
"Aku sudah salah. Aku akan segera pergi,
ucap Kak Beri tanpa ragu-ragu.
"Kak Beri, kamu Tidak boleh meninggalkan kami!"
"Setengah dari uang yang kami dapatkan kemarin sudah diberikan kepadamu! Kamu Tidak boleh meninggalkan kami!"
Sekelompok siswa Berandalan itu berkata dengan nada ketakutan.
"Omong kosong! Selesaikan sendiri masalah yang sudah kalian perbuat. Jangan libatkan aku."
Setelah mengatakan itu, Kak Beri beserta para anak buahnya bergegas keluar dari ruang karaoke.
Saat ini, hanya tersisa sebelas siswa, pelaku perusakan dermaga Imbran yang berada di dalam ruang karaoke.
"Mengikuti bos seperti ini Tidak menguntungkan, 'kan?" ejek Imbran sambil tersenyum dingin.
"Hendi, tutup pintunya. Sekarang, aku harus membahas ganti rugi dengan mereka," kata Imbran sambil tersenyum.
Begitu pintu ditutup, seorang siswa berambut pirang langsung berdiri, lalu berkata dengan suara yang lantang, "Kami sudah menghancurkan dermagamu. Memangnya kamu mau apa? Mau bunuh atau menyiksa? Silakan saja!"
"Hehe, Tidak perlu membunuh atau menyiksa kalian, tapi ganti rugi. Kalian harus mengganti kerugianku."
"Total biaya pembangunan dermagaku adalah enam miliar rupiah. Katakanlah,
bagaimana kalian akan mengganti rugi,Ucap Imbran berkata dengan dingin.
"Kami Tidak punya uang dan hanya punya satu nyawa!" Siswa berambut pirang kuning itu masih bersikeras.
"Huh! Kalian jelas Tidak bakal mampu membayar ganti rugi. Kalau begitu, maafkan aku. Aku akan meminta orang tua kalian untuk membayar ganti rugi."
"Sebenarnya, kerugianku gak terlalu besar. Mungkin sekitar dua miliar rupiah. Jumlah kalian ada sebelas orang.
Seharusnya Tidak masalah kalau setiap keluarga membayar sekitar dua ratus juta rupiah."
Imbran kemudian tertawa sambil menatap beberapa siswa Berandalan.
"gak mungkin! Kami hanya merusak beberapa blok semen dan tangga itu saja!
enggak mungkin semahal ini!"
"Kamu mau memalak kami, ya?"
Beberapa remaja itu segera membantah.
"Tenang saja. Aku akan mencari orang tua kalian dan mengevaluasinya. Huh, bukannya belajar dengan baik, kalian malah merusak properti orang lain." Imbran memasang ekspresi tidak puas.
Mendengar bahwa Imbran hendak mencari orang tua mereka, ekspresi remaja-remaja itu langsung berubah.
Mereka semua hanya murid SMA kelas dua. Selama ini, mereka terus bergaul dengan Kak Beri sehingga mereka memiliki sedikit reputasi di sekolah.
__ADS_1
Ada kalanya mereka memalak puluhan hingga ratusan ribu rupiah. Hari Sabtu kemarin, mereka baru tiba di bar dan ada seorang pria paruh baya yang,
menawarkan mereka pekerjaan dengan penghasilan besar.
Hanya dengan mencongkel beberapa papan semen, mereka bisa mendapatkan sepuluh juta rupiah. Jadi, mereka segera bertindak malam itu juga dan merusak dermaga milik Imbran dalam semalam.
Jika anggota keluarga mereka tahu tentang hal ini dan harus membayar ganti rugi hingga dua ratus juta rupiah, mereka mungkin akan dipukuli habis-habisan.
"Serahkan ponsel kalian, lalu tunjukkan nomor telepon keluarga kalian. Kalau Tidak, tanggung sendiri akibatnya."
Setelah mengatakan ini, Imbran melambaikan tangannya dan menyuruh 20 pekerjanya untuk duduk.
Para remaja nakal yang tidak berpengalaman langsung berpikir bahwa mereka telah menyinggung bos mafia
ketika melihat pemandangan ini. Alhasil, mereka mulai merasa gemetar dan ketakutan.
Bahkan, siswa berambut pirang kuning itu juga tidak berani berbicara lagi.
Mereka semua segera mengeluarkan ponsel dan memberi Imbran nomor telepon orang tua mereka satu per satu.
Setelah Dirasa para anak Nakal ini terkendali, Imbran menyuruh mereka semua berbaris agar bisa mengambil foto para siswa ini satu per satu.
"Foto kalian ada di tanganku. Jadi, kalian jangan berharap bisa kabur."
Imbran tersenyum, sedangkan sebelas remaja ini memasang ekspresi pahit.
"Bos, tolong jangan beri tahu orang tua kami." Remaja-remaja nakal itu memasang ekspresi memelas.
dermagaku, tapi aku memaafkan kalian karena kalian masih muda dan Tidak mengerti apa-apa. Aku bisa memberi kalian satu kesempatan agar Tidak memberi tahu orang tua kalian."
Begitu mendengar kalimat ini, mata para remaja nakal itu langsung berbinar. Mereka menatap Imbran dengan penuh harap.
"Selama Bos gak memberi tahu orang tua kami, aku bersedia melakukan apa pun yang Bos perintahkan," ucap siswa berambut pirang.
"Aku Tidak perlu kalian melakukan apa pun. Aku hanya perlu kalian mengembalikan kondisi dermagaku."
Begitu mendengar perkataan Imbran, sekelompok remaja itu langsung menunjukkan ekspresi dilema. "Tapi, kami Tidak tahu bagaimana cara melakukan pekerjaan seperti itu dan juga kami gak punya Bahan."
"Tenang saja. Aku akan menyiapkan bahan dan mengutus orang untuk mengajari kalian."
Para remaja itu langsung menjadi senang
Lanjut berkata, "Selama Bos Tidak memberi tahu orang tua kami, kami pasti akan membantumu memperbaiki dermaga."
"Oke. Besok pagi pukul 07.00, datanglah ke dermaga tempat kalian merusaknya.
Kalau ada satu orang di antara kalian yang Tidak datang, aku akan menelepon orang tua kalian semua."
Setelah mengatakan itu, Imbran dan rombongannya langsung meninggalkan tempat karaoke.
Imbran tidak khawatir para remaja nakal itu tidak datang. Bagaimanapun, dia punya foto dan nomor orang tua mereka.
__ADS_1
"Pak Hendi, tolong awasi mereka besok, lalu sekalian ajari anak-anak nakal itu cara bekerja," kata Imbran kepada Hendi yang berada di sampingnya.
"Oke. Pak Aku pasti akan melakukannya dengan baik."
Setelah itu, Imbran kembali ke rumah. Saat ini, semua orang di rumah sudah tidur. Jadi, Imbran segera mandi, lalu tidur.
Keesokan paginya, Imbran datang ke dermaga dan mendapati bahwa Hendi sudah tiba sejak tadi. Hendi yang melihat Imbran pun menyapanya.
Tidak lama kemudian, sekelompok remaja nakal dengan rambut warna-warni pun datang. Wajah mereka tampak sangat kusut.
"Bagus sekali. Kalian sudah menepati janji. Segera berbaris dan mulai menghitung. Sebutkan nama dan sekolah kalian," seru Imbran seraya memasang ekspresi galak.
"Satu, Joko budoyo Cakradinata. SMA Stanfford 1!"
"Dua ..."
"Bagus! Kalian harus tahu bahwa kalian sudah merusak hasil kerja para pekerja. Hari ini, aku akan membiarkan kalian merasakan kesusahan para pekerja," kata Imbran sambil menunjuk dermaga yang
berantakan.
"Pak Hendi, apa yang harus mereka lakukan terlebih dahulu?" tanya Imbran kepada Hendi.
"Pertama, bersihkan balok-balok semen ini, lalu menambalnya dengan semen."
"Oke. Segera atur pekerjaan untuk mereka."
Segera setelah itu, adegan yang
mengejutkan muncul di dermaga baru ini.
Sekelompok remaja berusia sekitar 15 tahun dengan rambut warna-warni mulai bekerja di lokasi konstruksi.
Namun, tidak lama kemudian, para remaja itu mulai menangis sambil memanggil ayah dan ibu mereka.
Bahkan, ada beberapa orang yang mulai malas.
"Hentikan omong kosong Kalian. Kalau masih bermalas-malasan, aku akan segera menelepon orang tua kalian."
Dalam sekejap, tidak ada yang berani bermalas-malasan lagi dan mulai bekerja.
dengan Serius.
Tidak lama kemudian, Siren yang hendak pergi ke pulau untuk mengawasi pekerjaan datang ke dermaga. Begitu tiba, dia langsung melihat sekelompok remaja yang sedang bekerja.
"Bos, kejam sekali kamu. Kenapa kamu menyuruh anak-anak melakukan pekerjaan konstruksi?" Ucap Siren dengan marah.
Imbran pun memberikan penjelasan dengan Detail dan Siren akhirnya mengerti akar dari masalah ini.
"Bagus sekali. Mereka harus merasakan susahnya bekerja."ucap nya
(To Be Continued)
__ADS_1