
"Namun, permukaan tanah di sisi Timur sedikit lebih tinggi dari permukaan laut. dan sekitar nya Jadi, seharusnya tidak mungkin bisa menggali lubang untuk mengalih dayakan air laut.
Dan di pintu timur, terdapat sebuah tempat alami untuk berlindung dari angin kencang. Ada beberapa bukit yang menghalangi angin laut dan sangat cocok untuk dijadikan sebagai pemukiman.
Sebuah ide melintas di benak Imbran. Dia bisa menggali barisan lubang yang saling bersilangan di tanah datar di sisi barat hingga membentuk pola sembilan kotak. Kemudian, dia bisa mengosongkan tanah di 9 kotak itu untuk mengalihkan
air laut ke sana.
Klaim
Dengan cara ini, akan ada banyak kolam air laut yang bisa dijadikan tempat budidaya dan sumber kekayaan nya,kelak.
Sementara itu, dari keempat sisi pantai, dia bisa membiakkan beberapa teripang, kerang, dan lain sebagainya.
"Bagaimana? Kalau Tidak ada masalah, kita bisa menandatangani perjanjian serah terima," kata Siren seraya membuka map hijau dan mengeluarkan pena.
Tiba-tiba, sekelompok orang berjalan keluar dari jalan kecil di sisi barat dan berteriak keras, "kalian Tidak bisa melakukan transaksi disini,! Karna kalian belum menyelesaikan masalah kami,!"
Sekelompok orang ini terdiri dari pria dan wanita. Selain itu, juga ada orang tua dan anak kecil. Kulit mereka relatif gelap dan angin laut yang bertiup sepanjang tahun membuat kulit mereka menjadi sangat
kasar dan dekil,
Kelihatannya, orang-orang ini adalah penduduk asli dan nelayan dari Pulau ini.
Orang-orang ini mengepung Imbran dan
Siren, lalu berkata dengan marah, "Biar kuberi tahu, sebelum bisa menetapkan akomodasi kami, kalian jangan berharap bisa melakukan apa pun pada pulau ini."
Ketika Imbran l melihat situasi ini, tangan dia yang awalnya ingin menandatangani dokumen pun seketika berhenti.
"Nona Siren, maaf. Berhubung terjadi hal di luar dugaan ini, aku Tidak Bisa melanjutkan tanda tangan map tersebut."
Siren yang mendengar perkataan Imbran sontak merasa sangat cemas, hingga membuat dia hampir menangis.
"Kami sudah membayar kompensasi. Kalian yang ditipu. Ini Tidak ada hubungannya dengan perusahaan kami."
"Orang yang menipu kami adalah bawahan perusahaan kalian.
"Logika macam apa yang ingin kalian main kan disini,ucap para warga pulau,
Kami Tidak peduli. Pokoknya, sebelum kalian memberi kami uang, kompensasi Kami Tidak akan membiarkan kalian menyentuh apa pun di pulau pasir putih ini!" Seseorang di antara kerumunan Bersuara sangat Lantang,
Imbran juga berasal dari latar belakang keluarga miskin. Ketika melihat situasi para penduduk ini, dia merasa Kasihan Dan paling membenci pembongkaran paksa dan Penggelapan Dana kompensasi.
Jika tanah para nelayan ini direbut dan mereka belum direlokasi, bagaimana para nelayan ini bisa bertahan hidup kelak? Bukankah ini sama dengan memaksa
mereka untuk mati?
Raut wajah Imbran menjadi murung. Dia berkata dengan dingin, "Nona Siren, tolong jelaskan situasi di sini dengan sangat jelas. Kalau Tidak, aku Tidak akan pernah menandatangani Map itu dan kalian juga Tidak akan mendapatkan uang.
__ADS_1
Aku juga bersedia Jika kalian ingin menyelesaikan masalah ini Lewat jalur hukum."
Ekspresi Siren tampak sangat dilema. Setelah ragu-ragu sejenak, dia akhirnya mengatakan kenyataannya.
Ternyata, Perusahaan Real Estat tempat Siren bekerja ingin sepenuhnya mengembangkan tanah ini. Jadi, mereka memberikan kompensasi sebesar enam ratus juta rupiah kepada setiap nelayan. Jumlah nelayan di sini hanya sekitar belasan keluarga.
Namun, penyewa Pulau pasir putih yang sebelumnya melihat bahwa para nelayan mendapatkan kompensasi. Dia berpikir bahwa masa sewanya akan segera berakhir dan disini lah dia ingin mengambil keuntungan.
Di bawah bujukan dan kata-kata manisnya, dia menipu para nelayan dengan menggunakan nama Perusahaan
Real Estat Martha abadi. Setelah berhasil menipu uang kompensasi berjumlah lebih dari tujuh miliar rupiah, dia langsung melarikan diri keesokan harinya.
"Pak Imbran, ini benar-benar Tidak ada hubungan nya dengan perusahaan kami. Para nelayan ini yang mendengar hasutan orang lain sehingga uang mereka ditipu begitu saja."
Ketika Imbran mendengar perkataan Siren, ia seketika menjadi bimbang. Hal ini memang tidak ada hubungannya dengan Perusahaan mereka.
Detik berikut nya Imbran kepikiran sebuah ide yang sangat bagus.
Jika ingin membudidayakan hewan laut, dia tidak bisa melakukannya sendiri dan dia pasti harus merekrut orang.
Sementara itu, para nelayan ini sering berurusan dengan hewan laut sepanjang hidup mereka. Bukankah mereka adalah,
"karyawan yang sudah jadi?
Hanya ada belasan keluarga di sini. Jadi, Dia rasa dirinya sanggup untuk membayar mereka semua.
Dengan cara ini, masalah relokasi nelayan dan juga masalah pekerjanya sudah diselesaikan secara sekaligus.
Mendengar bahwa Imbran ingin membantu mereka menegakkan keadilan, Para nelayan tersebut langsung menunjukkan ekspresi bersemangat.
Tampaknya, pikiran para nelayan ini juga sangat sederhana.
"Total ada 12 kepala keluarga.
uang yang seharus nya dibayarkan perusahaan Siren Total nya tujuh miliar dua ratus juta rupiah Namun Kini uang itu sudah ditipu. dan semua keluarga disini tidak punya apa-apa lagi Jika mereka meninggalkan Pulau ini, bagaimana cara mereka bertahan hidup?"
Di antara para nelayan, seorang wanita tua mulai menangis.
"Nona Siren, para pelayan ini memang ditipu oleh orang lain. Tapi, perusahaan kalian juga harus ikut Andil untuk bertanggung jawab.
Begini saja, aku punya satu saran. Aku ingin tahu apakah kalian bisa menerimanya."ujar imbran
"Kalian berikan aku kompensasi dua miliar empat ratus juta rupiah. Aku yang akan menyelesaikan masalah akomodasi orang-orang ini. Bagaimana?" tanya Imbran secara langsung.
"Kalau begitu, aku harus bertanya pada atasanku dulu. Pak Imbran, tolong tunggu sebentar."
Siren kemudian berjalan menjauh dan langsung menelepon. Dua menit kemudian, Siren mengakhiri panggilan dan berkata, "Perusahaan kami setuju dengan syaratmu. Tapi, kamu harus segera menandatangani perjanjian."
"Oke. Begitu uangnya tiba, aku akan langsung tanda tangan."
__ADS_1
Satu menit kemudian, saldo di rekening bank Imbran bertambah dua miliar empat
ratus juta rupiah.
Imbran juga tidak mengingkari janji dan langsung menandatangani perjanjian serah terima.
"Semuanya, uangnya sudah ada di tanganku. Aku Tidak mungkin bisa memberikan enam ratus juta kepada setiap keluarga. Setiap keluarga paling hanya bisa mendapatkan dua ratus juta."
Sebelum Imbran bisa menyelesaikan perkataannya, seorang nelayan berusia 40-an tahun langsung berkata dengan sangat emosional, "Tidak bisa kau anggap apa kami ini dengan dua ratus juta itu, Setelah meninggalkan Pulau Pasir putih, kami bahkan akan menjadi Gelandangan karna tidak bisa menemukan tempat untuk menetap. Bukankah ini sama dengan memaksa kami untuk mati?"
"Benar! Keluargaku kehilangan pekerjaan, dua ratus juta,
Tidak akan Cukup untuk bertahan hidup Di tempat baru Tolong lah tambah lagi!"
"Semuanya, tenang dulu. Aku belum selesai berbicara." Imbran mengangkat tangannya dan meminta semua orang untuk tenang.
Setelah melihat semua orang kembali diam, Imbran pun melanjutkan, "Dua ratus juta ini bisa dianggap sebagai kompensasi untuk tanah kalian. Lalu, aku Tidak akan mengusir kalian dari Pulau
ini."
"karna aku akan membangun tambak hewan laut di Pulau pasir putih ini dan butuh beberapa pekerja. Kalian bisa bekerja di tambakku. Gaji bulanannya Tidak akan lebih rendah dari delapan juta."
Saat ini, para nelayan sudah terdiam. Delapan juta rupiah! Sebelumnya, setelah berlayar selama berbulan-bulan, mereka paling hanya akan mendapatkan empat
Sampai enam juta itu pun jika mereka hoki,
Sekarang, Pemuda tampan ini malah menawarkan gaji bulanan dengan angka minimal delapan juta rupiah.
"Apa pekerjaan yang kamu katakan ini benar-benar ada?" tanya seorang pria tua dengan penuh semangat dan sangat Antusias
"Tentu saja benar. Selama usianya di antara 18 sampai 55 tahun, aku akan menerima semuanya, Tidak peduli itu pria atau wanita. Tentu saja, aku mau pekerja yang bisa bekerja."
"Kalau kalian setuju, aku akan segera menyuruh orang untuk mencetak kontrak di kota. Setelah menandatangani kontrak, kalian akan menjadi pekerjaku di masa depan," kata Imbran dengan lantang.
"Aku setuju!"
"Syukurlah, aku juga setuju!"
Perwakilan dari 12 keluarga itu tidak ada yang keberatan.
Melihat ini, Imbran menunjukkan ekspresi puas di wajahnya.
Para nelayan ini cukup terampil dalam membudidayakan hewan laut. Hampir semua orang adalah ahli yang berpengalaman di bidang ini.
"Sejujurnya, Imbran yang sangat beruntung karena bisa mempekerjakan mereka yang Sudah PRO"
"Jadi, Nona Siren, apa kamu bisa Menolong ku Untuk pergi ke kota dan mencetak kontrak kerja? Maaf sebelum nya ya karena merepotkanmu," ujar Imbran dengan sedikit tidak enak hati.
"Bisa, tunggu sebentar. Aku akan segera mencetak puluhan rangkap kontrak."
__ADS_1
(To Be Continued)