
Monmaap jadi PHP gini mau akhiri ceritanya karena RL tidak dapat diprediksi belum lagi mood yang naik turun jadi ini bukan part terakhir
*****
Siska tertegun mendengar penuturan Andri mengenai alasan Rosa selalu menolak Samudra. Tenggorokannya mendadak tercekat lantaran merasa sebagai sahabat yang buruk karena tidak mengetahui kesedihan sahabatnya.
"Lho, kok malah bengong?" Andri keheranan.
"Mm, nyesel gue selalu mojokin Rosa yang selalu nolak Sam." Siska tertunduk.
"Apa yang aku ceritakan ke kamu itu kejadian tiga tahun lalu." Andri mengingatkan Siska.
"Iya tapi kan... Ah, enggak nyangka gue emaknya Sam julid banget." Dengus Siska.
"Heh, kualat kamu itu seumuran Mama kamu. Aku bilang tadi kan kejadiannya tiga tahun lalu kalau sekarang mah udah beda jauh. Emak Jamilah nyesel dan berubah drastis jadi baik." Andri menjelaskan.
"Mana ada orang berubah secepat itu." Solot Siska sambil melipat kedua tangannya.
"Aku enggak suka kalau lihat kamu kayak gini." Protes Andri. Tangannya berusaha menurunkan tangan Siska agar bisa ia genggam.
"Ini apaan sih pegang-pegang? Loe kira kita mau nyebrang jalan apa kudu pegangan tangan segala?" Siska menepis tangan Andri.
"Duh, jadi gemes deh kalo jutek gini." Andri mencubit mesra hidung Siska.
"Ekhem," Dodit berdehem. Ia di temani Vania menarik tangan Andri dan Siska ke tempat yang agak sepi dan tidak menjadi pusat perhatian.
"Apakah loe, Van, Dit.," Protes Siska tak terima perlakuan Vania dan Dodit.
"Ssst, kalem baby, kita mau lihat drama korea live inih." Dodit tak mempedulikan sikap judes Siska yang sudah menjadi kesehariannya.
"Gue curiga nih..." Siska ingin meninggalkan mereka bertiga.
__ADS_1
"Eits, come on baby, jangan hancurkan rencana cantik kita." Dodit menggoda Siska.
"Iya loe kata gue..." Umpat Siska
"Dit, apaan loe baby baby!" Ketus Andri.
"Ampun bucin pacin gue khilaf kalo nyerang Siska entar pawang nya marah. Hihihi." Usil Dodit.
Siska langsung menendang tulang kering Dodit kencang. Ia tidak menghiraukan jeritan Dodit dan hendak berlari menemui Rosa yang terlihat hendak memasuki pintu cafe.
"Jangan." Andri menarik lengan Siska.
Siska berkata tanpa suara, 'apa maksudnya?'
Andri tidak menjawab tapi langsung mengarahkan bahu Siska ke arah Samudra yang juga datang bersama Jamilah.
Siska langsung menggulung lengan kemejanya hendak melangkah menemui Jamilah hendak meluapkan emosinya setelah mendengar penuturan Andri sebelumnya.
Dodit menggigit tangannya karena menahan tawa mendengar ucapan Andri. "Cium mah gak usah di ancam langsung sosor aja bos." Bisik Dodit ke telinga Andri.
Vania yang menyaksikan kejadian itu terpaku tak percaya kalau sosok Andri akan berkata frontal seperti itu. Parahnya lagi ada sosok Dodit si cowok super usil.
"Sis, matiin hape loe." Perintah Dodit ketika melihat Rosa.
Sementara itu
"Siska kemana sih?" Rosa gelisah dan hendak menelepon sahabatnya itu.
"Rosa!" Pekik Jamilah sambil memeluk Rosa erat dengan ekspresi bahagia.
Rosa tersenyum mendapat pelukan mendadak dari Jamilah. Ia lalu menjaga jarak setelahnya karena tak ingin kembali di sakiti oleh sindiran pedas ala Jamilah.
__ADS_1
Kejadian tiga tahun lalu boleh di bilang interaksi terakhir mereka karena setelahnya Rosa benar-benar menjauh dari Samudra yang tak kenal lelah menyatakan cinta kepadanya.
"Selamat ya Tante sebentar lagi punya mantu." Sapa Rosa basa-basi.
"Mantu? Aah, Sam, kami gak bilang kalo Rosa udah terima kamu kok?" Jamilah mengguncangkan lengan Samudra kegirangan.
"Kalau tahu kalian udah saling yakin gini Mama kan tinggal siapin lamaran aja." Cerocos Jamilah.
"Sam, jangan bilang kalo nyokap loe gagal paham." Dengus Rosa sambil menyipitkan matanya ke arah Samudra.
"Gagal paham? Apa ini maksudnya?" Ekspresi wajah Jamilah berubah kebingungan.
"Ekhem, calon istrinya Sam itu bukan saya." Rosa bergetar menahan pilu saat mengatakannya.
"Sam!" Bentak Jamilah.
"Sa, kamu kok bilang gitu?" Samudra tak menyangka akan ucapan Rosa.
"Permisi ya saya mau cari teman saya, Siska." Rosa ingin berlalu dari hadapan Samudra dan Jamilah.
"Sa, aku capek dengan sikap kamu kalau begini terus." Samudra merajuk.
"Bodo amat." Sinis Rosa.
"Woy, woy, woy ngapa ini jadi pada berantem?" Dodit gemas sendiri dengan drama yang tak sesuai harapannya.
"Sis, loe ngapain sama mereka? Loe deket sama tuh bocah?" Rosa tak menyukai kedekatan Siska dengan Vania.
"Vania adik sepupu ku jadi otomatis akan jadi adiknya Siska." Sahut Andri enteng.
Siska langsung terperangkap mendengar nya."Sa, ayo pergi! Pusing gue sama boncabe." Siska menggamit lengan Rosa hendak mengajak keluar dari tempat ini.
__ADS_1
"Sis, kenapa bukan tangan Andri yang loe tarik? Sam, ini kesempatan terakhir ya buat loe pepet calon masa depan gue." Dodit sang sutradara gagal tayang mengatur jalannya drama yang ia inginkan.