KEHIDUPAN SEMPURNA

KEHIDUPAN SEMPURNA
Kebelet Pipis


__ADS_3

Profesi sebagai bintang memang Sangat menjanjikan. Kemungkinan, pendapatan dari tiket konser satu malam ini saja bisa mencapai puluhan miliar rupiah.


Namun, Imbran tidak kekurangan uang sekarang. Dia langsung membeli dua tiket posisi depan dengan menghabiskan lebih dari empat puluh juta rupiah.


"Asyik! Kakak baik sekali membelikan tiket VIP Untuk ku,Aku sayang Kakak!"


Usai berkata demikian, Murni langsung memeluk Imbran dengan sangat gembira.


Malamnya, Imbran dan Murni datang ke tempat konser di Stanfford yang sudah dipadati Para Fans Angela.


Para penggemar yang berkumpul di luar stadion sangat bersemangat dan terus mendorong agar masuk ke depan. Imbran merasa sangat Kesal.


Angela memang layak disebut sebagai penyanyi wanita terpopuler di Masa ini. Para penggemar disini benar-benar menggila di buat nya!


Mereka berdua membutuhkan banyak usaha untuk sekedar melewati gerbang tiket. Setelah tiket mereka diperiksa, Imbran dan Murni langsung memasuki stadion.


Berhubung konser belum dimulai, panggung Hiburan masih kosong. Hanya ada para staf yang sedang menyesuaikan pencahayaan dan mengetes suara mikrofon.


Imbran membeli tiket posisi terbaik yang hanya berjarak lima atau enam meter dari atas panggung.


Di stadion, ada banyak sekali penggemar yang melambaikan spanduk Foto angela di mana-mana. Mereka meneriakkan nama Angela dengan Gila-gilaan.


Imbran merasa gendang telinganya hampir pecah. Jeritan melengking terdengar di mana-mana. Ada pula teriakan seperti Angela, aku mencintaimu, mau kah kamu Melahirkan anak untuk ku!Sungguh penggemar yang sudah putus urat malu.


Para penggemar ini benar-benar energik Sekali.


Imbran berjalan menuju tempat duduknya dan melihat ke belakang. Semua kursi telah dipadati penonton. Katanya, ada puluhan ribu orang yang datang menonton konser Angela hari ini.


Tiba-tiba, Imbran ingin buang air kecil. Jadi, dia segera berdiri untuk mencari toilet.


Namun, Imbran hanya bisa melihat kepala orang-orang. Dia tidak tahu di mana arah toiletnya berada.


"Kak, apa yang kamu lakukan?" tanya Murni sambil menatap wajah Kakak nya yang Terlihat panik.


"Kamu tunggu di sini dulu, aku mau ke Toilet!"


Usai berbicara, Imbran Langsung bergegas keluar dan mencari dimana lokasi toilet.


Setelah mencari cukup lama, Imbran masih belum menemukan toilet. Seiring berjalannya waktu, kandung kemihnya terasa seperti hendak meledak.


"Sialan. Aku tidak tahan lagi!"


Tiba-tiba, Imbran menemukan sebuah pintu kecil. Ada sebuah spanduk yang tergantung di atas pintu kecil itu : "Area belakang panggung adalah tempat penting. Orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk Tulisan Di situ".


Bahkan, ada satpam yang berjaga di depan pintu.


Imbran sudah tidak bisa menahannya lagi. Dia berjalan mendekat dan bertanya, "Hei, Bung, aku sudah sangat kebelet. Boleh tidak aku pinjam toilet di dalam Sebentar?"

__ADS_1


"Tidak boleh, ini area belakang panggung. Tidak ada orang yang boleh masuk!"


Eh...


Sebelum dia selesai berbicara, satpam itu tiba-tiba berseru dengan kaget, "Pak Imbran?"


Imbran melirik satpam itu sekilas, lalu menyadari bahwa satpam itu adalah salah satu orang tua dari para remaja yang menghancurkan dermaganya Waktu itu.


"Pak Imbran, terima kasih untuk waktu itu, ya. Aku benar-benar minta maaf. Anakku terlalu kekanak-kanakan. Untungnya, kamu murah hati dan tidak perhitungan orang nya!"


Satpam itu mengungkapkan rasa terima kasihnya.


Imbran dengan cepat melambaikan tangannya sambil berkata dengan cemas, "Tidak apa-apa Pak. Bisa beri tahu aku di mana toiletnya? Aku Sudah Tidak tahan lagi!"


"Anu... toilet agak jauh dari sini. Begini saja, kamu masuk ke belakang panggung dan belok ke kanan. Tapi, kamu tidak boleh pergi ke tempat lain ya."


Mendengar satpam itu membiarkan dirinya masuk, Imbran tidak memedulikan hal-hal lainnya lagi. Dia buru-buru membuka tirai pintu kecil itu dan bergegas masuk.


Lorong di belakang panggung sangat sempit. Ada beberapa pintu kayu kecil di sisi lorong yang disertai dengan berbagai gantungan penanda ruangan di atasnya.


Ruang kontrol suara, ruang istirahat,


ruang riasan, dan lain sebagainya.


Konser akan segera dimulai setengah jam lagi. Beberapa staf sedang terburu-buru. Jadi, tidak ada yang memperhatikan Imbran.


Namun, ketika Imbran keluar, dia menyadari bahwa dirinya tidak bisa menemukan jalan kembali.


Saat ini, dia tidak tahu apakah dirinya harus berjalan ke kiri atau ke kanan.


Sudahlah, dia ke kanan saja!


Setelah berjalan beberapa saat, Imbran sama sekali tidak bisa menemukan jalan keluar.


Tiba-tiba, dia melihat sebuah pintu kayu kecil yang ditutup dengan tirai di depannya. Pintu itu sangat mirip dengan pintu yang dilewatinya saat masuk tadi. Jadi, dia segera mengangkat tirai itu dan berjalan masuk.


Namun, dia segera menyadari bahwa dirinya salah jalan lagi. Ini sama sekali bukan pintu keluar, tetapi pintu menuju ruang ganti Artis. Ada sebuah meja rias di depan dan sebuah lemari pakaian yang dipenuhi dengan pakaian Mahal berbagai warna. Di atas meja rias itu, seorang wanita sedang duduk membelakangi dirinya.


"Bukankah sudah kubilang aku ingin menenangkan diri dulu sebentar? Cepat keluar. Kalau ada masalah, kita bicarakan setelah konser!"


Imbran berulang kali meminta maaf, lalu bersiap untuk keluar ketika wanita ini berkata, "Tunggu, bawakan pakaian yang


ada di bangku itu. Aku mau ganti Baju dulu."


"Hah?"


Imbran melihat pakaian di bangku di sampingnya sekilas.

__ADS_1


Sepertinya wanita itu mengira bahwa dirinya adalah staf. Kebetulan, Imbran juga ingin menanyakan di mana pintu keluarnya. Jadi, dia buru-buru mengambil pakaian di bangku, lalu menyerahkannya


pada wanita itu.


Ketika wanita ini menoleh ke belakang, Imbran tertegun sejenak.


Wanita itu memiliki wajah yang sempurna. Wajahnya lembut dan halus, bulu matanya lentik, matanya juga besar dan berbinar cerah. Dia terlihat sangat Cantik dan menarik.


Mendadak, Imbran merasa seolah-olah disambar petir. Wanita ini benar-benar cantik.


Wanita itu tampak ketakutan dan bertanya, "Kamu bukan anggota staf di sini. Siapa kamu? Di mana asistenku? Apa maumu?"


"Sat-Satpam!"


Saat wanita itu hendak memanggil satpam, Imbran langsung panik dan buru-buru membekap mulutnya.


Jika staf di sini mengetahui bahwa satpam tadi mengizinkannya masuk tanpa izin, satpam tadi pasti akan kehilangan pekerjaannya.


Satpam itu sudah berbaik hati membiarkan Imbran menggunakan toilet. Dia tidak boleh membiarkan satpam itu dipecat.


"Kakak, aku tidak bermaksud jahat. Aku hanya ingin bertanya di mana jalan keluar dari belakang panggung," kata Imbran tanpa daya sambil membekap mulut wanita itu.


Mendengar pria itu memanggil dirinya kakak, sedikit kemarahan melintas di mata wanita itu.


Namun, mulutnya dibekap oleh pria ini sehingga dia tidak bisa bicara sama sekali.


"Begini, aku akan melepaskanmu. Tapi, kamu jangan teriak, katakan saja di mana


jalan keluarnya, oke?"


Wanita itu buru-buru mengangguk. Kemudian, Imbran pun mengendurkan cengkeramannya.


Tak disangka, begitu dia melepaskan tangannya, wanita itu mulai berteriak lagi.


"Sat..."


Untungnya, sebelum kata-kata itu diteriakkan, Imbran langsung membekap mulut wanita itu lagi.


"Kenapa kamu tidak menepati janjimu?"


"Aku benar-benar datang untuk menanyakan arah!"


Imbran kelabakan saat menatap wanita yang mulutnya masih dibekap olehnya ini.


Jika wanita itu memanggil satpam, dia pasti akan ditahan di kantor polisi karena.


membuat masalah di tempat seramai ini. Satpam yang membiarkannya masuk mungkin Saja akan kehilangan pekerjaannya.

__ADS_1


(To Be Continued)


__ADS_2