Kawin Gantung

Kawin Gantung
Cemburu di Pagi Hari


__ADS_3

Betapa bahagianya hatiku


Saat kududuk berdua denganmu


Berjalan bersamamu


Menarilah denganku


Namun bila hari ini


Adalah yang terakhir


Namun ku tetap bahagia


Selalu kusyukuri


Begitulah adanya


Namun bila kau ingin sendiri


Cepat, cepatlah sampaikan kepadaku


Agar ku tak berharap


Dan buat kau bersedih


Bila nanti saatnya telah tiba


Kuingin kau menjadi istriku


Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan


Berlarian ke sana kemari dan tertawa


Namun bila saat berpisah telah tiba


Izinkan ku menjaga dirimu


Berdua menikmati pelukan di ujung waktu


Sudilah kau temani diriku


Namun bila kau ingin sendiri


Cepat, cepatlah sampaikan kepadaku


Agar ku tak berharap


Dan buat kau bersedih


Bila nanti saatnya telah tiba


Kuingin kau menjadi istriku


Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan


Berlarian ke sana kemari dan tertawa


Namun bila saat berpisah telah tiba

__ADS_1


Izinkan ku menjaga dirimu


Berdua menikmati pelukan di ujung waktu


Sudilah kau temani diriku


Sudilah kau menjadi temanku


Sudilah kau menjadi istriku


Drrrttt


Drrrttt


Ponsel milik Jodi bergetar bersamaan dengan berakhirnya alunan lagu Akad milik Payung Teduh yang kini menjadi lagu wajib Jodi setiap pagi sebelum memulai beraktivitas.


"Bang, ada telepon tuh." Rara yang sedang meletakkan pakaian untuk dikenakan suaminya melirik ke arah nakas di sampingnya.


"Angkat aje, Yang, aku mau pake baju dulu." Jodi menghampiri Rara bermaksud ingin mengambil pakaian yang telah dipilihkan oleh istrinya.


"Hm, nomer baru, minta vc juga lagi. Awas aje kalau kagak penting." Ancam Rara setelah mengambil ponsel itu.


"Hehehe... Iye angkat aje kalau gak penting langsung matiin." Jodi menyadari raut wajah tak sedap Rara mulai terlihat curiga.


"Assalamualaikum... Siapa ini?" Rara menggeser tombol warna hijau lalu mengucapkan salam dan tanpa basa-basi langsung menanyakan sosok yang pagi ini mulai mengganggu moodnya.


"Wa walaikum salam... Eh, ini siapa ya? Adiknya Jodi ya?" Sapa seorang wanita berambut panjang dan berwarna hitam legam di seberang. Kok agak horor ya bikin inget mba kunti. Batin Rara.


Rara membolakan matanya jengah menatap layar di depannya kini. Ia merasakan perempuan ini tak punya sopan santun karena sepagi ini sudah menelepon suaminya. Sangat menggangu.


Sementara sosok yang mulai memiliki ponsel itu masih sibuk mengenakan setelan kemeja putih dan celana hitamnya karena ia masih mengikuti kegiatan ospek di kampusnya.


Enaknya nih cewek di apain ye? Ulek pake sambel kacang sama cabe sekilo, pikir Rara. Mungkin kalau Rara menjadi tokoh kartun saat ini dari kepalanya sudah mengeluarkan asap saking ia terbakar api cemburu.


"Ekhem, saya istrinya. Ini siapa ya?" Rara menjawab setelah sejenak menghembuskan nafasnya lalu menetralkan nada suaranya agar terdengar santai.


"Is istri? Dek, masih pagi nih jangan bercanda dong." Sosok tak tahu malu itu seolah semakin menggosok bara api di hati Rara.


"Lah, situ tahu ini masih pagi tapi kok getol bener telepon laki orang." Maki Rara tak dapat menutupi lagi rasa kesalnya.


"Siapa Yang?" Tanya Jodi sambil menghampiri Rara lalu menarik pinggang ramping Rara setelah selesai mengenakan pakaiannya super cepat karena ia mendengar suara itu menjadi penyebab istrinya emosi.


Siaga satu, jangan ampe gue gak dapet jatah entar malem. Harap Jodi dengan pemikiran mesumnya yang tak pernah hilang semenjak menikah dengan Rara.


"Cewek gak jelas, aku bilang istri kamu tapi dia gak percaya." Adu Rara sambil mengerucutkan bibirnya kesal.


"Duh, jadi gemes deh mau kiss." Rayu Jodi.


"Nih, jawab sendiri aje." Rara menyodorkan ponsel Jodi sambil mengalungkan tangannya ke leher Jodi.


Jodi mengulum senyumannya melihat kecemburuan Rara yang membuatnya semakin gemas ingin menggrayah istrinya.


"Assalamualaikum... Maaf saya baru selesai rapih-rapih. Ini siapa ya?" Jodi masih sulit mengenali sosok yang meneleponnya.


"Bang, beneran gak kenal ini cewek? Kalau tahu gitu mah aye matiin aje dari tadi. Ganggu." Ketus Rara sambil tetap merayap di tubuh suaminya. Potret istri takut suami di gondol pelakor.


"Di, masa kamu lupa sih sama aku... ini aku, Yuanita yang kemarin ngasih kamu tugas kumpulin data ospek." Sosok yang mengaku bernama Yuanita itu mencoba mengakrabkan diri dengan Jodi seolah tak memperdulikan pandangan matanya terhadap kemesraan pasutri itu.


Jodi mengernyitkan dahinya sejenak, "Oh, Kak Yuanita." Jodi berhasil mengenali sosok Yuanita. Ia mulai memahami mungkin Yuanita mendapatkan nomer nya dari data yang ia kumpulkan kemarin.

__ADS_1


Sosok ini tak terlihat judes seperti kemarin di kampus saat menjadi senior ospek. Jodi malah melihat Yuanita sebagai sosok... penggoda. Astaghfirullah aladzim... Jodi menyadarkan dirinya.


"Iya aku ini tapi jangan pake Kak dong cukup Nita aja panggil aku nya." Yuanita mulai bersuara manja.


"Kak, maaf nih aku sama istri aku masih belum selesai urusan kite pagi ini jadi udahan ye telepon nya." Jodi ingin mengakhiri pembicaraannya.


"Eh, kok mau di tutup sih? Kamu kemarin ke kampus naik motor kan? Jemput aku dong, please..." Yuanita merengek.


Rara menjatuhkan rahangnya mendengar suara yang terdengar menjijikkan baginya. Astaga apakah Yuanita ini ingin menjadi pelakor? Loe jual gue beli. Tantang Rara melalui sorot matanya.


Cup


Jodi sengaja mengecup kening Rara ingin menghilangkan segala prasangka dari benak Rara yang sangat kentara dari sorot matanya. Ia semakin tidak nyaman dengan tingkah Yuanita tapi saat ini ia tidak mungkin bertindak tidak sopan kepada senior nya mengingat dirinya baru sehari mengikuti ospek di kampusnya.


"Kak, ini cincin nikah aku sama istriku." Jodi memamerkan jemarinya dan Rara kepada Yuanita agar tersadar dan berhenti menggodanya.


"Loh, itu itu beneran? Kami nikah muda? Kok bisa?" Yuanita tercekat tak percaya.


"Iye baru dua bulan, masih pengantin baru." Jodi menatap Rara mesra.


"Ah, kamu kan baru kemarin lulus SMA pasti ada yang gak beres. Cewek kamu hamil ya jadi terpaksa dikawinin?" Cecar Yuanita yang mulai tak mengeluarkan suara manja nya seperti tadi.


"Jangan ngomong sembarangan, Kak. Istriku belum hamil. Kite nikah emang karena cinte. Kite dari kecil udah kawin gantung." Jodi menjelaskan sambil tetap tenang.


"Oh, kawin gantung. Berarti kamu kawin terpaksa dong?" Yuanita semakin menunjukkan dirinya minim akhlaq.


"Enggak, saya bukan tipe orang yang bisa dipaksa apalagi soal perasaan. Kak, udah ya saya mau minta jatah dulu nih sama istri sebelum berangkat kuliah." Jodi tak menunggu balasan dari Yuanita dan langsung menutup pembicaraannya dengan menekan tombol merah.


"Asem tuh cewek agresif bener." Sembur Rara sambil melepaskan pelukannya. Ia meremas ujung kemeja putih Jodi.


"Hehehe... Mangkanya kawal dong Abang di kampus... Mau ye kamu ikutan kuliah?" Rajuk Jodi yang masih menginginkan istrinya melanjutkan pendidikannya.


"Tapi..." Rara masih merasa berat.


"Bertahap, sayang... Kite nikah bukan sehari dua hari tapi selamanya jadi belajar masak dan lain sebagainya itu pelan-pelan aja sayang biar enak." Jodi membelai lembut rambut Rara sambil mengecup pucuk kepala Rara.


"Udah telat kali bang..." Rara mulai menyerah.


"Kagak. Abang aje baru mulai sehari ospek. Nyok sekarang kite siapin berkas pendaftaran kamu, Yang." Jodi langsung bertindak sebelum istrinya berubah pikiran lagi.


Untunglah mereka saat ini berada di rumah kedua orangtua Rara sehingga semua berkas persyaratan pendaftaran kuliah bisa langsung disiapkan segera saat itu juga. Ternyata ada hikmahnya juga Rara di bakar cemburu jadi niat kuliah lagi. Jodi tersenyum menahan tawanya.


Mereka pun mengutarakan keinginannya kepada Sabeni dan Halimah yang tentu saja di sambut dengan baik, terutama Sabeni yang memang tak ingin putrinya putus pendidikan nya.


"Bang, aye terharu nih kok Abang ame babeh niat bener pengen aye lanjut kuliah padahal aye pikir namanye abis nikah entu biasanye cewek cuman tahu sumur, dapur, kasur saban hari." Rara terisak-isak tak kuasa menahan rasa bahagianya mendapatkan dukungan luar biasa dari keluarganya.


"Udeh, loe kagak usah mewek. Ini ATM babeh loe kuras aje kagak ape-ape bakal biaya kuliah loe. Jelek loe muke merah bengep gitu, entar laki loe malu terus nyari cewek laen di kampus nye." Sabeni menghibur setengah mengompori anaknya.


"Beh, aye bakal ganti nanti biaya buat kuliah Rara." Ucap Jodi.


"Enak aje loe! Rara entu anak gue satu-satunye. Gue nyari duit emang loe kate bakal siape kalau bukan bakal bini ame anak gue." Sabeni kesal merasa tanggung jawabnya membiayai Rara terlepas begitu saja.


"Maaf Beh, aye cuman kagak enak udah nikah tapi..." Jodi merasa sungkan dan menundukkan kepalanya merasa malu.


"Kagak enak loe kasih eje kucing. Udeh loe jangan kebanyakan cing cing deh sana merad urusin kuliah bini loe biar die lulus lagi barengan ame loe." Perintah Sabeni sang jenderal rumah ini.


"Iye, Di. Tolong ye loe urusin bener-bener pendaftaran kuliah bini loe. Inget, anak mau setua ape juga bakal tetep jadi pikiran orangtua apalagi cuman atu." Halimah menyodorkan tangannya untuk disalami oleh anak dan menantunya.


Setelah berpamitan Jodi dan Rara pun melaju ke kampus yang sama dan akan merajut kisah baru di kampus.

__ADS_1


END


__ADS_2