
Kedua orang yang merupakan orang yang memiliki kekuasaan tertinggi di akademi terdiam dan berlutut begitu saja ketika melihat wujud asli dari rubah kecil Huli. Arya yang melihat kejadian ini terdiam terheran-heran kenapa mereka sampai berlutut di hadapan Huli.
"Maafkan kami tuan Modifica karena kami tidak mengetahuinya kalau anda adalah pelindung anak ini,"
"Dan kecerobohan kami yang tidak sopan dengan anak ini," ucap laki-laki bermata merah muda dengan kepala tertunduk bersalah
"Huli, mereka adalah orang yang melindungi akademi ini,"
"Jangan terlalu berlebihan," ucap Arya yang mencegah sebelum terjadi sesuatu yang mengerikan kepada kepala akademi dan asistennya
Huli yang mendengarkan ucapan itu mau tidak mau mengalah kepada Arya, dan kemudian terjadi pembicaraan singkat antara kepala akademi dengan Arya hingga dia diberikan akses untuk menggunakan ruangan terlarang oleh kepala akademi.
Beberapa hari setelah Arya berhasil mendapatkan akses perpustakaan terlarang, rapat darurat digelar kembali oleh wakil Schonheit karena ini masalah darurat yang sedang terjadi tidak jauh dari akademi Atticus. Arya kemudian mencari informasi mengenai apa yang terjadi di sekitaran akademi menggunakan layar tipis miliknya terlibat para monster yang entah dari mana asalnya berjalan menuju ke arah akademi dalam jarak beberapa kilometer lagi mereka akan sampai di akademi.
Terlihat saat ini para siswa-siswi Schonheit yang bertugas untuk menjaga saat ini berusaha menghentikan langkah para monster untuk sampai ke akademi.
"Baiklah, saat ini kita tidak akan rapat lama karena adanya para monster yang sedang menunggu untuk di habisi,"
"Tugas kita adalah melindungi para siswa-siswi dan jalannya festival besar yang akan tiba di akademi,"
"Aku harap kalian ingin mempertaruhkan nyawa kalian denganku di medan pertarungan ini,"
"Tapi jika salah satu dari kalian merasa tidak sanggup silahkan memundurkan diri dari rapat ini," ucap Rokhahul dengan tatapan tajam dan aura tegas dan dingin ke seluruh anggota Schonheit yang berada di dalam ruangan itu, tidak terlihat seorangpun yang beranjak dari kursinya untuk keluar dari ruangan itu yang artinya mereka siap untuk mempertahankan akademi walaupun nyawa taruhannya
__ADS_1
Arya dan Austin akan menyerang jarak jauh sedangkan Rokhahul dan Liam berada di garis depan karena Rokhahul merasa Liam mampu ikut dengannya berada di garis depan membuka jalan. Pertempuran sengit terjadi di depan akademi itu, keringat dan setiap tetes darah mereka keluarkan untuk memenangkan pertarungan ini, terlihat ratusan monster yang mungkin telah mereka habisi namun tidak pernah terlihat rasanya ujung pertarungan ini oleh mereka.
Arya kemudian membuka sistem untuk melihat apa yang bisa dia lakukan di tengah pertarungan untuk membantu saat ini, karena banyak orang yang sudah terlihat sangat lelah dengan pertarungan yang tidak ada habisnya mereka jalani. Layar tipis itu memperlihatkan beberapa item yang terlihat bisa membantu situasi Arya dan yang lainnya saat ini, terlihat ada beberapa item yang membuat Arya yakin dia bisa mengalahkan para monster itu, senjata itu adalah sebuah senjata sihir yang dibuat berbentuk pedang dengan dikendalikan melalui sihir dan sistem, senjata ini mampu menghancurkan satu desa jika tidak di kendalikan dengan baik.
Dengan harga yang mahal Arya membeli senjata itu dan meminta seluruh siswa-siswi Schonheit yang berada di bawah untuk mundur supaya tidak terkena serangan dari senjata sihir, Arya juga meminta Austin untuk membuat batas pelindung supaya tidak berlebihan nantinya kerusakan yang dihasilkan oleh senjata yang digunakan oleh Arya.
"Arya, semuanya sudah siap,"
"Jika kamu ingin menggunakan sihir lakukan sekarang," ucap Austin dengan lantang ke arah Arya yang kemudian dijawab dengan anggukan pelan oleh Arya yang sambil mengaktifkan sistem dari senjata
"Tring..."
"Sistem penyerangan diaktifkan,"
"BOOM!!"
Cahaya yang begitu cepat melesat dari arah Arya yang menggunakan cahaya ke seluruh monster yang berada di depannya, dalam hitungan detik pada monster dan pohon-pohon sekitarnya telah hilang hanya tersisa tanah yang rata. Kejadian ini tentu membuat siswa-siswi Schonheit bersorak bahagia, karena akhirnya mereka bisa menyelesaikan pertempuran yang menghabiskan tenaga dan pemikiran mereka, Arya kemudian pingsan dan terjatuh dari ketinggian setelah menghabiskan sihirnya untuk melakukan penyerangan kepada para monster menggunakan senjata sihir.
Dari kejauhan seorang laki-laki yang duduk minum teh menikmati pertempuran yang begitu menyenangkan untuk dirinya yang melihat pertarungan yang bisa merenggut nyawa orang-orang itu, tidak lama setelah pertarungan itu selesai terlihat dua orang laki-laki datang ke meja teh laki-laki yang sedang asik minum teh itu, tanpa lama laki-laki itu langsung berlutut hormat kepada kedua orang di depannya.
"Saya merasa terhormat karena bisa di kunjungi oleh yang mulia raja dan pangeran muda,"
"Apakah ada perintah yang mulia?" ucap laki-laki yang berlutut itu dengan tegas dan tatapan serius
__ADS_1
"Lakukan saja seperti yang sudah direncanakan di rapat,"
"Pekerjaanmu barusan untuk memancing para monster menuju ke akademi dalam jumlah besar adalah hal yang bagus untuk melihat seberapa kuat musuh kita," ucap laki-laki berambut perak dengan senyuman puas kepada bawahannya
"Rasanya sayang jika aku tidak memberikan hadiah untukmu,"
"Karena kemampuanmu yang begitu berbakat," sambung laki-laki yang berada di sebelahnya kemudian mengeluarkan sebuah tongkat panjang berbentuk sabit dan rantai panjang yang menyambung dengan ujung tongkat supaya mudah untuk digunakan saat melempar
"pangeran saya tidak akan membuat anda kecewa karena memberikan senjata yang berharga ini kepada saya,"
"Saya pasti akan membereskan mereka dan membuat pesta terbaik untuk anda nikmati," ucap laki-laki itu dengan seringai dingin dan aura yang membunuh begitu pekat, kemudian kedua laki-laki itu pergi
Di sebuah tempat yang gelap, Arya berjalan terus menerus tapi tetap saja tidak menemukan jalan keluar bahkan walaupun dia memanggil Huli tidak ada jawaban sama sekali, sampai tidak lama dia duduk di tengah kegelapan muncul sebuah cahaya yang tiba-tiba merubah sekitarnya.
Sebuah ruangan dengan ornamen timur begitu mendominasi di dalam ruangan itu, tidak lama kemudian terlihat seorang anak kecil yang berlutut di depan sepasang suami istri duduk di ruangan itu, anak kecil itu berlutut dengan gemetar. Seorang anak laki-laki terlihat juga berada di depan pintu dengan ketakutan menatap anak kecil yang berlutut di hadapan kedua orang itu.
"Ling, katakan sejujurnya apakah kamu benar-benar adalah orang yang berteriak kepada gurumu?"
"Katakan kepadaku dengan jelas, jangan berbohong satu katapun jika kamu tidak ingin menerima hukuman," ucap perempuan itu dengan lantang ke arah anak laki-laki yang berlutut dengan gemetar ketakutan
"Aku tidak berteriak sama sekali,"
"Aku hanya mengatakan kalau materi yang dijelaskan olehnya keliru,"
__ADS_1
Kaya Dengan Sistem Reputasi