
"Hahaha Lukisanmu ini palsu. Siapa yang menyangka, tuan Muda terhormat, akan membawa sebuah lukisan palsu untuk membodohi Tuan Tua Lunar," Ucap Imbran.
Dickiano selalu mencari masalah dengan dia . Jadi, Imbran tentu tidak akan melewatkan kesempatan sebagus ini untuk membuat malu Musuh nya.
"gak mungkin. Bosnya sudah menjamin keaslian Lukisan ini. Kamu gak boleh asal memfitnah orang."
"Kamu hanya orang kampungan. Tahu apa kamu tentang lukisan terkenal ini?"
Dickiano menunjukkan ekspresi menghina. Dia jelas sedang merendahkan Imbran yang notabene nya berasal dari kampung.
Lagi pula, Imbran hanya orang miskin.
Bagaimana mungkin dia bisa membedakan lukisan yang asli dengan yang palsu?
"Itu memang palsu.ucap imbran
Apa kamu tahu di mana lukisan yang asli?"ucap dickiano meraung. marah
"Lukisan aslinya tergantung di aula dalam vila. Coba kamu lihat ke dalam. Dari posisimu saat ini, seharusnya kamu bisa melihat lukisan asli dari 'Lukisan Pemandangan Bulan Terang'," ujar Salsa sembari tersenyum dan menutup mulutnya. Dia juga tidak menyangka bahwa Dickiano sang tuan muda terhormat akan ditipu oleh bos barang antik.
Setelah mendengar kata-kata Salsa, raut wajah Dickiano sontak menjadi sangat malu dan memerah. Saat mendongak, dia kebetulan bisa melihat sebuah lukisan kuno yang tergantung di dalam melalui pintu vila. Lukisan itu sama persis dengan lukisan yang ada di tangannya ini
Lukisan kuno yang bisa muncul di rumah Keluarga Lunar tentu itu adalah lukisan asli. Dan kata lain, lukisan yang ada di tangannya sudah Pasti palsu.
"Sialll..Dickiano memaki.
Wajah Nya menjadi sangat merah dan tampak sangat suram.
"Tuan Tua Lunar, mohon maafkan aku bukan maksud ku menghina tuan tua seperti ini karna aku juga tidak tahu dan Benar aku sudah ditipu, awas aja Bos barang antik itu!"
"Sudahlah. Karena kamu Tidak sengaja, aku juga Tidak akan menyalahkanmu. Bagaimanapun, kamu juga ditipu," ujar Tuan Tua Lunar secara langsung.
Melihat Tuan Tua Lunar tidak menyalahkannya,Dickiano pun menghela napas lega.
"Lain kali, kamu harus lebih berhati-hati
Jika mau membeli lukisan kuno jangan di Bawa di acara Ulang tahun orang. sudah terlalu banyak lukisan palsu yang beredar di pasaran dan jika orang itu tidak pintar pasti tertipu," sindir Imbran sembari tersenyum.dan seolah-olah mengatai dickiano Bodoh.
Mendengar sindiran Imbran, Dickiano pun membalas lalu berkata, "Imbran, aku memang ditipu. Tapi, aku masih sanggup memberikan hadiah ulang tahun bernilai miliaran rupiah. Aku cuma tertipu sedikit uang saja."
"Sementara itu, sebagai Pacar Salsa, kamu malah Tidak membawa apa-apa kesini untuk ulang tahun Tuan tua Lunar. Bukankah kamu sungguh tak tahu malu dan keterlaluan?" Dickiano melakukan penekanan ketika menyebutkan kata pacar.
"Siapa bilang aku Tidak bawa apa-apa? Kebetulan, aku juga akan memberikan sebuah lukisan Lihat apakah yang ku bawa asli atau tidak."
__ADS_1
Imbran lalu mengeluarkan sebuah kotak dari saku di dalam jaketnya. Setelah membuka kotak itu, dia membentangkan sebuah lukisan.
Melihat lukisan yang dikeluarkan oleh Imbran, Dickiano sontak tertawa terbahak-bahak.
"Haha. Itu Lukisan Festival Sepanjang Sungai. Anak SD pun tahu bahwa Lukisan Festival Sepanjang Sungai yang asli tersimpan di Museum Starfford kota Kamu sendiri juga membawa lukisan palsu kemari. namun perbedaan di antara kita adalah kamu sengaja membodohi Tuan Tua Lunar."
Raut wajah Arman dan Munaroh pun terlihat sangat Suram. Bagaimana bisa Imbran mengeluarkan lukisan yang semua orang sudah tahu bahwa itu palsu?
Sementara itu, Tuan Tua Lunar juga merasa bahwa Imbran sedang meninjak-injak. dan Wajahnya tampak kesal.
Namun, seiring dengan Terbentangnya lukisan itu, Tuan Tua Lunar sontak tertarik dan terpukau.dan tak bisa berkata.
"Lukisanku memang palsu, tapi berbeda dari punyamu."
"Lukisanku ini adalah hasil salinan Candra Ajimukti."
Seiring dengan membentangnya lukisan, nama Pelukis terkenal pun terlihat oleh semua orang.
Situasi seketika menjadi heboh. Jika ini benar-benar adalah Lukisan Festival Sepanjang Sungai salinan Chandra Ajimukti, nilainya pasti tidak akan kurang dari puluhan miliar rupiah.
Imbran benar-benar murah hati karena langsung memberikan lukisan bernilai puluhan miliar rupiah sebagai hadiah.
jika orang lain Akan berpikir seribu kali.
lukisan. Dari ekspresi wajah nya sudah bisa diketahui bahwa lukisan ini pasti asli.
"Ini memang merupakan lukisan salinan Chandra Ajimukti"
Perkataan Tuan Tua Lunar Tidak diragukan lagi telah membuktikan nilai dari lukisan itu.
"Saudara Imbran, dari mana kamu mendapatkan lukisan ini?" tanya Tuan Tua Lunar dengan penuh semangat.
"Kakek, panggil aku Imbran saja."
Kemudian, Imbran pun menjelaskan kronologis perolehan lukisan pada hari itu.
Setelah mendengar cerita Imbran, Tuan Tua Lunar langsung tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Haha. Penjualnya Tidak tahu kalau ini adalah harta berharga. Benar-benar konyol."
Tuan Tua Lunar sudah lama tidak sebahagia ini kali ini dia benar-benar bahagia.
Melihat Kakek nya yang begitu senang, Salsa pun mengambil kesempatan untuk berkata, "Kakek, sebenarnya aku membawa Imbran kemari karena ada maksud lain."
"Imbran mengerti sedikit tentang keterampilan medis. Jadi, aku memintanya untuk memeriksa penyakit Kakek jika di ijinkan."
__ADS_1
Tuan Tua Lunar tahu tentang kondisi tubuhnya sendiri sehingga dia menghela napas. "Salsa, kakek menghargai niat baikmu. Hanya saja, bahkan Pak Topan Saja Tidak sanggup untuk mengobati penyakit kakek apalagi orang lain."ujar dia
"Salsa, kamu jangan tertipu olehnya. Aku mengetahui latar belakangnya. Dia tidak mungkin bisa mengobati penyakit?" ujar Dickiano. Dia tidak pernah mendengar
Bahwa Imbran bisa mengobati penyakit.
Dickiano baru saja dipermalukan karena masalah hadiah. Dia tentu harus membalas kan dendam ini mumpung ada kesempatan untuk mempermalukan Imbran.
Munaroh menimpali, "Benar, Salsa. Penyakit mana boleh asal diperiksa oleh orang lain? jika terjadi sesuatu, siapa yang akan bertanggung jawab?"
"Kalau Kakek bersedia, aku akan Mencoba Memeriksa Kakek. Aku mungkin bisa menyembuhkan nya." ucap Imbran menatap Tuan Tua Lunar dengan tulus.
"Iya. Kakek coba saja," ujar Salsa dengan manja.
Mendengar suara manja Salsa, Tuan Tua Lunar pun berkata tanpa daya, "Oke, aku akan mengijinkan nyabmencoba. Tapi, ini adalah penyakit kronis. jika gak bisa disembuhkan, kalian Tidak perlu merasa bersalah."
Dapat dilihat bahwa Tuan Tua Lunar sangatlah ramah. Dia jelas-jelas adalah pasiennya, tetapi malah khawatir situasi akan menjadi canggung jika Imbran gagal menyembuhkannya. Itu sebabnya, dia mengatakan hal ini dahulu sebelum Imbran mulai mengobatinya.
Kemudian, Imbran pun mengeluarkan sebuah kotak. Kotak ini berisi dua butir Pil yang telah digosoknya dengan air spiritual waktu itu.
Melihat Imbran mengeluarkan sebutir pil, Arman sontak mencegahnya dan berkata, "Ayah, Pak Topan pernah mengingatkan, Ayah jangan sembarangan meminum obat. Bagaimana kalau ada efek samping yang berbahaya?"
"Benar. tuan tua. kita gak tahu benda apa yang dia keluarkan. Kalau terjadi masalah, dia gak akan sanggup bertanggung jawab," ujar Dickoano dari samping.
Tuan Tua Lunar pun menjadi ragu-ragu. Pak Topan memang pernah mengingatkannya untuk jangan asal meminum obat yang belum diverifikasi olehnya. Jika obatnya tidak cocok, penyakitnya mungkin akan memburuk dengan cepat.
Jika mengikuti metode Pak Topan, Tuan
Tua Leonardi mungkin masih bisa hidup selama beberapa bulan. Namun, jika terjadi sesuatu, dia bahkan mungkin tidak bisa bertahan hidup selama sepuluh hari kedepan.
Kini, dia sepenuhnya mengandalkan ginseng berusia ratusan tahun yang didapatkan Pak Topan untuk bertahan hidup.
"Haha. Lunar tua mohon maaf. Bisa-bisanya aku datang terlambat ke perjamuan ulang tahunmu." Pak Tapu berjalan masuk sambil membawa seorang pria dan wanita.
Kedua orang ini adalah Topan dan cucunya, Silvia.
Melihat kedatangan Topan, Arman sontak terlihat sangat gembira sekali lalu berkata, "Pak Topan, kebetulan sekali. Tolong periksa pil yang dibawa orang ini. Apakah ayahku boleh meminumnya?"
Oh!
Topan dan Silvia pun mendongak dan langsung melihat Imbran yang berada di samping.
"Imbran, kenapa kamu juga ada di sini,?
__ADS_1
(To Be Continued)