
"Namun, sekarang, orang Aneh ini sudah kembali. Salsa langsung merasa sangat kesal Melihat tampang nya.
"Sasa, kita sudah kenal sejak kecil. Begini saja, aku akan berkunjung Ke Rumah mu beberapa Hari lagi untuk mendiskusikan Masalah kita dengan paman Arman, supaya kita Secepatnya bisa bertunangan!" ujar Lanar dengan tidak tahu malu.
"Lanar, sudah berapa kali aku Katakan kepadamu, aku TIDAK akan pernah menyukaimu. Jangan berasumsi sepihak!" jawab Salsa dengan marah.
"Imbran, ayo kita pergi dari sini. Aku akan ajak kamu mengunjungi pasar batu giok Disisi Lain!" Salsa kemudian mengajak Imbran pergi Agar menghindari Lanar,
Pada saat ini, Lanar juga memperhatikan Imbran yang ada di samping Salsa.
"Salsa, ini temanmu, 'kan? Kenapa kamu Tidak memperkenalkannya kepadaku?" tanya Lanar, sambil tersenyum paksa.
Melihat sikap Lanar seperti ini, Salsa merasa sangat Muak.
"Dia ini pacarku. Aku sudah membawanya untuk bertemu keluargaku beberapa waktu lalu Aku harap kamu gak akan menggangguku lagi ke depannya," ujar Salsa dengan spontan.
Mendengar Salsa berkata seperti itu, ekspresi wajah Lanar tiba-tiba menjadi suram. "Ti-tidak mungkin. Bagaimana mungkin dia menjadi pacarmu? Apakah dia pantas? Kamu hanya bisa menjadi milikku seorang!"
Lanar lalu mendatangi Imbran dan berkata dengan dingin, "Bocah kampung, sebaiknya kamu cepat pergi dari sini. Kalau Tidak, aku'
akan bertindak kasar padamu."
Lanar tumbuh dewasa bersama Salsa sejak kecil. Dia selalu menganggap Salsa berada di dalam kendalinya.
Salsa adalah satu-satunya putri dari Keluarga Lunar, Jika Lanar menikahinya, Keluarga Lunar tentunya akan jatuh ke tangan Dia,
Saat itu, Keluarga Grata, akan menjadi keluarga bangsawan terkuat di Stanfford.
Sekarang, Salsa sudah memiliki pacar. Bagaimana mungkin Lanar tidak marah?
Salsa melindungi Imbran di belakangnya dan berdebat dengan Lanar.
"Lanar, atas dasar apa kamu menyuruh Imbran meninggalkanku? Kamu bukan siapa-siapaku," kata Salsa dengan marah.
Mendengar kata-kata Salsa, Lanar menjadi makin marah. Lalu, dia menatap Imbran dengan ganas.
Imbran tidak terbiasa bersembunyi di belakang wanita. Dia kemudian mendorong Salsa dengan lembut, lalu maju dan berkata dengan pelan, "Oh, aku Tidak akan meninggalkan Salsa. Aku ingin tahu apa yang bisa orang kayak kamu lakukan terhadapku!"
"Hmph, jangan Tidak tahu diri. Percaya Tidak, aku bisa menghancurkan keluargamu?" Lanar menatap Imbran dengan dingin.
"Lanar, aku beri tahu ya sama kamu, jangan mengganggu keluarga Imbran. Kalau gak, Keluarga Lunar, kami tidak akan tinggal diam dan kami akan menjadi musuh Keluarga Gratamu, mulai dari sekarang." Salsa tidak bisa berdiam diri dan kini dia sangat marah.
"Sasa, bukan itu maksudku. A-aku Hanya
khawatir dia akan menipu uangmu," ujar Lanar dengan cemas.
__ADS_1
"Itu urusanku, kamu gak perlu mengurusnya!" Salsa membawa Imbran dan langsung pergi.
Ekspresi wajah Lanar sangat suram. Dia mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang, "Halo, aku ingin kamu segera menyelidiki seseorang yang bernama Imbran,yang kini dekat dengan Salsa;!
"Oh ya, pasar batu giok Stanfford dibagi menjadi dua area yaitu timur dan barat. Area barat adalah area khusus judi batu. Ada banyak bos yang suka berjudi batu di sana. Aku akan membawamu ke sana untuk melihatnya."
Sebelumnya, Imbran pernah mendengar sebutan judi batu di pasar. Namun, dia belum pernah melihatnya sama sekali. Sekarang, kebetulan dia bisa pergi untuk
melihatnya.
Keduanya melewati berbagai stan besar. Lalu, mereka berbelok ke sebuah lorong dan tiba di area barat pasar batu giok.
Sesampainya di sini, Imbran menemukan bahwa di sini terdapat banyak kios. Semua kios hanya menjual batu-batu mentah saja.
Kios-kios ini dibagi menjadi dua baris. Di tengah lorong, ada banyak bos yang mengenakan emas sedang memilih berbagai jenis batu mentah,
Sementara itu, di depan tempat pemotongan batu juga berkumpul banyak orang yang melihat proses pemotongan batu.
Sebagian orang tampak bersemangat, sedangkan sebagian orang tampak murung dan depresi.
Mereka yang bersemangat tentu adalah mereka yang nilai batunya naik setelah
dipotong.
"Bagaimana? Apa kamu tertarik untuk Coba bermain?"
Imbran lalu menggelengkan kepalanya dan berkata dengan pelan, "Mana paham aku dengan hall seperti ini? Kita lihat-lihat dulu saja!"
"Ayo, ikut aku. Aku bawa kamu untuk melihat-lihat. Master konsultan perusahaan kami kebetulan sedang menunggu kita di lantai dua."
Usai berkata, Salsa langsung berjalan melewati kios-kios ini dan datang ke sebuah pintu masuk lift.
Di pintu masuk lift, ada dua satpam yang sedang berjaga. Salsa datang ke sini dan memegang sebuah kartu. Lalu, dia menyerahkannya kepada kedua satpam Tersebut,
Kemudian, kedua satpam itu membuka pintu lift. Imbran dan Salsa pun berjalan masuk.
Di lantai dua sedang berlangsung konferensi judi batu saat ini dan terkumpul banyak batu mentah yang baru datang. Hari ini, banyak orang kaya yang diundang untuk judi batu di sini.
Selain itu, hanya mereka yang memiliki kekayaan ratusan miliar yang bisa memenuhi syarat untuk berpartisipasi.
Begitu pintu lift dibuka, Imbran terkejut dengan adegan di depannya.
Level di sini jauh lebih tinggi dari yang di bawah.
Setiap potongan batu mentah tertata di atas rak dan sudah tertera harganya. Setiap batu mentah memiliki nilai minimal ratusan juta rupiah.
__ADS_1
"Wah, Nona Keluarga Lunar, kamu juga datang kesinj. Kenapa kakekmu Tidak datang hari ini?" tanya seorang pria paruh baya kepada Salsa sambil tersenyum.
"Paman Duken, kakekku lagi sibuk beberapa waktu ini, Jadi, dia gak bisa datang dan dia menyuruhku untuk memasok beberapa bahan mentah kembali," ucap Salsa sambil tersenyum.
Di sini berkumpul orang kaya dari seluruh wilayah tenggara. Ada banyak orang yang
mengenal Salsa dan semuanya menyapa Salsa.
Salsa mengangkat ponselnya. Lalu, dia menghubungi sebuah nomor.
Setelah berbicara beberapa kata, ekspresi wajah Salsa sontak menjadi suram. Dia pun langsung menutup telepon dengan wajah kesal.
Melihat kondisi ini, Imbran segera bertanya, "sa, ada apa? Kenapa kamu terlihat muram hari ini?"
"Gawat. Master Farel yang diundang perusahaan kami untuk melihat batu mentah bermasalah. Sekarang, dia bilang gak bisa memberikan layanan untuk Keluarga Lunar kami sekarang."
"Bagaimana ini? Kalau dia tidak ada hari ini, perusahaan kami pasti gak bisa memasok bahan baku mentah. Kalau melewatkan konferensi judi batu hari ini, takutnya besok hanya bisa mendapatkan beberapa bahan sisa dari perusahaan lain."
"Kalau begitu, takutnya cabang perusahaan batu giok kami akan kalah bersaing dengan kompetitor di kuartal tiga dan empat."
Ekspresi wajah Salsa tampak sangat suram.
"Adik Salsa, kenapa kamu terlihat begitu muram?" ucap seorang wanita yang terlihat seumuran dengan Salsa secara sinis.
Melihat wanita ini, sorot mata Salsa menunjukkan sedikit ekspresi jijik.
Kemudian, Salsa melihat seorang pria paruh baya yang berada di samping wanita ini. Ekspresi wajahnya langsung berubah.
"Master Farel, bukannya kamu tadi bilang kamu gak ada waktu? Kenapa kamu
bisa muncul di sini sekarang?"
"Haha, Master Farel tentu gak ada waktu karena dia akan membantu perusahaan kami untuk memilih batu mentah hari ini," ujar wanita itu sambil tertawa besar.
"Alicia, ternyata kamu yang bermain trik di belakang ku. Dasar ****** tak tahu malu!" kata Salsa dengan marah.
"Dunia bisnis sama seperti medan perang. Sedikit trik bukanlah apa-apa!" jawab Alicia dengan sangat bangga.
"Master Farel, mari pergi ke sana untuk melihat apakah ada bahan batu giok yang cocok!"
Alicia membawa Master Farel untuk berjalan menuju batu mentah yang tertata di atas rak dengan langkah sombong.
"Salsa, apa kamu baik-baik saja?" tanya Imbran dengan perhatian.
(To Be Continued)
__ADS_1