KEHIDUPAN SEMPURNA

KEHIDUPAN SEMPURNA
Untung ada Imbran


__ADS_3

Pria itu berlutut di tanah dan mulai memohon ampun.


"Telepon dia sekarang!"


Pria itu tidak berani menolak setelah mendengar permintaan Imbran. Dia buru-buru mengeluarkan ponsel, lalu langsung mencari nomor dan menelepon.


Terdengar suara seseorang dari ujung telepon yang berkata, "Halo, apa masalahnya sudah selesai?"


Suara itu sangat akrab di telinga Imbran. Dia adalah Nathan yang pernah bermasalah dengannya sebelumnya.


Imbran lalu mengambil ponsel dan langsung Mengakhiri panggilan tersebut Raut wajahnya tampak kebingungan


Kenapa malah Nathan bajingan itu,?


Dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu? Jika punya banyak uang, bagaimana dia mau bekerja di tempat Salsa?


Namun, yang tadi itu memang suara Nathan Dia mengira itu Dickiano.


Imbran melihat orang-orang yang terkapar di tanah dengan ekspresi kesakitan, dia lalu menghampiri mereka. Kaki setiap preman itu telah dipatahkan oleh Imbran.


Mereka akan menjadi bencana bila dibiarkan begitu saja. Jadi, lebih baik mengambil kesempatan ini untuk melumpuhkan salah satu kaki mereka sehingga kelak mereka tidak bisa berbuat jahat lagi.


Seketika, itu terdengar suara tangisan yang Bergema di seluruh Gua.


setelah memuaskan Amarah nya dengan menyiksa para preman tersebut,


Imbran segera menghampiri adik nya dan melepaskan tali yang mengikat tubuh Murni Saat ini, Murni masih dalam keadaan pingsan.


Tidak ada bekas luka sedikit pun di tubuh Murni. kecuali bajunya yang sedikit sobek di bagian dada Kelihatannya mereka yang telah membius adik perempuan Imbran.


belum terlalu jauh mengambil resiko Syukur lah, ucap Imbran di hati.


dia lalu membuka jaket nya dan memakaikan nya pada si adik,dengan penuh perhatian,!


Awalnya, Imbran ingin menggunakan kekuatan khususnya untuk memadatkan air spiritual, lalu menghilangkan efek obat biusnya. Namun, Imbran juga cemas Nanti bisa mengejutkan adiknya saat melihat kondisi saat ini. Jadi, dia membatalkan niatan itu.


Imbran mengeluarkan ponsel, lalu hendak menelepon polisi. Tiba-tiba, terdengar suara sirene mobil polisi. Setelah itu, Imbran segera menggendong Murni dan melihat ke bawah gunung. Puluhan mobil polisi parkir di kaki gunung, lalu satu per


satu petugas polisi bersenjata khusus memegang senapan dan mengepung pintu masuk gua.


"Kalian sudah dikepung. Lebih baik kalian Menyerah dan Melepaskan senjata, untuk mendapatkan keringanan hukuman. Kalian tidak akan bisa melarikan diri!" Seorang petugas polisi di depan gua terus memutar ucapannya dari rekaman pengeras suara.


"Pak Polisi, kami sudah aman. Tolong kemari dan tangkap para perampok ini!"


Ujar Imbran berteriak demikian sambil berdiri di mulut gua.


Saat ini, polisi bersenjata yang tidak terhitung jumlahnya mulai menerobos masuk. Seorang petugas polisi yang tampak seperti pejabat tinggi masuk ke dalam gua.


Pria yang terlihat seperti pejabat tinggi itu berusia sekitar 40 tahun. Matanya


Terbelalak, ketika melihat para perampok yang merintih kesakitan di tanah, lalu menatap Imbran dengan kaget.

__ADS_1


Butuh beberapa saat baru dia bisa sadar dan bereaksi. Setelah tiba di hadapan Imbran, dia mengulurkan tangan. "Halo, Saya inspektur polisi di kota ini. Nama Saya Robin, kamu teman dari Pak Lunar 'kan?"


"Halo. Nama Saya Imbran. ya saya Teman beliau" Saat ini, Imbran baru tahu bahwa ternyata Salsa menggunakan relasinya untuk meminta bantuan.


"Kalian sudah bisa pergi. Sisanya serahkan pada kami. Mereka tidak akan lolos begitu saja," kata Inspektur Robin.


"Omong-omong, mereka diperintah oleh seseorang. Aku punya nomor teleponnya dari bandit-bandit itu. Aku mengenal orang itu, namanya Nathan tolong selidiki.


Ya siap;! Jawab Inspektur Robin tegas.


ada sedikit masalah di antara kami beberapa waktu lalu." Imbran kemudian mengeluarkan ponsel yang baru diambilnya dari tangan perampok itu, lalu menyerahkannya kepada Inspektur Robin


"Baiklah, aku pasti akan membawa mereka ke pengadilan."


"Terima kasih." Imbran pun menggendong adiknya. Dan meninggalkan gua, lantas beranjak turun gunung.


Terdengar suara Inspektur Robin di belakang yang bertanya, "Oh, ya. Bagaimana kalau kami antar kamu pulang?"


"Tidak perlu Pak Inspektur Saya bawa mobil."


"oh Oke hati-hati, dijalan" ucap Pak Robin Ramah karna Imbran adalah kenalan Pak Lunar, jadi dia sungkan.


Imbran hanya berlalu tak menggubris lagi.


Tidak lama kemudian, Imbran sudah sampai di kaki gunung. Kemudian, dia meletakkan adiknya di tempat duduk penumpang dan menelepon ke rumah untuk memberi kabar bahwa mereka


sudah selamat.


Kemudian, Imbran mengemudi pulang.


Tidak lama kemudian, Murni yang berada di sebelahnya tiba-tiba tersadar perlahan-lahan. Dia melihat Imbran dan tampak sangat kaget. "Kak, kenapa kamu sudah kembali? Oh, ya. Kenapa aku bisa ada di sini? Bukankah aku datang ke kota dengan ayah?"


Jika dilihat dari penampilannya, Murni sama sekali tidak tahu bahwa dirinya telah diculik. Sepertinya, dia masih belum sempat merespons, tetapi sudah dibius oleh penculik.


Namun, hal ini juga bagus.


Jadi, tidak perlu meninggalkan rasa trauma yang mendalam untuknya.


Akan tetapi, tidak mungkin menyembunyikan hal itu dari dirinya. Bagaimanapun juga, ada begitu banyak orang di desa yang mengetahui peristiwa ini.


"Murni, kamu sudah diculik orang jahat. Untung saja, polisi tepat waktu menyelamatkanmu. Kalau Tidak, konsekuensinya Tidak bisa terbayangkan."


Muncul ekspresi keraguan di wajah Murni.


"Lalu, kenapa aku gak ingat sama Sekali?"


"Kamu pingsan karena obat bius!"


Saat ini, ekspresi Murni tampak sangat ketakutan.


Namun, sifat Murni memang sangat baik. Dia melupakan masalah itu dengan sangat cepat, lalu dia berkata dengan ekspresi bangga, "Oh ya, Kak, sekarang aku sudah diterima di Universitas Stanfford loh. Hebat, 'kan?"ucap nya sambil mengedipkan mata membanggakan dirinya sendiri.

__ADS_1


"oh ya. Nilaiku 50 poin lebih tinggi darimu saat ujian masuk perguruan tinggi."


"Iya, benar. Murni memang yang paling pintar," ujar Imbran sambil tersenyum.


"Oh, ya. Dari mana Kakak dapat mobil


ini?"


"Kakak mu ini sudah kaya. Sekarang, aku adalah seorang miliarder!"


"Huh! Aku gak percaya. Jangan suka Membual!"


Tidak lama kemudian, mereka tiba di rumah sambil bercanda.


Saat itu, penduduk desa mengetahui Imbran telah memberi kabar bahwa mereka baik-baik saja. Jadi, para penduduk desa pun merasa tenang, lalu duduk di depan pintu sambil mengobrol tanpa henti.


Hal yang mengejutkan Imbran setibanya disana adalah Salsa juga duduk di kursi kecil sambil mengobrol dengan ibu-ibu desa.


Sementara itu, Salsa juga tidak tampak seperti nona besar. Dia berbincang dengan sangat riang bersama para ibu-ibu itu.


Saat ini, para penduduk desa melihat Imbran yang kembali bersama dengan Murni, lalu menyambut mereka dengan


hangat.


"Astaga, kalian mengagetkan kami!"


"Untung kalian kembali dengan selamat."


Seorang ibu tua tersenyum kepada Imbran dan berkata, "Imbran, gadis kota yang kamu bawa kembali sangat baik dan Ramah. Kamu harus memanfaatkan kesempatan ini dengan baik."


Wajah Salsa merona merah karena malu setelah mendengarkan hal itu.


Sementara itu, Murni juga membelalakkan matanya dengan sangat penasaran, lalu melihat Salsa dari ujung Rambut hingga ujung kaki. sungguh mempesona ucap nya dalam hati.


Kemudian, Imbran melihat ayahnya. Sekarang, seluruh memar di tubuh ayahnya sudah menghilang. Dia juga sudah berganti pakaian. Kini, kondisinya tampak sangat baik, tidak seperti orang sekarat dan nyaris mati saat tiga jam yang lalu.


"Ayah, jangan cemas. Semua orang jahat itu sudah ditangkap oleh polisi!"


"Selain itu, para penduduk desa, untung ada kalian yang membawa ayahku kembali. Malam ini, kalian semua makan di rumahku. Aku membawa banyak ikan laut segar, Kebetulan semuanya bisa mencicipi makanan Mewah!"


Imbran langsung memasak dua ember Ikan laut yang dibawanya untuk berterima kasih kepada para penduduk desa.


Selagi orang lain tidak memperhatikan, Imbran diam-diam memadatkan air spiritual, lalu menambahkannya ke dalam satu panci makanan laut.


Tiba-tiba aroma harum tercium dari arah dapur.


"Makanan laut yang dibawa pulang Imbran harum sekali. Untung ada Imbran. Jadi, kita bisa ikut mencicipi makanan Mewah!" ujar bibi ketujuh Imbran.


Sementara itu, di dapur...


"Ayah, Ibu, aku ingin berdiskusi dengan kalian. Besok, kalian pindah ke Kota Stanfford untuk tinggal bersamaku. Anakmu ini sudah kaya raya!" kata Imbran kepada kedua orang tuanya sambil mengaduk makanan laut di panci dan sedikit menambahkan bumbu ala kadar nya,

__ADS_1


(To Be Continued)


__ADS_2