KEHIDUPAN SEMPURNA

KEHIDUPAN SEMPURNA
Sukarela Menerima Tiga ratus juta Darimu.


__ADS_3

"maaf Pak Imbran, apa kamu menerima pengajuan Pak Toto? Kalau kamu menolak, kamu Harus l menyerah tanpa syarat atas penawaran Lelang ini, Selain itu, depositmu akan dipotong sebesar 10%."


Wanita penanggung jawab penawaran yang berada di atas podium melihat ke arah Imbran.


"Aku terima pengajuannya silahkan."


Imbran kemudian mengeluarkan kartu bank dari sakunya. Staf penawaran tersebut, melangkah maju dan mengambil kartu banknya.


"Semuanya, tolong tunggu sebentar. Saya akan pergi ke bank yang mengeluarkan kartu bank ini untuk mengkonfirmasi saldo di dalamnya apakah memenuhi Syarat Pelelangan Pulau,


dan saya harap Semuanya, bersabar,!!


Setelah mengatakan itu, staf tersebut, langsung pergi meninggalkan ruangan.


"Hmph! Orang yang mengendarai mobil pik-up, dan deposit dua miliar ini seharusnya adalah seluruh tabungan para nelayan tersebut 'kan?" toto mennyindir dan menunjukkan ekspresi menghina.


"Ternyata, mobil pik-up di bawah itu miliknya. Kukira, ada orang yang parkir di tempat yang salah."


"Menurutku, bocah itu seharusnya Tidak punya uang sebanyak itu. Bisa-bisanya dia datang dengan mengendarai mobil pik-up dan mengacaukan harga pelelangan sungguh pria yang sudah putus urat malunya."cerca para hadirin.


"Benar. Kurasa, dia datang untuk membuat onar. Bisa-bisanya dia menawarkan harga senilai lima puluh Lima miliar untuk sebuah pulau terpencil? Dia pasti datang ke sini untuk


membuat masalah."


Semua orang di samping terus membicarakan Imbran. Namun, Imbran sama sekali tidak Peduli. Uang di tangannya jauh melebihi lima puluh Lima miliar rupiah.


"Memang ada orang yang Tidak akan menyerah sebelum menerima ganjarannya."


"Dasar nelayan Miskin yang Tidak punya otak. Setelah perusahaanku mendapatkan Hak di Pulau tersebut, aku akan mengusir kalian semua sehingga kalian hanya bisa menjadi pengemis di jembatan!"


Toto berkata sambil mencibir.pelan


Ternyata, Toto berpikir bahwa Imbran adalah nelayan setempat yang datang untuk membuat masalah.


Tidak lama kemudian, staf penawaran itu kembali ke ruang rapat dan berjalan ke hadapan Imbran.


"Pak, terima kasih atas kerja samanya."


Staf penawaran lelang menyerahkan kartu bank itu, kepada Imbran, lalu berjalan ke atas podium. Dia berkata dengan sikap netral, "Menurut verifikasi Kami dari pihak bank, Pak Imbran sepenuhnya memenuhi kualifikasi untuk mengajukan penawaran ini."


"Lalu, sesuai perjanjian, deposit Pak Toto harus dipotong sebesar 10% untuk diberikan sebagai kompensasi kepada Pak Imbran."


Ketika mendengar perkataan staf Tersebut, raut wajah Toto menjadi luar biasa Suram.


Dia tidak menyangka bahwa Imbran benar-benar bisa mengeluarkan lima puluh Lima miliar rupiah.


Sementara itu, dirinya malah dipotong tiga ratus juta rupiah. Perusahaan pasti tidak akan mau membayar tiga ratus juta


rupiah ini.


"Pada akhirnya, dia harus membayarnya menggunakan uang Pribadi nya.


Tiga ratus juta rupiah adalah gajinya selama tiga bulan.


Memikirkan hal ini, hati Toto terasa sangat sakit.


"Hehe. Maaf ya, Pak Toto. "Saya Imbran dengan sukarela menerima tiga ratus juta darimu."

__ADS_1


"Selain itu, siapa yang menetapkan Aturan bahwa orang kaya Tidak boleh mengendarai mobil pik-up Bawa sini orang nya biar Aku bisikin?" ujar Imbran mengejek seraya tersenyum manis.


Toto yang mendengar ejekan Imbran merasa bahwa kata-kata ini sangat menusuk di telinganya.


"Sekarang, penawaran akan dilanjutkan.


Penawaran tertinggi adalah lima puluh


lima miliar dari Pak Imbran. Apa masih


ada orang yang ingin menawar?" ujar staf


penawaran tersebut.


"Toto ingin terus melakukan penawaran harga. Namun, dana yang diberikan perusahaan hanya lima puluh lima miliar rupiah. Jadi, dia tidak berani menawar lagi.'"


Sementara itu, orang lain juga merasa bahwa harga ini terlalu tinggi untuk mereka dan tidak perlu bersaing lagi. Jadi, mereka pun menyerah untuk menawarkan harga.


Alhasil, Imbran langsung memenangkan penawaran hak kontrak sepuluh tahun atas Pulau Merlion.


Setelah menyelesaikan kontrak dan melakukan pembayaran, staf penawaran itu melangkah maju dan mengulurkan tangannya. "Senang berkenalan denganmu. Saya adalah penanggung jawab proyek ini, Siren Sindera ."


"Saya akan memandu pak Imbran untuk menyelesaikan serah terima kali ini. Perusahaan akan memberikan sebuah


kapal kargo kecil secara gratis kepada pemenang penawaran."


Mendengar ada kapal kargo gratis, Imbran langsung tersenyum. Dia menjabat tangan Siren dan berkata, "Syukurlah, ternyata ada kapal kargo gratis. Kalau begitu, aku Tidak perlu membeli kapal lagi."


"Kalau Pak Imbran ada waktu luang, kita bisa melakukan serah terima sekarang."


"Aku sangat luang sekarang. Ayo, kita


Imbran sudah tidak sabar untuk melihat seperti apa bentuk pulau yang akan menjadi miliknya itu.


"Baik. Kalau begitu, Saya akan pergi bersamamu nanti. Pak Imbran, apa kamu membawa mobil ke sini?"


"Iya, Bawa, Mobil ku ada di lantai bawah."


"Oke.


"Kalau begitu, aku akan pergi bersamamu nanti."


Ketika Siren turun, dia tidak melihat sosok Imbran. Ketika hendak menelepon Imbran, sebuah kepala terjulur dari jendela mobil pik-up di samping.


"Hei, Nona Siren, aku di sini."


Siren melihat ke belakang dan langsung tercengang ketika melihat Imbran yang berada di dalam mobil pik-up.


"Ka-kamu, kenapa kamu mengendarai mobil ini?"ujar Siren tercengang.


"Kenapa? Mobil ini Tidak sepadan dengan statusmu?" ujar Imbran sambil tersenyum.


"Bu-bukan Begitu, Aku hanya merasa aneh. Kamu adalah seorang bos dengan kekayaan puluhan miliar. Kenapa kamu Mau mengendarai mobil ini? Ini Tidak Sesuai dengan identitasmu."


Siren buru-buru meminta maaf, lalu berjalan ke kursi di samping pengemudi, membuka pintu, dan masuk ke mobil.


"Haha, apa mobil ini buruk?

__ADS_1


"Tidak pak"


Tenaganya cukup kuat dan bisa membawa banyak barang. Oh ya kita mau ke mana?"


"kita ke dermaga biru.


Kapal yang diberikan perusahaan ada di sana."


"Ok' Setelah berbasa-basi sebentar


Imbran lalu melajukan mobil pik-up, langsung melaju ke arah Dermaga Biru,


Tidak lama kemudian, mobil diparkir di dekat Dermaga Biru, Siren kemudian menelepon, seorang nelayan dan terlihat Seorang pria dari arah timur berlari kemari.


"Nona Siren, apa kamu mau aku mengemudi kapal lagi?" Nelayan paruh baya itu tersenyum dan berpikir bahwa dirinya bisa menghasilkan uang lagi hari ini.


"Ya, bantu aku untuk mengemudikan kapalnya ke Pulau Pasir putih."


"Oke!"


Nelayan itu langsung berlari ke dermaga tempat kapal diparkir.


Tidak lama kemudian, sebuah kapal kargo


melaju ke arah mereka.


"Ini kapal kargo kecil yang diberikan perusahaanmu?" tanya Imbran dengan Sedikit terkejut.


"Benar. Ini ditinggalkan oleh kontraktor Pulau yang sebelumnya. Ini Tidak berguna di perusahaan kami. Jadi, diberikan kepadamu saja," ujar Siren dengan sangat yakin.


Meskipun kapal kargo ini adalah kapal kargo kecil, panjangnya lebih dari sepuluh meter dan lebarnya lebih dari tiga meter. Bahkan, ruangnya cukup untuk memuat sebuah mobil pik-up.


Jika kapal ini berada di galangan kapal, harganya setidaknya akan mencapai ratusan juta rupiah.


Imbran mengacungkan jempolnya dan memuji, "Perusahaan kalian sangat murah hati sekali."


Kemudian, Imbran dan Siren naik ke kapal.


Nelayan itu segera mengemudi menuju ke laut lepas.


Tidak lama kemudian, sebuah pulau kecil muncul di pandangan Imbran.


"Pulau Pasir putih ini seluas 200 hektare dan permukaan tanahnya datar. Selain itu, letak geografisnya sangat unggul sehingga cocok untuk mengembangkan pariwisata, peternakan, dan lain sebagainya."


Siren terus memperkenalkan kondisi pulau kecil ini. Tiba-tiba, nelayan paruh baya itu berkata, "Nona Siren, dengar-dengar, ada belasan nelayan di Pulau ini yang belum direlokasi. Apa rencana perusahaan kalian terkait orang-orang tersebut,?"


Mendengar perkataan nelayan itu, Siren terlihat sedikit menghindari nya dan terdiam sejenak. Pada akhirnya, dia harus berkata,


"Kompensasi dari perusahaan sudah Di Turun kan. Mereka seharusnya akan segera pindah."


Melihat penampilan Siren, yang Canggung,Imbran samar-samar merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan dari dirinya.


Beberapa menit kemudian, keduanya sudah naik ke Pulau Pasir putih itu.


Permukaan tanah Pulau ini memang sangat datar. Selain itu, di tepi pantai terhampar pasir putih seperti permata. tidak heran pulau ini Di namakan Pasir Putih dan sangat cocok jika Pulau ini dijadikan tempat wisata di daerah Stanfford,


"Namun Pemikiran seperti itu hanya untuk orang lain,"

__ADS_1


Tidak Untuk Kepribadian Imbran Dia kini Bertekad untuk Membudidayakan Hewan Laut Langka Disini,


(To Be Continued)


__ADS_2