KEHIDUPAN SEMPURNA

KEHIDUPAN SEMPURNA
Ide Lobster Kaleng.


__ADS_3

Imbran melirik Dina dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan acuh tak acuh, "Wah, Dina, kamu benar-benar hebat. Dalam satu tahun ini pacarmu sudah ganti lagi!"


Dulu, setelah Dina minta putus dengannya, Selena pergi dengan menaiki mobil seseorang dan pria yang mengendarai mobil itu bukanlah Perdi.


Begitu mendengar perkataan Imbran, raut wajah Dina pun berubah menjadi buruk. Dia berkata dengan marah, "Imbran, apa maksudmu? Kamu gak boleh sembarang mencemarkan nama baikku setelah kita putus!"


"Haha!" Imbran Tertawa mengabaikan mereka berdua dan langsung masuk ke Hotel Harnet.


Lantaran Salsa sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota dan tidak berada di Stanfford, Imbran tidak mengajaknya datang.


Ketika Imbran menekan tombol lift untuk naik ke ruang privat di lantai lima, Perdi dan Dina kebetulan juga masuk ke lift sambil bergandengan tangan.


Setelah keduanya di dalam lift, Dina memberi Imbran tatapan menghina dan mengejek, "Imbran, hari ini adalah reuni teman sekelas kita. Apa kamu enggak bisa berpakaian sedikit lebih bagus? Coba lihat pakaianmu ini!"


Pada saat ini, barulah Imbran memperhatikan pakaiannya. Dia lupa mengganti pakaiannya karena terlalu buru-buru tadi dan pakaian yang.


dikenakannya memang terlihat kotor.


"Sebenarnya kamu enggak perlu datang. Reuni kali ini diadakan di hotel bintang lima dan biayanya akan dibagi rata nanti. Tiap orang setidaknya harus bayar dua jutaan. Sedangkan kamu mungkin gak sanggup mengeluarkan dua juta rupiah sekarang. Untuk apa kamu datang?"


"Huh! Untung aku sudah putus denganmu. Kalau enggak, entah berapa banyak kesulitan yang harus aku rasakan. Aku dengar kamu masih belum dapat kerjaan. Kehidupanmu pasti sangat sulit, 'kan?" ujar Dina sambil tersenyum Mengejek.


"Kehidupanku sekarang sangat baik. Aku Tidak butuh perhatianmu," ujar Imbran dengan datar.


"Memang betul, kita Tidak selevel. Mana mungkin pria kampungan sepertimu layak disandingkan denganku?


Ting tong...


Lift terbuka tepat setelah Dina menyelesaikan perkataannya.


Dina tidak menggubris perkataan Imbran lagi dan kini dia langsung berjalan menuju ruang privat bersama Perdi!


Setelah Perdi dan Dina masuk ke kamar privat bersama-sama, semua orang langsung mengelilingi mereka dan menyanjung mereka dengan sangat antusias.


"Perdi, dengar-dengar kamu jadi manajer personalia di Grup Serikandi, ya? Grup Serikandi ini adalah perusahaan besar. Kalau ada perekrutan karyawan baru, jangan lupa dengan Teman-Teman sekelasmu, ya!"


"Ya, kamu memang yang paling hebat. Kita belum lama lulus, tapi kamu sudah Menjadi manajer!"


Perdi yang mendengar sanjungan semua orang langsung terlihat bangga dan membusungkan dada.


"Itu gampang. Kalau ada perekrutan karyawan baru, aku pasti Tidak akan melupakan kalian semua!"


Dibandingkan dengan sanjungan yang diterima Perdi, keadaan di tempat Imbran kelihatan jauh lebih tenang karena tidak ada orang yang menggubrisnya sama sekali. Bahkan, ada beberapa teman yang samar-samar menunjukkan ekspresi menghina saat melihat Imbran yang berpenampilan Tidak menarik.

__ADS_1


"Jangan-jangan Imbran jadi tukang angkat batu bata karena Tidak berhasil mencari pekerjaan."


"Kabarnya dia kehilangan pekerjaannya. Beberapa waktu yang lalu, dia masih mencari lowongan di grup obrolan."


Beberapa teman sekelas Imbran mulai berbisik. Kelihatan jelas bahwa mereka sedang meremehkan Imbran.


"Baiklah. Ayo, duduk! Jangan berdiri saja!" kata Budi kepada semua orang setelah berdiri.


Semua orang pun duduk. Imbran juga dengan santai mencari tempat duduk, lalu duduk di sana.


Saat ini, Dina langsung duduk di sebelah Imbran!


"Imbran, ini adalah tempat duduk Perdi. Kamu pindah ke sana, gih," kata Dina dengan dingin. Setelah itu, dia menunjuk ke sebuah tempat duduk yang berada di sudut pojok ruangan.


Perkataan Dina ini membuat Imbran kesal. Dia pun melirik Perdi yang berdiri di belakangnya dan berkata dengan santai, "Kalian saja yang duduk di sana.


Terserah aku mau duduk di mana. Kenapa aku harus memberikan tempat dudukku Untuk kalian?"


"Kamu!"


Dina tidak menyangka Imbran akan menolak dirinya dan raut wajahnya pun berubah menjadi sangat tidak enak dilihat.


"Imbran, mereka ini sepasang kekasih. Wajar kalau mau duduk bersama!"


Orang yang berbicara adalah seorang pria. Berhubung Perdi adalah manajer personalia Grup Serikandi, dia pun berusaha menjilat Perdi agar Perdi membantunya masuk ke perusahaan itu.


Dina dan Perdi adalah sepasang kekasih. Apa kamu duduk di samping Dina karena masih ingin mengejarnya kembali?" Beberapa teman sekelas


yang suka cari masalah ikut mengejek.


"Imbran, jangan sampai merusak kesenangan semua orang karena sifatmu yang penuh perhitungan ini!"


Imbran diam saja.


Satu demi satu teman sekelas menuduh Imbran dan menyanjung Perdi.


imbran Terus mendengar ejekan teman-temannya, lalu memandang ke arah Dina dan Perdi yang memasang ekspresi menghina. Dia pun menjadi kesal.


Jelas sekali, kedua orang ini sengaja mencari masalah untuk mempermalukan dirinya!


Namun, Imbran tampak cuek. Dia tidak menghiraukan kritikan semua orang.


"Sudahlah, kita semua adalah teman sekelas. Jangan perhitungan begitu. Ayo,

__ADS_1


sini. Duduklah di tempatku!" Budi membantu Imbran keluar dari situasi yang sulit.


Melihat ketua kelas yang sudah angkat bicara, Dina dan Perdi tidak lagi mengganggu Imbran.


Pada akhirnya, Imbran duduk berseberangan dengan Dina.


Di sisi lain, Budi yang duduk di sebelah Imbran berkata sambil tersenyum, "Kita semua adalah teman sekelas. Jadi, Tidak


usah pedulikan mereka!"


Imbran bisa melihat dengan jelas bahwa Budi tahu Dina dan yang lainnya sengaja mencari masalah dengan dirinya. Imbran berkata dengan datar, "Tidak apa-apa, aku juga Gak tahan melihat wajah mereka!"


Budi adalah orang yang lumayan baik dan juga sangat ramah. Dalam hubungannya dengan sesama teman sekelas, dia juga tidak memandang rendah siapa pun atau memperlakukan orang secara berbeda-beda.


"Oh ya, apa pekerjaanmu sekarang? Kalau kamu memang lagi gak punya kerjaan apa pun, kamu bisa jadi pengawas di pabrik pengolahan makanan milikku. Meskipun gajinya enggak terlalu besar, pekerjaannya lumayan stabil. Anggap saja sebagai masa transisi!" tanya Budi kepada Imbran.


Imbran pun menatap Budi dengan tatapan terkejut. Tidak disangka, ketua kelas yang terlihat biasa-biasa saja ternyata hebat sekali. Mereka belum lama tamat kuliah, tetapi dia sudah memiliki pabrik.


"Terima kasih. Aku juga sedang melakukan beberapa hal sekarang."


Imbran yang melihat Budi benar-benar ingin membantu dirinya mengungkapkan senyum penuh terima kasih, lalu menolak sambil menggelengkan kepalanya.


"Tapi, kamu hebat sudah punya pabrik sendiri. Seperti yang bisa diharapkan dari ketua kelas!" puji Imbran sambil tersenyum.


"Huh, aku hanya mengembangkan sejumlah makanan kaleng saja. Tapi, keadaan pasar sekarang juga gak terlalu bagus. Jadi, aku Tidak menghasilkan terlalu banyak uang!"


Makanan kaleng?


Mendengar ucapan ini, mata Imbran langsung berbinar. Imbran tiba-tiba punya ide untuk mengurus masalah lobsternya.


"Budi, aku mungkin butuh bantuanmu!" kata Imbran dengan penuh semangat.


"Katakan saja. Kita adalah teman sekelas, sudah sepantasnya saling membantu!"


"Oke, di mana pabrikmu? Aku akan


datang ke sana besok!"


Mendengar kata-kata Imbran, Rudi mengira bahwa Imbran ingin pergi bekerja di pabrik pengolahan makanan miliknya. Dia pun segera memberitahukan sebuah alamat pada Imbran. "Ada di lingkaran pertama pinggiran Kota Stanfford. Kalau sudah sampai, langsung telepon aku saja."


"Oke!"


Imbran tersenyum. Jika lobsternya yang enak itu dibuat menjadi makanan kaleng, pasti akan laku keras.

__ADS_1


Jika usaha tambaknya sudah berjalan lancar kelak, dia bisa langsung mengolah hasil tambak yang tidak terjual habis menjadi makanan kaleng!


(To Be Continued)


__ADS_2