Kawin Gantung

Kawin Gantung
Rosa Masih Berharap


__ADS_3

Di sudut lorong arah kamar mandi terlihat Genk Mantan Jomblo sedang bersitegang. Jodi tampak menarik kerah kemeja Samudra kasar lengkap dengan ekspresi emosi. Hal yang tak pernah terjadi dalam sejarah persahabatan mereka.


"Maksud loe apaan bawa cewek loe kemari? Mau pamer loe ke seluruh dunia udah berhasil move on dari Rosa?" Suara Jodi menggelegar mengisi ruangan yang masih tampak hilir mudik tamu yang ingin ke arah toilet.


"Di, istighfar loe. Kasian Rafli kalo acaranya kita bikin rusuh." Andri mencoba melerai sahabatnya.


"Loe bilangin tuh sama sobat loe kalo ampe bini sama calon anak gue kenapa-napa lantaran panik liat si Rosa sedih bakalan gue anggap dia orang asing!" Jodi mengarahkan telunjuknya ke wajah Samudra.


"Sorry, gue gak ada maksud apa-apa bawa dia kesini." Suara Samudra merendah, merasa bersalah.


"Sam, mendingan loe bawa pulang deh dede ketemu gede loe." Saran Dodit seraya menyibukkan Dira yang berada dalam gendongannya agar tidak melihat Jodi dalam keadaan emosi.


"Bener Sam, loe bawa pulang dulu Vania." Andri sependapat dengan saran Dodit.


Samudra menatap Jodi dengan perasaan tak menentu. Ia tak menduga kalau situasinya akan kacau seperti ini karena ulahnya.


Vania yang menyaksikan kejadian tersebut tampak meremas gaun nya. Ia hendak berbicara tapi tatapan mata Samudra jelas mengisyaratkan dirinya agar tetap diam karena keributan ini memang disebabkan karena kehadirannya.


Samudra merapihkan kerah kemeja nya yang telah terlepas dari Jodi. Ia lalu berpamitan kepada semua sahabatnya lalu bergegas mengajak Vania pergi meninggalkan acara pernikahan Rafli dan Hilda saat itu juga.


"Bang, ngapa diem aje tadi di fitnes? Ngaku aje kalo kite cuman gimik, kelar perkara." Gerutu Vania setelah mereka berjalan ke arah parkiran.


"Terlanjur." Sahut Samudra singkat.


"Hah, terlanjur apa nih?" Vania mengernyitkan dahinya.


"Terlanjur rame jadi kita resmikan aja kalo kita emang pasangan." Samudra menjawab datar.


"Astaga Abang... Aye kagak mau ama kanebo kering." Pekik Vania yang tidak dihiraukan oleh Samudra.l yang tetap melenggang menuju arah parkiran motor.

__ADS_1


"Buruan! Jadi gak mau barter sama BTS meal?" Samudra mengajak Vania.


"Ah, iya." Vania kini malah menarik tangan Samudra agar bergegas membelikannya BTS meal. Takut Samudra berubah pikiran tiba-tiba terkena angin kegalauan.


.


.


"Yang, ayo keluar, Yang. Kasian Dira..." Jodi mengetuk pintu kamar mandi dengan lesu.


"Elaaahhh itu nyang lagi patah hati Rosa ngapa loe berlebihan banget ke Rara." Cicit Dodit yang masih terdengar oleh telinga Jodi.


"Heh, loe gak ngerasain sih gimana perasaan loe kudu ngejaga emosi bini lagi hamil!" Sembur Jodi.


"Nasib gue berarti masih bagus jadi jomblo. Hehehe." Dodit mengusap dadanya. Akhirnya setelah sekian lama sering kena bully akan status nista nya yang masih jomblo kini ia merasa beruntung menjadi jomblo abadi.


CEKLEK


"Ra, syukur deh loe keluar nih laki loe ngamuk uring-uringan gak jelas. Mode senggol bacok roman nya." Adu Dodit.


"Abang ih..." Rara mencubit lengan Jodi manjalita.


"Sis, kamu gak apa-apa?" Andri ikutan mengkhawatirkan kondisi Siska yang juga baru keluar dari kamar mandi.


"Eh, elo..." Siska ingin menjawab pertanyaan Andri yang menurutnya tumben mengkhawatirkan dirinya kali ini.


"Ya Allah... Ini ngapa pada gak peka banget sih?! Hello..." Rosa menyalahkan keadaan yang menyudutkan dirinya yang merasa tak diperdulikan oleh orang di sekitarnya.


"Iri? Bilang bos!" Ledek Dodit sambil tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


.


.


.


📱


Malam harinya


"Da, hiks... sorry ya hiks... hiks... tadi gue pulang kagak pamitan sama elo." Rosa meminta maaf dengan suara sengau sambil masih terisak tangis.


"Oh iya, sorry juga ya gue baru tahu kejadian nya tadi selesai acara. Sabar ya Sa..." Hilda tak ingin mempermasalahkan kepulangan mendadak Rosa walaupun sempat kecewa menyadari ketidakhadiran Rosa di acara sakral nya hari ini hingga selesai.


"Da, hiks... Loe bisa gak... hiks..." Rosa mengelap ingus dan airmata nya yang masih terus keluar.


"Ngomong yang jelas gak pake nangis." Hibur Hilda tak ingin mendengar Rosa bersedih.


"Coba deh... hiks... Loe tanya ke laki loe....hiks... Samudra beneran sama itu bocah apa cuman mau nge prank gue doang?" Rajuk Rosa penuh harap akan kembali mendapatkan perhatian dari Samudra.


"Hmm, gimana ya..." Hilda berpikir dan tak langsung mengiyakan permintaan Rosa.


"Siapa yang lagi telepon, Say?" Terdengar suara bariton mendekati Hilda.


"Rosa..." Jawab Hilda.


"Ooh, tolong bilangin ini malam pertama kita jangan bikin kenangan sedih." Ucap Rafli ringan tanpa peduli akan reaksi impulsif Rosa nantinya.


"Huaaaaahhh... hiks... hiks.. hiks... Kalian jahat!" Rosa memutus sambungan telepon nya bersama Hilda setelah mendengar sindiran Rafli.

__ADS_1


Salahnya sendiri curhat sama pengantin mau belah duren. Hehehe....


__ADS_2