Kaya Dengan Sistem Reputasi

Kaya Dengan Sistem Reputasi
Bab 24 Berkhianat maka akan mati


__ADS_3

Tidak terlihat Austin maupun Rokhahul tau dimana letak kampung halaman Edward ataupun sejarahnya setelah Arya menanyakannya, akan tetapi Arya yang mencari menggunakan sistem, merasakan kalau keduanya tidak mungkin tidak tau karena kejadian itu telah terjadi belasan tahun dan hampir di anggap sebagai lahan kosong atau tanah kosong kecuali mereka di manipulasi oleh sihir.


"Apa kalian benar-benar tidak pernah berkunjung ke desa kampung halaman Edward?" tanya Arya dengan kening yang telah berkerut ke arah Ling dan Rokhahul sedangkan keduanya saling menatap dan kemudian menggelengkan kepala hingga membuat Arya yang bertanya kebingungan dengan kedua orang di depannya


"Kami pernah berkunjung tapi anehnya kami tidak mengingat dengan jelas seperti apa lokasi desa dan tempat tinggal yang menjadi tempat tinggal Edward," ucap Austin dengan menghela nafas panjang


Banyak hal kosong yang tidak di ingat oleh Austin walaupun dia mengatakan iya dan tidak dari pertanyaan Arya mengenai Edward, padahal mereka telah bersama dengan Edward satu tahun lebih di akademi.


"Baiklah untuk masalah Edward kita kesampingkan dulu,"


"Aku pusing jika harus mengingat semua informasi yang entah darimana tapi merasa tidak pernah terjadi,"


"Lebih baik saat ini kita mempersiapkan acara tradisi yang sudah dekat dulu," ucap Austin yang mengingat kembali kalau itu harus di buat perencanaan dulu beberapa bulan sebelum memulai kegiatan, tapi berkaitan dengan misinya dia harus segera menemukan Liam yang menghilang


"Tunggu, aku ingin tau dimana Liam saat ini?" tanya Arya dengan lantang ke arah keduanya sebelum keduanya membahas masalah perencanaan tradisi yang panjang dan tidak akan selesai


"Kalau tentang itu, dia terakhir terlihat pada saat aku akan kembali ke asramaku, dan untuk berjaga-jaga aku memasang alat pelacak kepadanya,"


"Ambil perkamen sihir ini,"

__ADS_1


"Hanya perlu kamu sobek saja kemudian nanti ada cahaya yang akan menuntun dirimu menemukan Liam,"


"Jika dia berwarna kuning dia masih bernyawa, jika dia berwarna merah maka bisa dipastikan nyawanya sudah hilang dan kalau kuningnya terputus artinya ada orang yang sadar dengan sihirku, kemudian memutuskannya,"


"Apabila kamu ingin keluar akademi gunakan nama Schonheit dan nama Rokhahul maka dia akan mengizinkan kamu untuk keluar," ucap Austin yang menyerahkan lima lembar perkamen sihir kepada Arya kemudian dijawab dengan anggukan mengerti


Arya keluar dari ruangan itu, setelah itu dia mencoba mencari menggunakan sistem untuk melacak keberadaan Liam, tapi terlihat dia berada di manapun. Arya kemudian mencoba menggunakan perkamen sihir yang diberikan oleh Austin, karena mungkin saja sistem iblis yang membuat sistemnya tidak bekerja, Arya mengetahui ini karena notifikasi yang didapatkan dari sistem. Biasanya dia mendapatkan informasi melalui Huli tapi karena sistem saat ini semakin hari semakin sulit di stabilkan, dan jika sistem dibuat para dewa hancur maka kekacauan di luar dunia ini akan langsung terjadi.


Arya merobek perkamen sihir tersebut terlihat garis emas terlihat sampai di sebuah tempat yang mampu membuatnya terkejut yaitu kuil suci. Arya langsung berjalan masuk dan melewati lorong-lorong taman tanpa terlihat siapapun yang ada di lorong, pikirnya mungkin saja para pendeta kuil sedang menjalankan kegiatan mereka.


Arya masih mengikuti cahaya itu sampai di tempat yang sepi dan laki-laki yang terbaring lemas, sosok laki-laki yang begitu dia kenali membuat dirinya melangkah dengan cepat ke arahnya.


"Liam, apakah kamu baik-baik saja? Kenapa kamu bisa berada di tempat ini?" tanya Arya yang melihat begitu banyak luka luar di sekujur tubuh Liam, Arya mengeluarkan semua ramuan terbaik yang di buatnya sendiri untuk mengobati semua luka yang ada ditubuh milik Liam, semua ramuannya terlihat bekerja tapi sepertinya Liam juga memiliki luka dalam yang sulit untuk diobati dengan ramuan alkimia yang dia buat. Mau tidak mau dia menggunakan sistem untuk membeli obat terbaik walaupun harganya seperti pemerasan dan hanya bisa digunakan satu kali penggunaan.


"Siapa yang melukai dirimu Liam? Dan kenapa dirimu bisa ada di kuil suci? Apakah mereka yang melukai dirimu?" tanya Arya dengan tatapan penasaran dan khawatir, Liam yang mendengarkan hujanan pertanyaan yang diberikan oleh Arya membuat dirinya merasa telinganya mengeluarkan darah akibat dari kelakuan orang di depannya.


"Aku baik-baik saja sekarang dan tidak bisakah kamu pelan-pelan bertanya tanpa langsung mengeluarkan semua pertanyaan," ucap Liam dengan tatapan suramnya


"Karena kamu baik-baik saja bisakah katakan apa yang terjadi hingga kamu bisa berada di kuil suci?" tanya Arya dengan tatapan penasaran

__ADS_1


"Itu karena Ling sudah menganggap aku berkhianat, tidak heran jika dia mengatakannya karena akulah yang tidak membunuh Austin,"


"Oleh karena itu aku kabur sampai ke kuil suci supaya tidak mati di tangannya, di sini ada anugerah dewa yang masih memberikan perlindungan melalui doa-doa para rakyatnya,"


"Tapi terdengar lucu bukan jika kamu akan mati di tangan orang yang kamu anggap sebagai sahabat? Tapi itulah kegunaan yang merupakan senjata kerajaan iblis,"


"Yang telah dilatih untuk setia kepada tuannya dan jika berkhianat maka akan mati," ucap Liam dengan senyuman pahit menatap kepalan tangannya, sedangkan Arya yang mendengarkan pemaparan itu cukup membuat Arya terkejut


'Liam seorang senjata? Semua manusia adalah sama derajatnya, bagaimana bisa dia dikatakan sebagai seorang senjata?'


'Apakah para iblis ini gila dan tidak punya hati? menganggap manusia adalah benda? Dan Ling tidakkah dia sangat kejam kepada orang yang telah menemaninya?' ucap Arya di dalam hatinya yang tanpa sadar juga menggigit bibirnya sampai berdarah


Misi Arya selesai untuk menemukan Liam, yang kemudian dia membawa Liam kembali ke akademi. Di sisi lain seorang laki-laki duduk di kursi dengan menyilangkan kakinya, dengan tatapan kesal dan amarah tidak terbendung menunggu para utusannya yang tidak hadir sejak tadi di utus olehnya.


"Tok... tok... tok..." suara ketukan pintu yang kemudian di masuki oleh sesosok laki-laki bermata merah dan bersayap memasuki ruangan besar itu dengan gemetaran seakan-akan takut jika laki-laki yang sedang duduk di kursi.


"Katakan hasilnya," ucap laki-laki itu dengan tatapan dingin dan aura menekan


"Kami tidak berhasil membunuhnya tapi kami berhasil membuat luka yang sangat parah karena dia lari ke daerah dimana mendapatkan perlindungan para dewa,"

__ADS_1


"DASAR TIDAK BERGUNA,"


Kaya Dengan Sistem Reputasi


__ADS_2