Kawin Gantung

Kawin Gantung
Nano nano


__ADS_3

"Assalamualaikum, Mah..." Jamilah memanggil Halimah.


"Walaikum salam. Eh, elo, Mila. Loe ame siape kemari?" Halimah menyambut kedatangan Jamilah yang sudah sejak beberapa tahun terakhir ini menjadi langganan katering saung hijau untuk memesan berbagai macam hidangan dalam setiap acara arisan keluarga nya.


"Gue ame si Sam. Sam, hayuk sini loe Salim dulu ame cing Imah." Jamilah mencari keberadaan anaknya, Samudra.


Samudra yang melihat Jamilah celingukan mencari dirinya langsung mendekati nya. Ia menghembuskan nafasnya kasar.


"Sam, kemana aja kamu? Mama kira kamu disamping Mama eh malah ngilang gak jelas rimba nya." Sembur Jamilah tak ingin kehilangan jejak anaknya.


"Ma, Sam udah besar. Sam juga nyapa Rosa sama Dodit di depan." Samudra berkilah.


"Halaaahhh... Jangan ganggu orang lagi pacaran nanti kamu kepengen." Sindir Jamilah.


"Mereka gak pacaran, Ma." Rahang Sam mengeras mendengar ucapan Jamilah mengenai hubungan Rosa dan Dodit yang terlihat berpacaran.


"Sok tahu kamu. Rosa itu kan emang gampang nempel sama cowok mana aja jadi..." Cerocos Jamilah tanpa memperhatikan perubahan ekspresi wajah Samudra yang semakin kesal.


"Mama. Rosa dulu emang pernah pacaran sama Dodit tapi cuma dua jam." Jelas Samudra berharap Jamilah tidak mengatakan hal buruk mengenai Rosa.

__ADS_1


"Hahaha.... pacaran apaan tuh dua jam. Kamu pokoknya harus jauh-jauh dari Rosa, dia cewek gak bener tuh seenaknya gonta-ganti pacar kayak ganti baju aja." Jamilah semakin sinis mengomentari tentang Rosa.


"Yasalam, Mila... Gue tungguin elo ngapa malah diem di mari?" Halimah menegur Jamilah yang terlihat berdebat dengan anaknya, Sam.


"Iya maaf deh ya anak gue nih bikes kalo kata anak jaman sekarang." Jamilah melirik sekilas ke arah Samudra.


"Wah, apaan tuh bikes?" Halimah penasaran arti kata bikes.


"Haduh, gue lupa kalo loe gak update diri. Bikes itu singkatan dari bikin kesel jadi bikes anak-anak pada nyebutnya." Jamilah memberikan penjelasan arti kata bikes.


"Ooh, kalo gitu cocok tuh ame elo, bikes banget loe hari ini. Acara besok pagi siang gini baru order katering." Celetuk Halimah.


"Ah, itu mah gue yakin loe sambil merem juga cepet langsung jadi." Kelit Jamilah tak mau disalahkan.


"Jadi loe nolak rejeki nih?" Pancing Jamilah.


"Ya kagak lah... Untung nye entu menu kebetulan bahan-bahan nye masih banyak jadi aturan bakal stok tiga atau empat hari jadi abis bakal pesenan elo." Halimah nyengir.


"Enyaaaaakkk... babeeeehhh.... hadooohhh tolongin ini Rara basah basah kek ngompol sama ada darah nye." Jodi tampak tergopoh-gopoh mengendong Rara yang tampak lemah.

__ADS_1


"Masya Allah... Rara, loe mau lahiran sekarang!" Pekik Halimah tak kalah terkejutnya.


"Mah, ngapa dah pada tereakan bae?" Sabeni yang sedang menyesap kopi hitam di ruang tengah pun ikut bersuara.


"Beh, pinjem kunci mobil dong ini aye mau anter Rara ke rumah sakit." Jodi meminta kunci mobil sambil melanjutkan langkahnya ke luar rumah.


"Di, Rara kenapa?" Sam kini yang terkejut dan tanpa di minta ia langsung menawarkan diri untuk mengantar dua pasangan calon orangtua itu ke rumah sakit.


"Tunggu! Enyak ikut!" Teriak Jamilah sambil menarik hijab instan lalu memakai nya.


"Eh, gue juga ikutan!" Sabeni pun bergerak cepat mengikuti jejak istri dan anak mantu nya.


Sam mengemudikan mobilnya dengan kekuatan sedang dan tidak terpengaruh oleh permintaan Jodi yang panik agar mempercepat laju kemudi nya.


"Waduh, Enyak lupa bawa berkas persiapan lahiran si Rara." Halimah menepuk dahinya.


"Rosa. Enyak coba telepon Rosa tadi die nyang di minta Rara bakal beliin pembalut nifas jadi sekalian aje die bawain semuanye." Saran Jodi lima menit kemudian.


"Ra, loe tenang ye..." Sabeni mengkhawatirkan kondisi Rara.

__ADS_1


"Iye Beh." Sahut Rara sambil menahan rasa sakit nya.


Halimah mengusap-usap bahu dan punggung Rara sementara Jodi mengelap keringat di dahi Rara.


__ADS_2