Kawin Gantung

Kawin Gantung
Godaan alpukat


__ADS_3

Sang surya mulai memancarkan semburat jingga pertanda fajar datang. Tetes embun membasahi dedaunan hijau menyegarkan indra. Kumandang adzan subuh pun telah bertalu-talu dan terdengar beberapa menit lalu.


Jodi yang mulai terbangun merasa dirinya masih di buai alam mimpi lantaran di hadapannya terpampang nyata sepasang alpukat sekal masih terbungkus rapih di tempat nya.


Rejeki nomplok nih. Jodi menghirup aroma yang sepertinya akan menjadi candu baginya.


Ini masih mimpi kan? Buka aja lah bungkusan alpukatnya biar nyobain rasanya.


Perlahan tapi pasti ia mengambil kesempatan untuk membuka kain berenda pembungkus alpukat. Gairahnya mengegelegak tak terkira lantaran tak kuat godaan untuk membelai dan meremas lembut alpukat itu, terlebih bagian imut berwarna coklat yang menyembul. Tanpa sadar alpukat sebelah kiri menjadi mainannya untuk di belai dan sebelah kanan ia sesap pelan.


Terdengar suara lenguhan yang semakin membangkitkan adiknya nun jauh di bawah sana. Matanya melirik nakal ketika melihat sang pemilik alpukat terperangah.


1 detik


2 detik


3 detik


4 detik


5 detik


Sepasang suami istri belia itu saling pandang dengan tatapan kebingungan. Rara yang mulai menyadari bahwa ini kesalahannya karena memberi peluang walaupun dengan alasan panik dan demi kesehatan, ia langsung melonjak bangun dan berteriak.


“Heh, loe ngapain?!” Sentak Rara dengan mata dan wajah memerah.


“Kok dalam mimpi kek nyata sih?” Gumam Jodi. Otak kotornya menolak bahwa pertanyaan itu ditujukan di alam nyata.


“Sana ih!” Rata mendorong kasar Jodi agar menjauh darinya.


Nalurinya mengatakan bahwa ia belum sanggup kalau apa yang dilakukan oleh suaminya akan berlanjut lebih jauh dalam kondisi mereka sama-sama masih memakai seragam putih abu-abu.


“Loe dalam mimpi aje masih galak gini...” Jodi malah memeluk erat tubuh itu.


Mata nya terpejam menikmati kehangatan dan kekenyalan alpukat kesukaannya. Surga ini tak akan ku lepas...


“Lepas ih! Jangan ampe gue tereak nih!” Ancam Rara dengan sorot mata tajam.


Jodi mulai merasa tidak nyaman dengan kemarahan Rara yang ia rasa berlebihan dalam mimpinya. Tapi ia tidak perduli yang terpenting momen indah ini tak akan ia lepaskan begitu saja.


“Tereak dalam mimpi mah gak bakal kedengaran.” Jodi masih mensugesti dirinya bermimpi.


“Tolooonggg...” Teriak Rara sekencang-kencangnya tak perduli akan tetangga kiri kanan depan belakang nya yang terusik.


“Duh, ngapa tereakan loe kek beneran sih?” Jodi mulai terganggu lantaran telinganya sakit mendengar teriakkan Rara.


Rasa membenturkan kepalanya dengan kepala Jodi agar dirinya terbebas. Siasatnya berhasil walaupun ia sendiri merasa kesakitan di dahinya. Tak apalah yang penting bisa lepas dari buaya empang.

__ADS_1


“Astaga... gue beneran ini?” Jodi baru mulai tersadar dirinya tidak sedang bermimpi.


“Ra, loe ngapain bug...” Jodi keheranan melihat penampilan polos Rasa.


“Rese! Gara-gara loe nih semalem demam jadi gue skin to skin sma loe!” Rasa meninju lengan Kodi kasar sementara tangan kanannya menyumpal mulut Jodi agar tidak berteriak yang akan menenggelamkan harga dirinya..


“Hahaha... tiap hari aja gini, Ra... anget, kenyel...” Jodi kegirangan begitu dirinya yakin kini berada di alam nyata.


“Dasar otak victoria!” Maki Rasa sambil berjalan menjauh ke arah nakas tempat ia menyampirkan dasternya semalam.


“Ra, kentang nih... belah duren, nyok?!” Jodi menarik Rasa ke arah kasur.


Gairah mudanya yang belum pernah melihat wujud polos sang istri sungguh menggetarkan sesuatu dalam diri Jodi. Matanya mulai berkabut dan menatap sendu mendamba.


“Apaan sih loe! Gue mau siap-siap nih ntar unprak agama.” Rasa menepis tangan Jodi.


Ketika melihat suaminya terdiam, Rara menggigit lengan Jodi.


“Aaarrgghh.... Astaghfirullah aladzim gue punya bini vampire apa nih kok doyan gigit..." Jodi mengusap lengannya yang sedikit terluka akibat gigitan Rara.


Rara tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk berlari ke kamar mandi agar terbebas dari belenggu penjajahan, eh belenggu kemesuman suaminya yang ketagihan sarapan alpukat.


BRAAAAKKKK


Bunyi suara pintu yang dibanting dengan keras oleh Rara. Melihat kepanikan istrinya malah membuat Jodi tergelak tawa.


"Yang, awas sabun ku habis ya kamu mainin ye..." Ledek Jodi sengaja menggoda Rara.


Rara memandangi sekeliling area kamar mandi yang masih terasa asing baginya. Ruangan ini lebih besar daripada kamar mandi di rumahnya. Peralatan mandi yang lengkap untuk ukuran seorang lelaki cukup membuatnya heran karena selama ini Jodi terlihat cuek.


Deg


Rara teringat sesuatu hal yang membuatnya ragu untuk memulai kegiatan nya untuk membersihkan diri.


Krieeeetttt...


Tiba-tiba Rara membuka pintu kamar mandi lalu kepalanya menengok ke segala penjuru kamar untuk mencari keberadaan Jodi. Ia menjadi ragu mengenai sesuatu yang mungkin bisa di pahami oleh suaminya saat ini.


"Di..." Rara menahan malau untuk bertanya.


"Duh, istriku mau di temenin... sini sayang aku masuk ya?" Jodi melangkah mendekati arah kamar mandi mengikuti nalurinya.


"Di, loe jalan selangkah lagi gue bakal tereak sekencang-kencangnya biar semua tetangga dateng kemari." Rara mengancam.


"Hahaha... biarin aje." Jodi terbahak-bahak karena yakin Rara tidak mungkin akan mempermalukan dirinya sendiri.


"Iiiihhh... gue serius ngamuk ye kalo loe berani gabrug gue!" Ketus Rara.

__ADS_1


"Siape nyang bikin kek gini duluan? suamimu ini hanya mengikuti keinginan mu, sayang." Jodi semakin tertantang untuk menggoda Rara.


"Elaaaahhh.... seriusan dikit nape. Gue bingung nih kite kudu mandi junub apa kagak?" Rara begitu polosnya bertanya.


"Hah? baru juga kite maen perosotan bentaran belum ampe naik enjot-enjotan..." Jodi yang sedang mencari letak kaos nya di kasur merespon pertanyaan konyol dari istrinya.


"Ooh, jadi kagak usah ye?" Rara mengambil kesimpulan sebelum Jodi melanjutkan ucapan absurd nya barusan.


"Ra, kayaknya emang loe sebenarnya kepengen dah, sini abang temenin biar ade bisa ngerasain main ..." Jodi semangat 45 menggoda Rara yang sudah bak kepiting rebus.


BRAAAAKKKK


Untuk kedua kalinya pintu kembali di tutup kasar oleh Rara yang ketakutan akan kebenaran ucapan Jodi yang masih terkekeh geli di kasur.


"Aduh, gue sakit perut nih." Jodi tertawa sambil memegangi perutnya.


Rara di dalam kamar mandi langsung membasuh tubuhnya. Kegiatan mandi memang telah lama menjadi keasyikan tersendiri bagi Rara. Ia tidak tertarik untuk bernyanyi berbagai lagu favoritnya seperti biasa karena tahu di luar ada harimau lamar hendak memakan alpukat.


"Ra, ini gue ada kaos baru buat elo ni, pake ye biar gue enggak kangen Enyak lantaran loe pake dasternya Enyak." Jodi mengeluarkan kaos lengan panjang yang pernah ia beli untuk istrinya.


Tok


Tok


Tok


Rara sengaja mengabaikan bunyi ketukan pintu lantaran ia tidak ingin terjerat aura bang Jago pagi ini. Ia tidak mau ambil pusing kalau harus memakai seragam ibu rumah tangga, daster.


"Tuh, nakal deh udah di bilang jangan pake daster." Jodi merengut melihat penampilan Rara sehabis mandi.


"Bodo amat..." Rara cuek.


"Mau ganti sendiri apa digantiin?" Tawar Jodi.


"Dih, gue yang pake loe nyang sewot!" Rara tak kalah nyolot melotot.


"Oke, kalau gitu mumpung gue masih seneng jadi gue pakein aje." Jodi memutuskan sepihak.


Belum sempat Jodi menarik Rara mendekat, kaos yang ia pegang sudah berpindah tangan.


Kurang dari 5 menit Rara berganti kostum ia keluar dari kamar mandi. Matanya melirik ke arah kaca besar yang ada di sudut kamar. Lumayan kaosnya cakep juga. Batin Rara.


"Oke, biar adil gue mandi juga ye..." Jodi melangkah masuk ke kamar mandi.


Sambil menunggu Jodi mandi, Rara bermain handphone sambil tiduran di kasur. Sebenarnya ia merasa tenaganya terkuras lantaran begadang hampir semalaman menjaga suaminya.


Tak berselang lama Jodi keluar dari kamar mandi. Ia menatap bahagia wajah Rara yang hampir terpejam lalu ia hampiri perlahan dan ternyata Rara belum tertidur.

__ADS_1


Monmaap othor kemarin gagal up karena eh karena ternyata part ini belum sempat di publish jadi masih nyangkut di draft seharian kemarin. Hehehe...



__ADS_2