Kawin Gantung

Kawin Gantung
Kelahiran Dira


__ADS_3

Duhai Readers kesayangan harap siapkan hati ya karena ini dua part terakhir dari cerita ini.


Besok kalau tidak ada halangan diriku akan up part terakhir.


❤️❤️❤️


****


Sementara itu Jamilah yang di tinggalkan oleh semua orang yang panik dengan kelahiran Rara merasa kesal.


"Iya Di, gue udah nyampe rumah loe lagi ini. Oke, gue sama Rosa bakal bawain semua keperluan si bayi." Dodit menjawab panggilan telepon dari calon bapak bangsa yang sedang panik menunggu kelahiran anaknya.


"Eh, kamu di suruh anak saya ya buat jemput saya disini?" Jamilah berbinar terang bola matanya melihat keberadaan Dodit dan menatap sinis ke arah Rosa.


"Eh, Tante kok bisa ada disini? Terlupakan ya? Goda Dodit iseng.


"Heh, anak songong. Ayok cepetan anterin saya ke rumah sakit!" Perintah Jamilah.


"Maaf Tante, kita kesini mau ambil perlengkapan bayi." Jawab Rosa.


"Cih, saya gak tanya kamu ya!" Sentak Jamilah.


"Tan, kalo mau bareng sama kita jangan mancing ribut dong." Dodit tak terima Rosa kena omelan Jamilah.


"Dit, gue ke kamar ya ambil semua perlengkapannya." Rosa hendak melangkah menuju kamar Rara.


"Heh, mau kemana kamu?! Awas sini sama saya jangan sampe ada barang di rumah ini yang hilang di ambil kamu." Solot Jamilah sambil melangkahkan kakinya lebih cepat daripada Rosa.


"Gila, nyokap nya Sam ngapa gahar beud." Dodit menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Ini nih kamu bawa, eh yang itu biar saya yang bawa, bisa rusak kalau kamu yang bawa." Jamilah mengatur barang apa saja yang ingin di ambil Rosa.


"Sini, Sa biar aku aja yang bawain semuanya." Dodit menawarkan diri.


"Haish, kalo baru pacaran emang masih manis ya tai ayam juga rasa coklat." Sindir Jamilah.


"Tante kayak gak pernah muda aja." Sahut Dodit tak mau ambil pusing.


"Tan, kita enggak pacaran kok." Sangkal Rosa.


"Kenapa? Saya gak keberatan kok kalian pacaran asal kamu jangan coba-coba ganggu anak saya, Samudra." Ancam Jamilah dengan tatapan tajamnya.


Gleg


Rosa tidak dapat berkata-kata lagi mendengar ucapan menyakitkan dari lisan Jamilah. Ia pun memilih bangku di belakang kemudi dengan maksud agar Jamilah duduk di depan bersama Dodit.


"Ck, anak songong! Kamu pikir majikan apa yang mau di anterin sama pembantu nya. Pindah kamu duduk di depan sama pacar kamu!" Hardik Jamilah kasar.

__ADS_1


Ingin rasanya Rosa menangis dan pergi saat ini juga mendengar ucapan kasar Jamilah. Seumur hidupnya kedua orangtuanya tidak pernah berkata ataupun bersikap kasar kepadanya tapi kini dalam hitungan menit entah sudah berapa kali Jamilah menyakitinya.


"Sabar, Sa." Dodit menggenggam tangan Rosa bermaksud memberikan kekuatan.


Rosa langsung menepis genggaman tangan Dodit. Melihat hal itu Jamilah kembali murka, "Hey, anak muda! Cepetan jalannya, saya males lihat kalian pacaran gak lihat tempat!" Bentak Jamilah sambil melipat kedua tangannya.


Jalanan yang lengang karena masih belum masuk waktu rush hour akhirnya membuat mereka lebih cepat tiba di rumah sakit dengan menempuh perjalanan dua puluh menit.


"Di, loe mau kemana?" Dodit memanggil Jodi yang berjalan berlawanan arah dengan kedatangan mereka.


"Rara gimana kondisinya?" Rosa mencemaskan keadaan sahabatnya itu.


"Iya ini kita mau sholat dulu ke musholla. Tadi perawat nya bilang kalo dalam waktu setengah jam Rara belum nambah pembukaannya terpaksa operasi." Samudra yang mewakili Jodi menjawab pertanyaan sahabatnya karena sejak tadi Jodi hanya terdiam dan tampak jiwa dan raganya tidak menyatu dengan baik.


"Ya Allah... hiks hiks..." Isak Rosa.


"Kamu temenin Enyak Halimah sama Babeh Beni aja sana. Dit, ayok ikutan sholat." Ajak Samudra. Dalam hatinya ada rasa tidak rela melihat kedekatan Rosa dan Dodit.


"Iya..." Rosa langsung menjawab.


"Ck, anak songong! Emang tahu kamu dimana ruangannya si Rara lahiran?" Decak Jamilah.


"Tahu lah Tan, Mama nya kan bidan disini." Jawab Dodit.


"Dit, sini." Samudra kembali mengajak Dodit.


"Bego! Itu nyokap gue. Sono loe aja yang temenin Jodi biar gue yang hadapi nyokap gue." Dodit menarik paksa tangan Dodit agar berpindah posisi.


"Bun, gimana kondisinya Rara? Hiks hiks..." Isak Rosa sambil memeluk Mira, Bunda nya yang kebetulan membantu proses kelahiran Rara di rumah sakit ini.


"Bantu doa ya sayang. Hapus air mata kamu ah." Mira menghapus air mata Rosa lalu berpamitan hendak melanjutkan kembali tugasnya.


Pemandangan itu tak luput dari tatapan terkejut Jamilah. Untunglah ia tidak dalam posisi sedang membentak Rosa saat ini.


"Enyak..." Kini Rosa memeluk Halimah.


"Rosa... hiks hiks hiks..." Halimah kembali menangis mendapatkan pelukan dari Rosa


"Mah, loe pasti gak nyuruh anak loe rajin ngepel duduk ye mau lahiran gini sebelumnya? Gue kata juga loe kudu tiap hari tuh anak minum telur ayam kampung sama madu biar gampang lahirannya." Cerocos Jamilah tak mengenal tempat dan situasi.


"Nyak. Rumah sakit gak boleh berisik." Tegur Samudra.


"Sam, loe bawa pulang nih emak loe. Milah, loe cari katering laen gih sono karena sekarang gue ame bini gue gak kepikiran ngurusin katering." Sewot Sabeni.


"Lah, katering mah karyawan loe yang ngerjain Beni... Loe jangan bikin gue malu dong..." Jamilah ingin berdebat dengan Sabeni.


"Maaf ya Ibu, disini rumah sakit tidak boleh berisik. Mari saya antar keluar." Sekuriti rumah sakit yang kebetulan sedang melewati mereka menegur ulah Jamilah.

__ADS_1


"Iye kagak berisik." Jamilah langsung melipat mulutnya tak ingin di usir.


Rosa yang menyaksikan bagaimana Jamilah begitu frontal dalam berbicara dan bertindak yang cenderung menyakiti perasaan siapapun membuatnya bertekad untuk tidak akan sudi menjadi menantunya kelak. Biarlah perasaan cintanya untuk Samudra akan ia kubur dalam-dalam.


"Keluarga Ibu Rara..." Seru salah seorang perawat.


"Iye kite keluarga nye." Sahut Sabeni antusias.


"Maaf bapak ini saya mau menyampaikan kalau saat ini Ibu Rara sudah hampir sempurna pembukaannya jadi tidak memerlukan tindakan operasi. Maaf suaminya apakah mau mendampingi?" Sosok berseragam putih itu memberikan informasi.


Rosa bergerak cepat dengan menelepon Jodi. "Di, cepetan kemari bini loe mau ditemenin loe lahiran sekarang." Ucap Rosa tanpa basa-basi begitu nada panggilan nya terdengar di angkat.


Lima menit kemudian terlihat Jodi dengan nafasnya yang tak beraturan menghampiri ruangan yang akan digunakan untuk melahirkan.


"Aduh bapak ini nyaris aja kita mau tutup pintunya. Ayo sini dampingi istrinya melahirkan." Sambut Mira seraya meledek Jodi dengan ekspresi lucu.


"Bun, Rara gimana?" Ucap Jodi dengan nafasnya yang tersengal.


"Tenang dong calon bapak. Tarik nafas lalu hembuskan. Inget, Rara yang mau lahiran bukan kamu." Goda Mira.


Jodi pun segera mendekati Rara lalu menggenggam tangannya. Ia mengelap keringat di dahi Rara dengan sapu tangan miliknya.


"Sakit Yang!" Rengek Rara manja.


Jodi mendekatkan wajahnya tepat di daun telinga Rara. Ia berbisik lembut pada sang istri.


"Iya aku tau itu sakit. Bawa zikir dalam hati, jangan jejeritan malu sama Bunda Mira, kemarin kan kita buat nya diam-diam, kalau lagi sakit bayangin aja kita lagi nyetak si dede." Jodi menunjukkan wajah usil nya.


Blush. Wajah Rara mendadak memerah mendengar ucapan Jodi. "Yang, keadaan genting gini masih aja ngeledekin Ade." Ucap Rara.


Jodi tersenyum sembari mengecup kening istrinya. Tim dokter yang membantu proses persalinan Rara tersenyum melihat kemesraan sepasang suami istri itu.


Rara mulai gelisah keringat nya semakin bercucuran membasahi kening. Jodi terus melafalkan doa terbaik untuk sang istri dan si buah hati.


Tak lama setelah Rara mengikuti semua instruksi sang dokter akhirnya Rara mengejan panjang dengan mencengkeram kedua lengan sang suami.


Setelah terdengar tangisan bayi mungil yang masih berlumuran darah, di gendongan dokter, semua berucap syukur. "Alhamdulillah ya Allah." Ucap Jodi bahagia.


Rara tersenyum menatap sang suami, sementara yang di senyumi menangis, mengecup sayang kening sang istri. "Terimakasih sayang, kamu telah menjadikan aku seorang ayah dan laki-laki sempurna. Aku enggak bakalan pernah lupa dengan perjuangan mu, melahirkan buah cinta kita." Bisik Jodi terisak.


Rara meremas tangan Jodi dengan sayang, "Terimakasih, sayang. Aku mau panggilan nama anak kita, Dira." Ucap Rara tersenyum bahagia sembari menghapus air yang merembes di sudut mata pria tersayangnya.


"Iye, itu nama nyang cakep hasil perpaduan kite. Hehehe." Gurau Jodi setelah melewati drama melahirkan yang membuatnya takjub.


Jodi bangkit dari posisinya berdiri, ia pergi untuk mengambil wudhu guna mengazankan si buah hati. Seperti yang Rasulullah lakukan.


#Flashback end#

__ADS_1


__ADS_2