Kaya Dengan Sistem Reputasi

Kaya Dengan Sistem Reputasi
Bab 13 Apakah iblis atau dewa yang sedang bermain saat ini?


__ADS_3

Setelah pelaku dari kasus pembunuhan telah berhasil di temukan, Edward dan Arya yang meminta ikut dalam interogasi. Mulai mengintrogasi laki-laki bernama Darius karena tidak mungkin orang yang pernah melakukan berkali-kali pembunuhan terlihat getar akan cara pembunuhan yang dia lakukan.


"Katakan siapa yang menyuruhmu untuk melakukan pembunuhan ini," ucap Edward dengan tatapan dingin dan aura yang menekan tapi laki-laki di depannya bersikukuh untuk tidak membuka mulutnya. Sampai Arya membeli alat kejujuran di dalam sistem untuk dia membuka mulutnya, tetapi laki-laki bernama Darius itu memutuskan untuk mati dengan cara mengigit racun yang berada di dalam mulutnya.


Setelah itu berita kematian mengenai pembunuh seorang salah seorang anak bangsawan beredar luas, semua orang di akademi merasakan ngeri dari pembunuhan itu kecuali orang yang melakukannya terlihat bahagia seakan-akan kematian adalah sebuah permainan yang menyenangkan untuk menjadi mainan.


"Kamu yang melakukan semua ini bukan?" tanya seorang laki-laki dengan salah satu mata yang di tutup menggunakan penutup mata kepada seorang laki-laki yang berada di depannya sedang bermain catur dengan seorang laki-laki bermata merah Ruby


"Entahlah,"


"Menurutmu apakah iblis atau dewa yang sedang bermain saat ini?"


"Bukankah lebih baik diam daripada berbicara," ucap laki-laki di depannya dengan tatapan mengancam disertai aura haus membunuh membuat laki-laki di depannya menjadi terdiam menyadari perbedaan kemampuan antara keduanya


Di sisi lain Edward menawarkan Arya untuk menjadi tangan kanannya, karena dia sangat di percaya oleh seorang dewa tentu ini adalah kepercayaan yang perantara tapi ini adalah kesempatan untuk Arya yang menginginkan reputasi yang dicari. Hal ini karena sistem miliknya semakin hari memberikan berbagai misi yang aneh dan di luar dari tujuannya.


Entah apa maksudnya tapi Arya merasa tidak ada salahnya atau aman rasanya, jika berada di dekat Edward yang mengenal siapa atasannya yang mengatur dunia ini. Karena telah mencapai kesepakatan antara keduanya, Ling dan Liam di panggil ke ruangan Schonheit tentu terkejut melihat Arya ternyata berada di dalam ruangan dan membuat mereka paham apa yang akan disampaikan oleh ketua Schonheit.


"Karena aku bukan orang yang suka berbasa-basi maka aku akan langsung ke inti pembicaraan,"


"Aku menginginkan kalian bertugas untuk menjadi tangan kanan Schonheit," ucap Edward dengan senyuman lembut dan tatapan kepercayaan kepada ketiganya tapi belum sampai beberapa detik, Liam menolak tawaran Edward karena alasan pribadinya.


Ketiganya tidak mengerti maksud penolakan itu berusaha meminta penjelasan tapi hanya di jawab dengan gelengan kepala pelan oleh Liam. Arya yang kebingungan langsung memanggil Huli untuk menemani Liam yang terlihat gelisah, walaupun tidak setuju Huli di perlakukan sebagai hewan peliharaan tapi dia juga tidak mungkin mengatakan kalau dia adalah Host dari sistem terpaksa melakukannya.

__ADS_1


"Baiklah kalau itu yang diinginkan olehmu, aku juga tidak bisa memaksa,"


"Tapi bagaimana dengan Ling dan Arya? Aku juga tidak ingin memaksa kalian bergabung dengan kami tapi aku sangat berharap besar dengan kemampuan yang kalian miliki,"


"Dan tenang saja kalian tidak akan bekerja secara sukarela, kalian pasti akan kami bayar," ucap Edward dengan tatapan kepercayaan membuat keduanya langsung menyetujuinya


Ling dan Liam pergi lebih dulu setelah diskusi pendek selesai di ruangan, kemudian di susul oleh Arya yang keluar dari ruangan itu bersama dengan Huli.


"Huli, apakah menurutmu motif orang itu membunuh anak laki-laki yang tidak bersalah seperti itu?"


"Bukankah itu adalah perbuatan yang sangat kejam?" ucap Arya membuat Huli tertawa getir kepada Arya yang terlihat seperti orang yang polos walaupun telah merasakan kerasnya dunia sebagai seorang korban dimanfaatkan, di bully bahkan ditindas oleh orang-orang di sekitarnya dahulu.


Bodoh atau naif mungkin bisa digambarkan kepada Arya walaupun dia tidak memahami maksud dari tawa itu. Orang yang saat ini hidup dengan tujuan memiliki reputasi walaupun telah di sakiti, ingin menjadi kaya supaya bisa hidup dengan tenang, memang tidak pernah di temui di sistem manapun oleh Huli.


"Kita juga tidak bisa melihat apakah dia tulus atau sekedar untuk mencari perhatian,"


"Bahkan kadang walaupun kejam sekalipun pada saat kamu menjadi pemenangnya maka cerita itu akan berubah menjadi seorang pahlawan yang pemberani,"


"Itu semua tergantung siapakah yang melihat semua sisi itu, kita bisa menilai hal itu mungkin buruk tapi bagi orang yang telah buruk itu adalah hal yang baik daripada menjadi perasaan sakit," ucap Huli yang sambil menatap Arya yang terlihat banyak memikirkan hal tentang perasaan atau kejamnya dunia ini sama dengan dunianya sebelumnya.


Secara tiba-tiba layar tipis muncul memberikan arahan untuk Huli supaya kembali ke sistem karena rapat dadakan yang diadakan. Dia pun meninggalkan Arya yang sedang berjalan menuju asrama.


Arya yang melihat Liam tidak jauh darinya dengan terburu-buru berjalan menghampirinya.

__ADS_1


"Liam, apa yang kamu lakukan di luar asrama? Bukankah cuaca saat ini menjadi semakin dingin? Apakah ada yang mengganggu dirimu? Kamu terlihat aneh sejak datang ke ruangan Schonheit,"


"Padahal awalnya kamu setuju dengan yang di ajukan oleh ketua Schonheit, sekarang kamu menolaknya,"


"Ceritakanlah jika ada yang mengganjal mungkin aku bisa membantumu," ucap Arya dengan tatapan khawatir ke arah Liam yang terlihat gelisah dengan sesuatu tapi tetap berusaha tenang seperti tidak memiliki masalah apapun di depan Arya.


"Terima kasih telah mengkhawatirkan aku, tapi lebih baik kamu khawatirkan dirimu sendiri," ucap Liam yang kemudian pergi meninggalkan Arya dengan kebingungan


Rasa penasaran yang menyelimuti Arya tentu membuat dirinya nekat menggunakan alat dari sistem, walaupun itu terlarang dengan harga sembilan ribu emas, Arya mendapatkan sebuah ramuan yang mampu membuatnya tidak terlihat dan menghilangkan aura keberadaannya, setelah itu dia mengikuti kemana Liam akan pergi.


Siapa yang menyangka kalau Liam pergi ke hutan akademi yang seharusnya belum di kunjungi oleh mereka bertiga, sebuah bangunan yang terlihat tidak terlalu tua dan ditinggalkan. Terlihat seorang laki-laki bermata merah Ruby dengan rambut perak berpakaian rapi menunggu, dan mungkin sosok yang ditunggu oleh laki-laki itu adalah Liam.


"Sudah lama tidak bertemu Liam,"


"Bagaimana kalau kita minum bersama," sapa laki-laki itu dengan senyuman yang terlihat hangat tapi dingin


"Jangan banyak basa-basi, kita baru saja bertemu barusan,"


"Aku ke sini ingin mengatakan jika ingin bermain cari mainan lain," ucap Liam dengan tatapan dingin dan tajam ke arah laki-laki bermata Ruby dan berambut perak itu, membuat Arya kebingungan dengan topik yang dibicarakan keduanya.


"Coba jika berani katakan langsung kepada tuan muda yang menikmati waktu di akademi ini,"


Kaya Dengan Sistem Reputasi

__ADS_1


__ADS_2