang sedang ramai. Sosok Dina yang biasa menjaga penampilan paripurna nya kali ini tampak menyeramkan dengan mata dan hidung memerah beserta rambut ombre hitam merah kecoklatan nya yang menjuntai.


"Din, tadi loe mau ngomong apaan?" Rara berusaha mengalihkan perhatian Dina agar tidak histeris dan nampak menakutkan.


Dina pun terdiam dan melirik sekitar nya lalu ia memilih membisikkan sesuatu ke telinga Rara yang masih terdengar oleh Rosa yang berada di samping Rara.


"Gue tadi lihat Jodi sama Rafli di kamar mandi lagi..." Ucap Dina menggebu sambil tetap berbisik karena biar bagaimanapun ia masih menyimpan rasa untuk Jodi sehingga tak sampai hati kalau harus mengumbar aib nya. Itu pikirnya.

__ADS_1


#FLASH BACK ON#


Semenjak Jodi memutuskan untuk menghindari Rara, maka ia memforsir dirinya untuk tekun belajar. Kalau Rara saja ingin kuliah ke luar kota maka Jodi bertekad akan kuliah ke negeri impiannya belajar teknologi, Jepang.


Aktivitas fisik yang ia kuras tak seimbang dengan asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya sehingga ketika selesai jam olahraga Jodi lemas tak berdaya.


Setelah mengikuti ujian praktek pelajaran olahraga, Jodi hendak ganti baju di kamar mandi tapi lututnya gemetar hingga ia memilih duduk di lantai kamar mandi.


Dodit yang kebetulan baru keluar dari bilik kamar mandi menghampiri Jodi. Konyolnya, Dina yang memang sejak tadi mencari keberadaan Jodi begitu terpana ketika ia mengintip dari pintu masuk terlihat Jodi sedang duduk seakan sedang mengoral Dodit yang berdiri di depannya.


"Astaga... Jodi... Gue kira loe nolak gue karena kecantikan gue memudar, tapi ternyata loe sekarang udah belok!!!" Dina histeris hingga teriakannya mengalahkan teriakan pengunjung ketika naik wahana ekstrim di Dufan.


Untunglah saat itu semua teman sekelas mereka masih terdampar kelaparan di kantin sehingga kejadian itu hanya di lihat oleh Dina.


Jodi yang awalnya ingin menjelaskan kejadian sebenarnya malah terbersit rasa bahagia tak terkira karena akhirnya terbebas dari sikap posesif Dina.


Jodi kegirangan mengayunkan kepalan tangannya seraya berkata, "Yesss!!! akhirnya gue merdeka dari penjajahan Dina!"


Sementara Dodit disebelahnya merana dan bengek karena baru saja tadi pagi ia di terima cintanya oleh sang pujaan hati tapi kini di terpa fitnah bahwa dirinya belok.


Semoga saja fitnah kalau dirinya belok tidak terdengar oleh kekasihnya. Dodit berharap tipis mengingat bagaimana kekuatan gosiper Lambe Dina.

__ADS_1


__ADS_2