
Tak seperti biasanya hari ini Riko menolak di jemput oleh Pak Kimin, Supir pribadi keluarga nya. Ketika Pak Kimin menjemputnya Riko mengatakan kalau ia akan pulang bersama temannya.
Pria paruh baya itu mengendarai Mobil Alphard hitam itu tanpa membawa pulang anak majikannya. Ada terbersit rasa takut kalau majikannya akan marah besar bila mengetahui hal ini sehingga ia memutar balik arah jalan pulang dan hendak membuntuti anak majikannya tersebut dari jarak jauh.
"Ra, pulang bareng ya?" Riko menghampiri Rara yang sedang membuka kunci rantai sepedanya di parkiran sekolah.
"Lho, bukannya loe biasanya di jemput?" Rara tak percaya lalu celingukan mencari sosok yang biasa menjemput Riko.
"Udah di suruh pulang tadi... Penasaran nih mau nyoba pulang pakai sepeda." Riko memegang stang sepeda Rara.
"Waduh! Kalau loe pulang pake sepeda gue terus gimana sama gue?" Rara menepuk jidatnya pelan sambil berdecak keheranan.
"Iya kita pulang bareng." Riko mengeluarkan senyum andalannya.
"Berat tau kalau gue boncengin orang..." Tolak Rara karena tidak yakin Riko akan memilih pulang dengan sepeda butut miliknya ketimbang mobil mewah yang biasa ia lihat begitu berkilau saat Riko masuk ke dalamnya.
"Ra, kok bengong?" Riko menyadarkan Rara yang tanpa sadar melamun.
Rara hanya bisa menahan nafas ketika Riko memilih untuk mengendarai sepedanya di depan sementara Rara duduk di jok penumpang.
__ADS_1
"Loe bisa bawa sepeda?" Rara melongo.
Sadar kalau Rara meragukan kemampuannya mengendarai sepeda membuat Riko memilih bertindak daripada berdebat mengenai kemampuannya bersepeda.
Sepanjang perjalanan Rara memilih tidak berbicara apapun karena takut membuat konsentrasi Riko buyar saat mengendarai sepedanya. Untunglah cuaca hari ini cukup cerah namun karena hujan yang turun tadi pagi rasanya cukup membuat suasana teduh lantaran sang surya yang masih malu-malu untuk memancarkan dirinya sehingga terasa tidak menyengat kulit Rara.
"Ra, kasihan ya itu yang jadi ondel-ondel nya masih kecil, kayaknya mereka gak beda jauh umurnya sama kita." Riko mengomentari sosok mungil yang mengisi rangka badan ondel-ondel sedang berdiri di bahu jalan.
"Eh iya itu masih bocah kayak kita pake kostum ondel-ondel kan berat ya?" Rara ikut mengomentari.
"Harusnya pemerintah daerah bikin larangan biar enggak semakin banyak anak-anak yang di peras tenaganya." Geram Riko.
"Udin siapa?" Riko keheranan karena baru mendengar namanya.
"Loe kan baru sekolah disini. Udin putus sekolah waktu kelas 3, katanya enak ngarak ondel-ondel kayak gitu banyak duitnye." Rara mengulas kenangan tentang Udin.
"Cari duit kan urusan orang tua, kita mah belajar tugas nya." Protes Riko.
"Sayang nya kagak semua anak seberuntung kite. Banyak juga orang tua nyang kagak siap jadi orang tua jadi mereka biarin anaknye cari duit sendiri." Rara mengeluhkan sikap beberapa tetangga nya yang seperti itu.
__ADS_1
"Iya ya kita harus banyak bersyukur. Eh, kok jadi serius gini ya omongan kita." Riko menyadari pembicaraan mereka yang terlalu serius daripada biasanya.
"Iya nih elo sih nyang mulai duluan."
"Mau mampir dulu gak?" Tawar Riko.
"Mampir kemana? Eh iya nanti jadi nya gimana nih loe anterin gue ke rumah atau ke rumah loe pulang nya?" Rara kebingungan.
"Kamu tenang aja itu di belakang kita Pak Kimin dari tadi ikutin kita jadi ke rumah kamu aja nanti aku pulang sama Pak Kimin." Riko cukup peka untuk memperhatikan kalau sejak tadi Pak Kimin memang tak lepas tangan mengawasinya.
"So sweet bener itu Pak Kimin lope lope sama elo. Hahaha." Canda Rara.
"Iya Pak Kimin sama Mba Lilis emang serasa orang tua ku sendiri." Riko tersenyum getir.
"Orang tua loe sibuk ye? Biasa orang kaya mah gitu... Babeh gue juga sibuk jadi nyang ada di rumah Enyak padahal gue bukan keluarga horang kaya. Hahaha." Rara menertawakan dirinya.
"Mama sibuk sama arisan dan reuni nya tiap waktu." Keluh Riko.
"Waaahh... Emak sosialita gitu loh." Ledek Rara yang tanpa sadar malah membuat Riko murung.
__ADS_1